Bab 60 Menyatakan Dengan Keras

"Hidangan sudah datang, duduklah dan temani aku makan." Efa hampir lupa bahwa saat itu karena dia ingin menggunakan Carlson untuk menyebar rumor makanya memainkan drama itu, dia merasa sedikit bersalah karena menyalahkan Rory.

Keluarga Efa tidak pernah ada aturan pemilik dan bawahan boleh makan di meja yang sama, Rory tidak berani melakukan hal ini, jadi dia berdiri diam: "Nona, kamu makanlah dengan perlahan, aku akan pergi makan nanti."

"Apanya yang nona, sekarang aku suruh kamu duduk dan temani aku makan maka patuhi perintahku." Efa sudah mengambil sendok dan mulai makan, bahkan berbicara sambil makan, "Lagipula, begitu banyak makanan yang begitu lezat, aku juga tidak bisa menghabiskannya sendiri, sayang jika tidak dimakan."

Rory kembali mengingatkannya di samping: "Aturan keluarga, tidak boleh berbicara ketika makan. Jika kamu yang seperti ini dilihat oleh Tuan muda maka kamu harus belajar etiket lagi."

Efa hampir saja mati tersedak karena kata-kata Rory, di dalam keluarganya memang ada aturan, tapi sekarang dia tidak berada dalam rumah, apakah dia masih harus mematuhi aturan itu?

Bola matanya yang kelam berputar, berkata dengan mengancam: "Jika kamu berani mengungkit aturan keluargaku lagi, aku akan mengirimmu ke Afrika."

Melihat Rory akhirnya menutup mulutnya, Efa dengan puas memakan makanan enak dan lezat, setiap suapannya sangat harum.

Memang kenapa jika Carlton sangat hebat, apa dia masih bisa mengaturnya seumur hidup. Kemudian akan ada berbagai jenis wanita yang sedang menunggunya.

......

Sudah beberapa hari tidak menandatangani proyek kerja sama baru, Teknologi Inovatif diselimuti kabut yang belum pernah terjadi sebelumnya, semua orang khawatir, masa depan tidak pasti, mana mungkin ada hati untuk bekerja.

Nisha tidak berada di kantor, seluruh divisi bisnis menjadi malas, tidak banyak orang yang bekerja dengan baik.

William sedang menelepon, sepertinya dia telah memiliki pacar, "Aku merindukanmu, aku mencintaimu," dan kata-kata cinta lainnya terdengar di telinga, Ariella yang berada di sampingnya bergidik ketika mendengarnya.

Lindsey dan Helen duduk bersama dan sedang melihat sosial media, kedua orang itu berbicara dengan keras sambil melihat sosmed, sepertinya sudah lupa bahwa itu sekarang adalah jam kerja.

"Ternyata Carlton dari Aces berwajah sangat tampan, tapi wajah ini terlalu tegas, tidak seperti pengusaha, lebih seperti seorang prajurit."

"Carlton memang sangat tampan, tapi masih sedikit lebih buruk daripada Presdir kita. Tapi mereka memang memiliki wajah yang sangat menarik."

"Carlton kelihatannya sangat tegas, tapi banyak yang mengatakan di sosmed bahwa dia sangat mesum, terlalu jauh dari standar dibandingkan dengan Presdir yang hanya setia kepada istrinya."

Lindsey dan Helen sedang berdiskusi satu sama lain, membicarakan pandangan mereka tentang kedua orang itu, dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa Carlton yang ada di foto itu bukanlah Carlton yang asli, itu hanyalah gosip yang disebar oleh Efa, sengaja dibesarkan.

Setelah Carlton datang ke Kota Pasirbumi, setiap harinya berita besar dan kecil pasti terkait dengannya, walaupun Ariella tidak memperhatikan, tapi dia juga mendengar banyak berita.

Misalnya, sudah sukses sedari muda, membunuh dan menjadi kaisar bisnis, pecinta wanita, jadi wanita seperti pakaian, berganti setiap harinya...

Sejujurnya, orang yang memiliki posisi tinggi benar-benar banyak cobaan, tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ariella yang hanya warga biasa ini.

Hanya saja, setiap hari Ariella melihat berita mengenai orang ini kemudian dia akan teringat banyak peristiwa masa lalu - mengapa Ivander tidak begitu bersinar seperti ini dulunya, dan dibicarakan seperti ini?

Tapi akhirnya? Bahkan jika memikirkan situasi saat itu, hati Ariella masih tidak bisa menahan perasaan sedih yang tak tertahankan.

Kekuasaan, uang, status, reputasi ... Dia hanyalah orang biasa, tidak meminta hal-hal ini, dia yang sekarang, hanya ingin hidup tenang dengan Carlson, tenang, seumur hidup.

Memikirkan Carlson, bibir Ariella secara tidak sadar tersenyum dengan manisnya.

Jelas-jelas sama-sama pria, dibandingkan dengan kehidupan rumit Carlton itu, Carlson-nya benar-benar seperti seorang pertapa. Memikirkannya, mereka satu ranjang sudah sekian lama, tapi tidak ada yang terjadi sejauh ini ...

Jika serius membicarakannya, Ariella bisa merasakan keinginan Carlson setiap malam.

Di malam yang tenang, berbagi ranjang, bahu-membahu, bahkan suara nafas saja terdengar sangat jelas ...

Sesekali bergesekan, disengaja, atau tidak disengaja, akan selalu ada percikan api yang tersebar, berusaha untuk bersinar di malam yang gelap.

Dan pada saat itu, Ariella bisa mendengar dengan jelas, nafas Carlson yang berubah menjadi berat, dan juga detak jantungnya sendiri yang semakin kacau.

Ariella tidak bisa mengatakan sebenarnya pemikirannya seperti apa, tampak seperti keinginan, tapi dia juga tidak berani.

Kemunculannya yang tiba-tiba dan tepat waktu, memberi warna dalam kehidupannya yang suram ...

Tapi karena begitu tiba-tiba, kebahagiaan yang tiba-tiba seperti ini yang membuatnya tidak tenang.

Apakah ini hanya sebuah mimpi?

Bahkan meskipun napasnya yang berat berada di sampingnya, detak jantungnya sendiri yang bertambah cepat juga sama nyatanya, bahkan jika dia melafalkan namanya di tengah malam berulang kali, itu semua masih tidak cukup untuk memberikan keberanian bagi Ariella untuk menerima kenyataan mendadak ini.

Terlebih lagi, di sekitar mimpi itu ada Ivander yang memegang senjata di hadapannya, dengan dalam menunjukkan bekas lukanya, menertawakan kekanakannya.

"Carlson." Memikirkan Ivander, Ariella tidak bisa menahan mengucapkan dengan lembut nama yang sering dia ucapkan ini.

Dengan tersenyum Ariella melafalkan nama ini, begitu singkat, tapi malah memberikan kepercayaan diri yang besar bagi Ariella, seolah-olah ketika mengucapkannya dia memiliki dunia.

Zzzt zzzt——

Ini adalah jawaban dari panggilan Ariella, ponsel yang diletakkan di atas meja tiba-tiba bergetar, membuat Ariella terkejut hingga tangannya yang memegang mouse bergetar, seketika dia kembali tersadar.

Apa yang dia pikirkan selama jam kerja?

Ariella dengan kesal mengangkat telepon dan melihatnya, panggilan telepon dari Carlson, mengangkatnya kemudian mendengar suara seksi dan enak didengar milik: "Sedang apa?"

"Ti, tidak sedang apa-apa." Suara Carlson sangat rendah dan indah.

"Oh?"

Suara rendah dengan satu suku kata seperti itu yang paling mengerikan, nada dengan satu suku kata, malah membuat jantungnya berdetak kencang.

Ariella seketika merasa malu, tidak bisa menaham wajahnya yang memerah, tapi berpura-pura dengan tenang berkata: "Kenapa?"

"Nyonya Carlson, sudah waktunya makan." Orang di sisi lain telepon berkata dengan tenang, nada suaranya itu tenang, tapi Ariella malah mendengar sedikit senyum dalam kata-kata tenangnya itu.

Dia memanggilnya Ny. Carlson.

Sangat serius, tapi tidak terlalu serius.

Aku tidak bisa menahan kemudian tertawa, matanya bersinar dengan cerah, nadanya juga menjadi sedikit ceria: "Siap, Tuan Carlson."

Kemudian, orang di ujung telepon itu hening. Ariella tiba-tiba merasa sedikit gugup, berpikir bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang salah, tepat ketika dia ingin menjelaskan, suara rendah dan indah itu terdengar lagi di telepon.

"Apa kamu ingin pergi bersama?"

Ketika dia berbicara, ada semacam kelembutan dalam suaranya yang belum pernah dirasakan oleh Ariella sebelumnya, dan juga sangat berhati-hati.

Carlson sedang menunggu jawabannya.

Carlson berharap Ariella menyetujuinya.

Ariella berpikir.

Ariella benar-benar ingin tidak peduli pada apapun dan datang ke samping Carlson, tidak ingin mempedulikan pandangan orang lain, ingin mengumumkan dengan suara keras - Aku adalah istri Carlson.