Bab 59 Memikirkan Masa Depan Keluarga Tanjaya

Ivander menatap dan menilai Efa untuk waktu yang lama, gadis muda ini seharusnya tidak berani untuk bermain-main dengannya.

"Uang ini bisa kuberikan padamu, tapi jika kamu berani berbuat macam-macam..." Mengatakan sampai sini, mungkin ada hal yang lebih tak terduga.

Ivander memberi isyarat memanggil asistennya, mengeluarkan cek dan menulis sejumlah 1 M, "Sekarang kamu bisa mengatakannya."

Efa bangkit dan duduk di sebelah Ivander, berpura-pura misterius: "Kuberitahu padamu, Carlton sebenarnya orang yang sangat mesum. Dulu pernah menghabisi nyawa dua orang. Tentu saja berita ini diblokir oleh keluarganya, tidak mungkin disebarkan keluar."

"Apa yang telah dia lakukan, aku tidak ingin tahu, aku hanya ingin tahu bagaimana cara untuk menemuinya, dan juga wanita seperti apa yang dia sukai." Efa mendekat, Ivander mundur, ingin sekali menutup hidungnya, tidak ingin mencium bau blush on di tubuhnya.

"Seorang pria, tentu saja menyukai wanita cantik." Efa berpikir sejenak, "Dia akan menghadiri pesta amal dalam dua hari ini, kamu bisa pergi menemuinya."

Tidak peduli apakah Ivander percaya atau tidak, Efa melanjutkan: "Kamu jangan berpikir bahwa Carlton adalah anggota keluarga dari pemilik Group Aces maka dia sangat hebat dan menakjubkan."

"Pada saat tertentu, dia juga hanyalah pria biasa. Pria sudah pasti memiliki gairah. Tapi jika dibicarakan meskipun Carlton pada saat tertentu adalah pria biasa, tapi dia juga bukan pria biasa yang normal, permintaannya terhadap wanita secara alami lebih tinggi dibandingkan orang biasanya. "

Sama sekali tidak memberi Ivander kesempatan untuk berbicara, Efa berhenti sejenak kemudian melanjutkan: "Selain berparas cantik, juga sangat penting untuk memiliki aura. Jika Tuan Ivander bisa menemukan wanita dengan wajah dan aura seperti itu dan mengirimkannya padanya, maka ini sama saja dengan memasukkan banyak uang ke dalam kantongmu. "

"Jika kamu benar-benar dapat menemukan yang tepat, cari saja yang seperti diirku, cari yang cantik seperti diriku, kujamin itu akan berhasil."

Efa mengucapkan banyak kata, tapi Ivander hanya mengingat beberapa kata kunci, yaitu-- makan malam amal, dan juga wanita dengan wajah dan aura yang baik.

"Wanita dengan aura..." Ivander berulang kali mengucapkan kata-kata ini, dalam benaknya tanpa sadar memunculkan sosok Ariella yang ramping.

Meskipun Ariella yang sekarang tidak seceria yang dulu, tapi ada semacam kedewasaan yang dipoles dan terakumulasi oleh waktu.

Jika dikatakan bahwa Ariella adalah bunga yang menunggu untuk mekar, maka Ariella yang sekarang sudah mekar dan berdiri dengan bangga.

Ariella yang seperti itu, Ariella yang begitu dewasa dan cantik ... malah bukan miliknya.

Tadi, Ariella seharusnya miliknya, dia juga seharusnya hanya milik Ariella!

Jika bukan karena tekanan dari orangtuanya saat itu, jika bukan karena Carlson yang menyelanya, bagaimana mungkin dia tidak bisa mendapatkannya? Bagaimana mungkin!

Memikirkan hal ini, Ivander mengepalkan tinjunya dengan erat, ekpresinya menunjukkan niat ingin membunuh.

Sekarang, dia sudah bukan remaja yang tidak berguna ketika menghadapi kekuatan tak terkendali milik orangtuanya, dan dia tidak akan membiarkan orang lain menindas Ariella-nya, dia harus mendapatkannya! Jika tidak bisa mendapatkannya ... maka hancurkan dia.

Setelah memikirkannya, Ivander melonggarkan kepalan tangannya, tersenyum pada wajah Polaris yang dipoles dengan aneh, kemudian berkata: "Apakah kamu yakin Carlton akan menghadiri jamuan amal?"

Dia tersenyum sangat cerah, tapi dia juga sangat mengerikan. Efa merasakan aura dingin, entah kenapa dia jijik.

Carlton juga sering mengeluarkan senyum yang tidak jelas seperti ini, tapi di balik senyum itu selalu ada cahaya percaya diri, melihat senyum itu, tidak bisa menahan diri untuk tidak menyembahnya ...

Tapi melihat senyum Ivander, mengapa bisa begitu berbahaya dan licik, dan juga ada sedikit kesengsaraan?

Hati Efa merasa agak dingin, hanya ingin bergegas pergi dari musang menjijikkan ini, jadi dia dengan cepat menarik senyum di bibir merahnya, tersenyum dan berkata: "Aku berani mengambil uang dari Tuan Ivander, tentu saja aku sangat yakin, apakah aku yang seorang aktris kecil berani macam-macam di depanmu? "

Melihat Efa yang begitu yakin, Ivander kembali berpikir.

Beberapa hari terakhir, dia memang mendengar bahwa memang ada yang akan menjadi tuan rumah acara makan malam amal di Kota Pasirbumi ini, tapi dia tidak mendengar bahwa Carlton dari Aces juga akan berpartisipasi.

Jika benar seperti yang gadis kecil berambut kuning ini katakan, maka dia memiliki cara untuk menemui Carlton, dapat menemukan cara untuk membuat Aces bekerja sama dengannya.

Demi rencana ini, dia harus mencari beberapa wanita untuk menyenangkan Carlton. Hanya saja tidak tahu apakah si bodoh Yadi sudah menemukan kandidat yang tepat atau belum?

Melihat Ivander yang tidak merespon untuk waktu yang lama, Efa bertanya dengan sangat tidak sabar: "Tuan Ivander, sebenarnya kamu puas atau tidak dengan berita ini?"

Ivander menatap Efa untuk waktu yang lama, mencoba melihat jejak informasi lain di wajahnya yang dipoles dengan tebal itu.

Bagaimanapun dilihat, wajah Efa hanya penuh dengan ketidaksabaran, tidak ada informasi lain. Setelah memikirkannya lagi dan lagi, dia hanya bisa bangun dan berkata: "Kalau begitu kamu makanlah dengan perlaham, aku pergi dulu. Jika hal ini berhasil, aku akan membayar lebih padamu."

"Tuan Ivander, jangan lupa untuk membayar tagihannya ketika pergi." Efa melambaikan tangannya ke arah Ivander dengan memegang cek, tersenyum dengan sangat lebar, seperti seorang gadis kecil yang mencintai uang.

Ketika Ivander pergi, Efa sangat senang hingga berputar-putar.

Carlton adalah pria kuno yang kolot, jelas-jelas terkenal, dan juga merupakan kaisar kerajaan bisnis, tapi melewati hidup dengan membosankan seperti itu, dengan sangat murni.

Dia hidup selama lebih dari 20 tahun, punya pacar tiga atau empat tahun yang lalu, berpacaran sekitar satu atau dua bulan, tapi bertemu kurang dari dua kali, akhirnya, wanita itu meninggalkannya karena dia tidak bisa sering menemuinya.

Efa sangat curiga, apa karena kakaknya yang bodoh tidak tahu bagaimana cara memuaskan wanita itu, sehingga menyebabkan calon kakak iparnya itu kekeringan dan mati.

Memikirkan masa lalu, Efa sedih untuk Carlson, jika dalam kehidupan ini tidak ada wanita yang menyukainya, dan juga jika dia tidak mengambil inisiatif untuk mengejar wanita, takutnya garus keturunan keluarga akan putus di tangan kakaknya.

Memikirkan itu, dia menyebarkan desas-desus ... Itu demi melanjutkan garis keturunan keluarganya.

Rory yang berada di sebelah Efa sudah tidak bisa menahannya lagi: "Polaris, jika Tuan muda tahu kamu membuat masalah seperti ini, dia pasti akan mengikatmu dan mengirimmu kembali ke Amerika."

Jika Rory tidak menyebutkan hal ini maka baik-baik saja, ketika menyebutkannya Efa malah menjadi marah: "Rory, kamu masih berani mengungkit masalah ini. Terakhir kali jika bukan karena kamu yang memberitahu Carlson, bagaimana mungkin dia bisa menangkapku?"

"Polaris, terakhir kali jelas-jelas kamu yang menyuruhku untuk meneleponnya, kenapa sekarang menyalahkanku." Masalah sebelumnya itu jelas-jelas Efa yang ingin menggunakan Carlson membuat berita gosip untuk dilihat oleh pria itu.

Dalam beberapa hari ini, gadis itu menolak untuk mengakuinya, dan melemparkan tanggung jawab kepadanya, memikirkannya Rory benar-benar difitnah.