Bab 57 Memperlakukanmu Dengan Baik

Pandangan mata Carlson di bawah kacamata berbingkai emas itu memicing, berkata dengan suara berat: "Masukkan nomor orang itu ke dalam daftar blacklist, lain kali kamu tidak boleh lagi menjawab telepon darinya, tidak boleh bertemu dengannya lagi."

Carlson khawatir dengan Ariella gadis bodoh ini, sudah dilukai dengan sangat dalam oleh orang lain tapi masih tidak bisa melupakannya, jadi dia harus membantunya dengan tegas memotong perasaan yang seharusnya tidak dipertahankan itu.

Kata-kata Carlson sangat amat posesif, tapi Ariella tidak membenci perkataan yang diucapkan dari bibirnya itu, mengeluarkan ponselnya dengan patuh dan memasukkan nomor ponsel Ivander ke dalam daftar blacklist.

Setelah memasukkan ke dalam daftar blacklist, Ariella menyerahkan ponsel untuk dilihat oleh Carlson: "Ini, sudah aku masukkan ke dalam daftar blacklis. Aku tidak akan menemuinya lagi di kemudian hari."

"Hmm." Carlson menatap Ariella, pandangan mata di bawah bingkai emas itu memancarkan cahaya yang tidak mudah dideteksi, "Tadi aku melupakan satu hal, sekarang aku ingin menambahkannya, tidak tahu apakah boleh?"

"Hal apa? Apa perlu bantuanku?" Ariella tidak tahu apa hal yang dimaksud oleh Carlson, dengan bodohnya bertanya.

"Sangat membutuhkan bantuanmu." Carlson mendekat pada Ariella, bibirnya melengkung naik, langsung memegang kepalanya.

Ariella sedikit marah: "Carlson, permainan kekanakan seperti ini cukup dimainkan satu kali saja, jika dimainkan lagi benar-benar amat sangat kekanakan."

Ariella berpikir bahwa Carlson hanya berpura-pura ingin menciumnya, sama sekali tidak akan menciumnya, kemudian perkataannya belum selesai diucapkan, dia sudah langsung dicium oleh Carlson dengan kasar.

Bibir dan gigi saling terjerat, nafas mreka saling menyatu ... Semakin Carlson mencium dia makin posesif, makin Carlson mencium semakin dia menggunakan tenaga, tampaknya ingin menelannya Ariella ke dalam perutnya.

Tubuh Ariella lemas, kedua tangan memegang sudut pakaian Carlson dengan sangat erat, Ariella bersedia dibawa oleh Carlson ke dunia mimpi yang baru.

Namun ciuman yang panas ini terhenti, Ariella masih berada dalam kehangatan ciuman sengit itu, Carlson malah sudah melepaskan Ariella dari pelukannya.

Carlson menyeka bibir Ariella dengan ujung jarinya di depan wajahnya: "Aku harus melanjutkan kerjaanku, istirahatlah lebih awal."

Ariella tercengang di tempat, butuh waktu lama untuk kembali tersadar: "Apa-apaan orang itu, setiap kali selalu seperti ini."

Ariella akhirnya mengerti bahwa hal yang dilupakan Carlson yang dia sebut tadi adalah Carlson tidak menciumnya ketika dia kembali dari perjalanan bisnis hari ini.

Dia mengatupkan bibir yang masih terdapat jejak Carlson, hati Ariella tiba-tiba khawatir, bisakah waktu hangat di antara mereka berdua ini terus berlanjut tanpa batas?

Selama Ivander berada di Kota Pasirbumi, maka urusan perusahaan tidak akan dapat ditangani dengan baik, hati Ariella selalu tidak tenang.

Ariella sangat takut bahwa hari-hari yang hangat seperti ini akan dirusak oleh orang lain dan segalanya akan kembali seperti awal.

......

Di sebuah hotel bintang lima di Kota Pasirbumi, di dalam suite mewah, Ivander sangat marah hingga merusakkan beberapa ponsel.

Kemarin malam, Ariella tidak hanya menutup teleponnya, tapi dia bahkan menariknya ke dalam daftar blacklist, apakah dia tidak memberinya peluang sama sekali? Seumur hidup ini apakah dia hanya bisa melihat wanitanya menjadi wanita milik Carlson?

Tidak! Tidak! Tidak!

Ivander berteriak dalam hatinya, dia tidak akan pernah membiarkan Carlson mendapatkan keuntungan darinya, dia pasti akan merebut Ariella kembali.

Jika Ariella terobsesi padana, maka dia dia tidak mengesampingkan beberapa cara, tidak akan membiarkan Carlson mengambil keuntungan darinya.

Carlson tidak layak, dia tidak berhak.

"Yadi!" Ivander berteriak keras. Setelah selesai berteriak dia baru teringat bahwa Yadi ditangkap dan dipenjara, dia bahkan tidak bisa mengeluarkannya, memikirkannya membuatnya sangat amat benci.

Orang yang mengambil alih tugas Yadi berlari masuk: "Tuan Ivander, apa ada yang ingin kamu perintahkan?"

"Apa kamu sudah membuat janji dengan aktris yang bernama Polaris?" Terlepas dari apakah aktris itu adalah wanita Carlton apa bukan, selama ada kemungkinannya walaupun sekecil apapun maka Ivander tidak akan melepaskannya.

Pria yang menggantikan pekerjaan Yadi bernama Harmon, Ayah Ivander, Marsh yang mengirimnya kemari untuk Ivander, menjalankan pekerjaan jauh lebih baik daripada Yadi, tidak seperti Yadi yang tidak takut mati itu.

Dia berkata: "Tuan Ivander, orang itu telah berjanji untuk menemui kita, tapi tempat pertemuan dipilih olehnya, kita harus melakukan perjalanan sekitar setengah jam untuk sampai di sana."

Ivander melangkahkan kaki kemudian pergi: "Ayo segera pergi."

Membuang-buang waktu, dia sudah tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Carlton, ingin mendapatkan kerja sama secepat mungkin, ingin memberikan kontribusi dengan sesegera mungkin di hadapan Ayahnya.

"Ivander ..." Sampai di lobi hotel, sebuah suara lembut memanggil nama Ivander.

Ketika mendengar suara itu, Ivander berbalik, alisnya berkerut sesaat: "Kondisi tubuhmu tidak begitu baik, tidak beristirahat di rumah, siapa yang membiarkanmu berkeliaran di sini?"

"Ivander." Wanita itu melangkah maju ke arahnya, menggerakkan tangannya membantunya merapikan jasnya, "Kamu keluar begitu lamanya, orang-orang di rumah sangat mengkhawatirkanmu, jadi Ayah memintaku untuk datang dan menjagamu."

"Kamu tidak harus datang untuk melayaniku, pergilah istirahat, aku masih punya urusan untuk ditangani." Ivander meraih tangannya, nada suaranya masih tergolong lembut.

"Ivander, sebenarnya aku tahu apa tujuanmu yang sebenarnya datang ke Kota Pasirbumi." Wanita itu tersenyum getir, suara yang dikeluarkan dari bibirnya yang kecil itu lebih lembut dan menyenangkan untuk didengar, dan ekspresinya juga sangat menyenangkan.

"Tahu apa kamu?" Kata Ivander dengan nada tidak baik.

Karena dia selalu bisa melihat bayangan Ariella di tubuh wanita ini, setiap kali dia tidak tega mengatakan kata yang terlalu kasar padanya.

"Ivander, aku tahu aku tidak berguna, aku tidak bisa membuat anak kita datang ke dunia ini, dan lagi sudah tidak bisa ..." Ketika berbicara sampai sini, mata wanita itu bergelinangan air mata, tetesan air mata jatuh dari sudut matanya, terlihat sangat menyedihkan.

"Mengapa kamu menangis? Aku tidak menyalahkanmu." Ivander menunjukkan ekspresi tidak berdaya, mengulurkan tangan memeluk wanita itu.

Wanita itu mendongak dari pelukan Ivander, mengerjapkan mata besar yang berair itu, bibirnya sedikit terbuka: "Ivander, kamu adalah anak tertua, tidak boleh tidak memiliki anak sendiri, jadi cara apa pun yang ingin kamu gunakan, aku bersedia membantumu."

"Elisa, kamu, apa yang kamu katakan itu benar? Bahkan jika orang itu adalah ..." Ivander senang dan terkejut, tapi setelah sukacita dia merasa bahwa itu sudah seharusnya, siapa yang menyuruh wanita ini keguguran dan tidak dapat lagi hamil, dia tidak mampu melahirkan ketuurnan untuk keluarganya, jangan menyalahkannya jika pergi mencari orang lain untuk mendapatkan keturunan untuk keluarganya.

Elisa masuk ke dalam pelukan Ivander: "Ada beberapa hal yang di mana jika kamu yang melakukannya maka hasilnya tidak akan baik, jika aku yang pergi mungkin akan mendapatkan hasil yang berbeda. Sifatnya itu, aku yang sebagai kakaknya lebih memahaminya."

"Maksudmu ..." Ivander tidak berani percaya bahwa apa yang dikatakan Elisa sama dengan apa yang dia pikirkan dalam hatinya, jika benar begitu maka kemungkinan Ariella kembali kepadanya akan menjadi lebih besar.

"Aku akan meluangkan waktu untuk menemui Ariella." Elisa melempar sebuah bom, yang dapat dengan kuat memegang Ivander di tangannya.

"Elisa, kamu sangat baik padaku!" Ivander memeluk Elisa erat-erat, seolah-olah dia sedang melihat Ariella melambai padanya.

Dia mencium dahi Elisa: "Elisa, selama kamu bisa dengan sukses membantuku mengenai hal ini, aku akan memperlakukanmu dengan baik di kemudian hari."