Bab 45 Cacing Di Dalam Kepala

Ariella diam-diam menatap Carlson, dia mengenakan jubah tidur putih, tali di pinggangnya diikat dengan asal, dadanya agak terbuka, dadanya yang berwarna gandum itu bisa terlihat, tidak tahu apakah dia mengenakan sesuatu dalam jubahnya itu?

Memikirkan hal itu, Ariella menelan air liurnya.

"Kenapa?" Melihat pandangan menilai Ariella, Carlson mengangkat alisnya, bertanya dengan sedikit lucu.

Suara rendah dan seksi Carlson masuk ke telinga Ariella, mengganggu gambar yang indah di benaknya.

Ariella terkejut dirinya ketika melihat Carlson dapat membayangkan adegan yang begitu aya, wajahnya seketika terasa panas.

Dia merasa bahwa dia tidak punya muka untuk melihat siapa pun, dengan cepat membalikkan punggungnya: "Aku mau tidur."

Carlson menempel di sisi Ariella, mengulurkan tangannya memeriksa dahi Ariella, kemudian mendekatkan kepalanya padanya: "Wajahnmu sangat merah, dahimu juga sangat panas, apa kamu tidak enak badan?"

Carlson sangat dekat, dia yang tidak memakai kacamata, ekspresi wajahnya terlihat lebih lembut dan matanya dalam, ini sedikit lebih seksi dibanding ketika di siang hari.

Ariella yang melihatnya jantungnya berdetak dengan cepat dan wajahnya panas, hatinya mulai berpikir macam-macam.

Dia bergegas menggelengkan kepalanya, memaki Puspita dalam hatinya, menyalahkan gadis sial itu yang mengatakan begitu banyak kata mesum padanya, membuatnya menjadi buruk.

Melihat perilaku aneh Ariella, Carlson berkata dengan khawatir: "Ariella?"

"Aku baik-baik saja. Ini sudah larut, kamu cepatlah tidur." Selama ini Ariella selalu merasa bahwa suara Carlson sangat enak didengar, apalagi ketika memanggil namanya, tapi hari ini dia sangat berharap dia tidak akan memanggil namanya dengan suara yang begitu enak didengar.

Tentu saja Carlson tidak tahu, hanya mendengarkan suaranya yang memanggil namanya saja dia sudah merasa ingin berbuat dosa.

Bahkan ada pikiran jahat di dalam hatinya, lagipula Carlson sudah menjadi suami sahnya, lebih baik langsung menyerangnya saja.

Ariella kembali terkejut dengan pemikirannya ini, gawat, ini pasti dikarenakan kutukan Puspita si gadis sial itu, bagaimana dia bisa memiliki oemikiran seperti itu?

Melihat Ariella kembali menggelengkan kepala dan juga bergumam, Carlson merasa lucu: "Ariella, kenapa kamu..."

"Aku baik-baik saja, aku benar-benar baik-baik saja, aku tidak memikirkan apa-apa, kamu jangan sembarangan bicara." Carlson belum selesai berbicara, Ariella sudah menyela kata-katanya, membuat Carlson lebih bingung, tidak tahu apa sebenarnya yang dia lakukan.

Melihat Ariella yang membungkus dirinya memakai selimut dengan erat, Carlson menggelengkan kepalanya, menghela nafas dalam diam.

Ariella bersembunyi dalam selimut, perlahan-lahan bergerak ke ujung ranjang, ingin membuat jarak ketika Carlson tidak mengetahuinya, jika tidak dia mungkin tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Mana dia tahu baru saja dia bergerak, tangan Carlson yang panjang terulur dan menariknya kembali, membawanya ke dalam pelukannya: "Tidurlah dengan baik."

Huh ...

Ariella bahkan tidak berani bergerak, bahkan bernapas pun menjadi sangat berhati-hati, dengan kaku beradap di pelukan Carlson, wajahnya kebetulan menempel pada dadanya yang telanjang, dengan jelas dapat merasakan suhu tubuhnya yang terbakar.

Ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi, sangat sunyi hingga Ariella dapat mendengar suara napas Carlson yang berangsur-angsur menjadi berat dan juga detak jantungnya yang menjadi bertambah cepat.

Ariella teringat sesuatu, dia bergerak, mendongak menatapnya, sekilas melihat pandangan matanya yang penuh dengan api, dan api itu seolah bisa membakar dirinya.

"Carlson ..." Tidak tahu dari mana nyalinya berasal, dia mengulurkan telapak ramping untuk menyentuh wajahnya yang tampan dan terpahat dengan sempurna.

"Jangan sembarangan bergerak!" Carlson meraih tangannya, suaranya ketika berbiacara sangat serak hingga Ariella yang mendegarkannya merasa tenggorokannya sakit.

"Carlson, sebenarnya ..."

Ariella masih belum menyelesaikan ucapannya, Carlson mendorongnya dan berbalik turun dari ranjang dan pergi dari kamar.

Ariella melihat punggung Carlson yang pergi dengan cepat, menggumamkan kata-kata yang baru saja tidak diselesaikannya: "Sebenarnya, aku bersedia."

Dan Carlson yang tidak mengerti maksud Ariella pergi ke kamar mandi lain, membuka keran air dingin, berdiri di bawah pancuran dan mandi air dingin.

Meskipun Kota Pasirbumi terletak di selatan, tidak sedingin di bagian utara pada akhir musim gugur, tetapi dibutuhkan banyak keberanian untuk mandi air dingin di tengah malam.

Di bawah guyuran air dingin, pikiran Carlson penuh dengan gambaran wajah Ariella yang malu, memikirkannya dan dia berpikir bahwa airnya tidak cukup dingin, dia benar-benar ingin pergi berendam di kolam air yang dingin.

Sebenarnya ada solusi yang lebih baik, yaitu kembali ke kamar, membiarkan Ariella membantunya melepaskan gairah yang sudah dibangkitkan olehnya, tetapi Carlson tidak ingin melakukan hal itu.

Meskipun Ariella adalah istrinya, dia harus melakukan hal yang seharusnya dilakukan dengannya, tapi dia menghormati semua keputusan Ariella, selama dia tidak mengangguk dan berkata dia bersedia, dia tidak akan pernah memaksanya.

Setelah di kamar mandi untuk waktu yang lama, sedikit mengurangi panas di tubuhnya, Carlson pergi ke balkon ruang tamu, menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya beberapa kali.

Carlson sendiri tidak tahu, dia yang selalu bisa mengendalikan diri terhadap hal-hal seperti itu, bagaimana bisa selalu kehilangan kendali ketika di hadapan Ariella.

Setelah sebatang rokok habis, Carlson kembali menghisap sebatang lagi, setelah beberapa saat, sudah ada beberapa puntung rokok di dalam asbak.

Mungkin karena Ariella adalah istri sahnya, karena ada identitas ini, jadi dia akan bereaksi ketika menghadapinya.

Setelah memikirkannya, Carlson sampai pada kesimpulan ini.

Setelah selesai merokok, Carlson pergi ke kamar mandi dan berkumur beberapa kali sampai tidak ada bau tembakau di mulutnya kemudian kembali ke kamar.

Di dalam kamar, Ariella sudah tertidur nyenyak, nafasnya teratur, wajah cantik ini terdapat sedikit rona merah samar yang tampak lembut dan indah.

Bagus sekali dia, setelah memancing gairahnya, dia tidur sangat lelap di sini dan membuatnya mandi air dingin selama setengah jam.

Tiba-tiba, Carlson sangat ingin membawa pelaku yang membuatnya mandi air dingin ini untuk pergi mandi air dingin juga.

Namun, alih-alih membawa Ariella mandi air dingin, dia malah berbaring di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukannya untuk memeluknya yang tertidur.

Malam ini, Carlson hampir tidak tidur semalaman, Ariella malah tertidur dengan sangat lelap, dan juga membuat mimpi yang sangat indah.

Ketika bangun memikirkan mimpi indahnya, Ariella mendongak melihat ke arah jendela balkon, hanya melihat Mianmian yang ada di sana, tetapi tidak melihat sosok Carlson.

Bagaimana bisa orang yang membaca koran setiap pagi di situ tiba-tiba menghilang?

Ariella dengan ragu menoleh, kemudian melihat seseorang berbaring di sebelahnya, dia menutup matanya, wajahnya memerah dan napasnya sedikit lebih cepat.

Mereka telah menikah begitu lama, ini pertama kalinya Ariella bangun dan Carlson masih tertidur.

Carlson ini seperti jam biologis, setiap hari dia bangun dan tidur dengan sangat tepat waktu, tidak pernah berubah karena hal apa pun.

Apakah Carlson sakit?

Berpikir bahwa Carlson kemungkinan sakit, Ariella dengan cepat mengangkat tangannya dan memeriksa dahinya, ketika menyentuhnya dia langsung menarik tangannya karena sangat panas.

"Carlson, bangun, cepat bangun ..." Ariella dengan pelan menepuk wajahnya, melihat Carlson tidak merespon, kemudian dia menambahkan kekuatan tepukan tangannya.