Bab 58 Efek Yang Mendalam

Mata Reyhan tiba-tiba melotot. Termometer menunjukkan 39 derajat!

Berbalik dan bingung, nampak dua bulatan merah di wajah Kenzie, Reyhan pun menelan kembali semua celaannya ke dalam perutnya. Menghela nafas, lalu menutupi badan Kenzie dengan selimut. Mengambil ponselnya dan menelepon: "Agus, bantu Aku untuk memanggil ambulans! Cepat!"

Reyhan pergi ke ruang penyimpanan, mengeluarkan kotak obat, mencelupkan kapas ke dalam cairan alkohol untuk menurunkan suhu tubuh Kenzie. Pertama-tama melepaskan pakaiannya yang setengah basah, lalu pakaian dalamnya yang feminim. Di balik pakaiannya terdapat tubuh putih dan lembut yang membuat panas birahi Reyhan. Awalnya Dia pikir Kenzie akan melawan saat bajunya dibuka. Saat Reyhan sudah bersiap akan perlawanan dan ocehannya, Dia baru sadar bahwa Kenzie sudah tertidur.

Setetes air mata menggantung di bulu matanya yang panjang, bagaikan embun Kristal di kelopak bunga. Pipinya menjadi lebih kurus, namun malah menampilkan sebuah penampilan yang indah. Bibir pucatnya tertutup rapat. Sepertinya ada hal yang membuatnya tidak bahagia dalam mimpinya.

Reyhan terbengong menatap wajah Kenzie saat tertidur, seakan kerasukan mengulurkan jari telunjuknya, menggambarkan postur wajahnya dengan detail.

Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, dagu kecilnya yang lancip…Jari telunjuk Reyhan perlahan menyentuh wajah Kenzie, hatinya muncul perasaan kusut, sebagian menyakitkan, sebagian lagi manis.

Kenzie, Kamu bodoh! Ucap Reyhan berbisik, jari jemarinya masih melekat di wajah Kenzie.

Saat ini, Reyhan merasa bahwa lebih baik jika Kenzie bisa tertidur terus seperti ini. Kenzie yang tertidur pulas, penurut, taat, tidak melawan sentuhannya, membuka diri untuknya dengan sepenuh hati.

Reyhan menyukai Kenzie yang seperti ini.

Ponselnya bordering. Reyhan mengambil ponselnya, disambut dengan suara Agus yang terburu-buru: "Presiden, ambulans masih belum datang! Di luar sedang ada badai, ada jalan yang tertutup banjir. Ambulans sedang terhalang di jalan!"

"Hujan badai?" Kenzie bergegas ke jendela, membuka tirai, baru sadar bahwa sedang ada hujan badai di luar jendela. Efek kedap suara di ruangan itu sangat baik. Hujan deras menggelegar di luar tidak terdengar sedikit pun di dalam ruangan.

Alis tebal Reyhan mengkerut. Sekarang hanya bisa melakukan pendinginan secara fisik, benar-benar tidak ada acara lain lagi. Kenzie sedang hamil, tidak boleh minum obat penurun demam.

Mata Reyhan melirik ke perut Kenzie, keasaman yang kuat langsung muncul di otaknya. Setiap kali melihat Kenzie dan mengingat benih liar yang tumbuh di perutnya, amarah muncul di benaknya. Tetapi Dia tidak ingin meninggalkan Kenzie. Dia ingin melihatnya setiap hari.

Reyhan terus menggosok tubuh Kenzie dengan alkohol, tetapi masih belum ada tanda-tanda suhu tubuhnya turun. Menelpon ambulans beberapa kali, semuanya masih terjebak macet di perjalanan. Hujan pun tak kunjung berhenti. Sepertinya Tuhan sedang menentangnya.

Tidak ada jalan lain lagi, hanya bisa memarahi Agus. Membentaknya untuk mencari jalan keluar, kalau tidak jangan harap masih bisa bergabung dengannya!

Reyhan tidak pernah segugup ini. Dia menggendong Kenzie di tubuhnya, memeluknya erat-erat. Di hatinya muncul kehampaan, semakin lama semakin besar. Di dalamnya terdapat kepanikan dan ketakutan.

Dia tahu bahwa demam tinggi yang terlalu lama dapat merusak otaknya. Apabila wanita hamil yang demam, akan memiliki efek fatal pada janinnya.

Di detik ini, Dia tidak lagi terlalu membenci janin yang ada di dalam perut Kenzie. Bagaimanapun juga, itu adalah anak Kenzie. Tidak peduli siapa ayahnya, di tubuhnya masih mengalir separuh darah Kenzie.