Bab 57 Tidak Bisa Menjaga Diri Sendiri

Langit tampak suram, tak ada bintang yang bisa terlihat. Tampaknya akan ada badai yang muncul. Kenzie duduk sendirian di bawah cahaya redup lampu jalan. Air matanya deras bagaikan banjir, menyapu ketulusan di wajahnya. Keluhan dan kesedihannya semakin hari semakin kuat.

Kenzie duduk disana. Dinding kolam renang yang putih memantulkan cahaya dari lampu jalan yang samar di bahu tipisnya.

"Jangan menangis." sebuah suara muncul dari kegelapan malam.

Kenzie masih duduk di tanah sembari menangis. Butuh waktu lama baginya untuk bereaksi terhadap suara tersebut. Membalikkan kepalanya, Dia melihat sesosok Reyhan dari pantulan air.

Tidak tahu dari kapan Dia diam-diam datang ke samping kolam. Berdiri di tepi kolam sambil menatapnya. Ekspresinya terhalang kegelapan malam. Suaranya datar, tidak terdengar marah atau bahagia.

Tangis Kenzie pecah bagaikan ledakan gunung: "Pergi kamu! Aku tidak mau diurus olehmu! Jangan berpura-pura menjadi orang baik!" jerit Kenzie histeris, seraya menyeka air mata di wajahnya.

Reyhan mengerutkan alis, maju selangkah, lalu mengangkat Kenzie naik: "Gadis, ada apa denganmu!"

Satu sentuhan tangan, dan membuat Reyhan menyadari ada yang tidak beres dengan Kenzie. Lalu meletakkan telapak tangan di dahinya, merasakan suhu panas bercampur air mata, membuat jantungnya berdetak kencang: "Sial! Kau demam!"

Dengan satu gerakan, Reyhan mengangkat Kenzie kembali ke kamarnya, mengabaikan tendangan meracaunya.

"Hei! Menurut sedikit!" seru Reyhan dengan sedikit tidak sabar. Rangkulannya dikendorkan sedikit. Kenzie sudah demam sampai tak sadarkan diri, mengabaikan usaha Reyhan yang mencoba menenangkannya, malahan menangis: "Pergi kamu! Jangan sentuh Aku! Pergi!"

Reyhan hanya butuh satu lengan untuk mengangkat tubuh lemah Kenzie, satu tangan lainnya memegang kakinya yang menendang kacau dengan erat. Merendahkan suara berkata di telinganya: "Jika Kamu masih sembarangan bergerak lagi, Aku akan melemparmu ke kolam renang, dan membiarkan benih liar dalam perutmu dikubur bersamamu!"

Kata-kata dingin dan kejam itu seketika membuat Kenzie tersadar. Bayinya tidak boleh kenapa-kenapa, Dia harus melindungi bayi kecil di dalam perutnya. Kenzie sangat takut sambil memegang perutnya erat-erat, menurut saja Reyhan menggendongnya masuk ke kamar tidur.

Reyhan dengan hati-hati meletakkan Kenzie di tempat tidur, dan mengambil bantal sambil mencari posisi paling nyaman untuknnya, lalu mengeluarkan termometer dan menjepitnya diantara ketiak Kenzie. Wajah pucat Kenzie terbakar merah, dahinya lebih panas.

Alisnya dikerutkan, wajahnya bahkan lebih buruk dari Kenzie. "Kamu benar-benar bodoh! Membersihkan kolam renang saja bisa membuatmu demam! Aku belum pernah menemukan wanita sebodoh Kamu!"

Tubuh Kenzie sangat lemah tak bertenaga, sehingga Dia malas untuk berargumen dengannya. Dia juga tidak melawan semua gerakan Reyhan. Sambil menunggu termometer mengukur suhu badannya, Reyhan tiba-tiba membungkuk dan menghadap wajah Kenzie, menatapnya dengan cermat, seperti tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

"Apa? Gila ya?" Kenzie tertegun oleh matanya, dan berjuang untuk bangun duduk.

"Kamu lebih lucu kalau diam." Ujar Reyhan sembari mendorong Kenzie ke bantal, membuka lengannya dan dengan kasar menarik termometer.

"Hei! Pelan sedikit! Aku ini orang sakit! Aku juga hamil!" Kenzie tidak tahu apakah marah atau hancur, di depan matanya hanya terlihat bintang.

"Orang sakit? Itu karena Kamu terlalu bodoh! Tidak bisa menjaga diri sendiri! Hamil? Benih di dalam perutmu, itu bukan milikku!" jawab Reyhan dengan dingin, tanpa melihat Kenzie. Matanya hanya terpaku pada termometer.