Bab 56 Isakan Dalam Keheningan

Kenzie menyiapkan peralatan makan, lalu pergi ke ruang belajar memanggil Reyhan untuk makan.

Tampak Reyhan sedang melakukan panggilan video dengan seseorang, mungkin suasana hatinya sedang tidak baik. Kenzie perlahan mengintip, di layar komputer tampak sesosok laki-laki paruh baya yang sangat elegan. Melihat Kenzie masuk, Reyhan segera memutuskan panggilan. Dengan wajah muram menatap Kenzie: "Siapa yang mengizinkanmu masuk sembarangan?"

"Barusan Aku mengetuk pintu, tapi Kamu tidak menyaut. Kupikir Kamu mengizinkanku masuk."

Mata Reyhan menyapu rambut Kenzie yang masih belum kering, "Apakah kolam renang sudah dibersihkan?"

Benar-benar mencari kesalahan orang lain, membuat Kenzie merasa dirinya sangat malang.

"Belum selesai, tetapi setelah makan malam Aku akan segera membersihkannya."

Reyhan berdiri sambil mendengus, lalu berjalan dengan Kenzie menuruni tangga.

Kenzie menghela nafas lega. Masih untung, Reyhan tidak marah-marah. Melihat mukanya yang masam, Kenzie memutuskan untuk berbicara sesedikit mungkin. Banyak berbicara, banyak pula kesalahan.

Baru saja duduk di meja, perut Kenzie mengeluarkan suara keroncongan. Reyhan melirik ke arahnya. Tatapan itu, tidak pasti apakah tatapan menghina atau mengejek. Wajah Kenzie memerah malu. "Sayang, Ibu tahu kamu lapar, tapi jangan berteriak sekeras itu!" Kenzie menyalahkan bayi kecil di dalam perutnya.

Melihat Reyhan mengambil sendok dan mulai meminum sup, Kenzie pun mulai bergerak. Aroma khas makanan yang Dia rindukan!

Tahu Mapo, enak! Ikan rebus, enak! Ayam pot, juga enak! Kenzie makan dengan sepenuh hati dan antusias.

Ketika sudah cukup kenyang makan, Kenzie memperlambat ritmenya. Sambil mendongak, Dia melihat piring di depan Reyhan masih bersih. Sepertinya, Dia tidak makan apa-apa selain sup kerang.

"Hei, kenapa Kamu tidak makan?" ucap Kenzie sambil mengunyah ayam pot, bertanya dengan ambigu.

Reyhan yang bersandar di sandaran kursi menjawab: "Melihatmu makan saja sudah cukup. Apakah Kamu itu reinkarnasi dari setan kelaparan? Apakah Aku, seorang Reyhan, tidak memberimu cukup makan? Makan dengan berantakan seperti ini!"

Kenzie mengulurkan lidahnya. Tampaknya cara Dia makan terlalu agresif. Setelah mengerjakan pekerjaan berat di sepanjang sore, Dia sudah lapar. Ditambah lagi hidangan hari ini adalah sayur kesukaannya, baru aneh kalau tidak makan dengan lahap!

Reyhan berkata: "Besok buat masakan Sichuan lagi!" lalu pergi naik ke atas, meninggalkan Kenzie yang terpelongo.

Otak kecil Kenzie berputar cepat: "Nampaknya Dia tidak terlalu suka makanan pedas, mengapa malah menyuruhku masak masakan Sichuan lagi besok? Apakah Dia tahu kalau itu makanan kesukaanku, lalu dengan sengaja mengurusku?"

Segera, Dia menggelengkan kepalanya dan menyangkal pikirannya. Bagaimana mungkin orang seperti Reyhan bisa peduli dengan hidup orang lain! Tidak mungkin Dia merawatku seperti ini!

Setelah berpikir lama, tidak mengerti, Kenzie memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Hal terpenting yang sekarang Dia lakukan adalah, segera membersihkan kolam renang sebelum Reyhan kehilangan kesabarannya.

Lampu jalan bersinar dingin, tutupan kaca kecil mengelilingi lampu tersebut. Sekitar kolam renang sangat redup dan gelap. Pohon-pohon rindang bagaikan kumpulan asap, berkabut, dan hanya ada keheningan disana. Hanya ada suara serangga di rumput, membuat segalanya tampak semakin sepi.

Kenzie mengenakan sepatu boots tebal, membersihkan kolam renang dengan sekuat tenaga. Lengannya semakin pegal, pergelangannya semakin sakit. Energi dari makan malam tadi langsung hilang tanpa jejak. Dia hanya merasa dingin dan tidak bertenaga.

Kenzie kelelahan karena naik dari dasar kolam ke atas. Nafasnya terengah-engah. Ditambah angina dingin yang bertiup, membuatnya bergidik kedinginan.

Melihat sekeliling malam yang sepi, semua keluhan berubah menjadi kesedihan. Air matanya pun mulai berjatuhan dengan deras.

Dia meringkuk dan bersandar pada pilar lampu jalan di tepi kolam. Sangat menyedihkan, tetapi tidak ingin menangis dengan keras. Tangannya menutup mulut, dan membuat isakan yang menjemukan.