Bab 53 Apa Yang Tidak Bisa Dipelajari

Mengenakan celemek bermotif kecil, Kenzie sedang bersiap memasak untuk Reyhan, tetapi Dia mendengar Reyhan yang sedang berbaring di sofa berkata dengan jijik: "Kamu kira dirimu itu nona muda? Kerjamu sangat lambat, apakah Kamu sengaja bermalas-malasan?"

Dari dulu Reyhan memang menyebalkan, tetapi Dia tidak pernah menyulitkan Kenzie untuk persoalan hidupnya. Namun sekarang, tidak hanya meminta Kenzie untuk bertanggung jawab atas kebersihan apartemennya, tetapi juga dengan sengaja mencari-cari kesalahan Kenzie.

Matanya menyapu pegangan tangga yang baru saja dilap oleh Kenzie, mengernyitkan alis sambil berkata: "Tidak bersih, cepat bersihkan lagi!"

Menunggu Kenzie yang baru saja selesai mengelap tangga, disaat Dia ingin istirahat sejenak, Reyhan tiba-tiba berkata: "Angkat karpetnya, lalu bersihkan lantai dibawahnya!"

Sejak Kenzie tinggal di apartemen ini, Dia sangat jarang pergi ke kantor. Banyak hal yang diurus secara online.

Kenzie merasa sangat menderita. Setiap hari Dia hidup dibawah pengawasan Reyhan, dikritik dan dituduh, seakan-akan Kenzie berhutang kepadanya.

Kenzie sibuk sepanjang harinya. Memasak, membersihkan rumah, memasak lagi, dan membersihkan rumah lagi.

Anehnya, meskipun ditekan dengan banyaknya pekerjaan rumah tangga, Dia tidak merasakan mual. Bayi kecil di perutnya sangat pengertian, sangat penurut menunggu di dalam perut Ibunya. Tidak lagi memberikan reaksi kehamilan untuk menyiksanya.

Setelah beberapa hari, Reyhan yang baru kembali dari kantor membawa setumpuk menu makanan, diberikan kepada Kenzie yang sedang membuat jus buah: "Pelajarilah makanan di dalam menu ini selama beberapa hari ini. Nanti saya akan mengajak beberapa teman datang ke rumah untuk makan."

Kenzie menerima menu itu, seketika merasa kepalanya mau meledak. Setumpuk tebal resep, mulai dari masakan Chinese sampai masakan Barat, mulai dari hidangan dingin hingga hidangan penutup. Menu makanan yang dapat ditemukan di restoran, semuanya ada di sini! Mulai dari sushi, steak, siput kukus, dessert, sayuran rebus, mie goreng, sup kering, shabu-shabu. Banyak nama masakan yang belum pernah didengar olehnya.

Kenzie melihat menu masakan, menggigit bibirnya dengan wajah pahit: "Ini terlalu banyak. Hanya beberapa hari, bagaimana mungkin Aku bisa menguasainya! Bagaimana jika Kamu mengajak temanmu makan di restoran? Aku khawatir jika masakanku tidak enak akan membuatmu kehilangan muka."

"Bukankah resepnya sudah terlampir? Apa yang tidak bisa dipelajari?" tatapan mata Reyhan berubah menjadi dingin lagi.

"Ini terlalu banyak, benar-benar bukan hal yang bisa dikuasai dalam waktu singkat."

"Kamu pikirkan caranya sendiri! Kalau tidak bisa menguasainya, operasi Ayahmu tidak perlu dilakukan!"

"......"

Kenzie berdiri disana, kepalanya menunduk ke bawah membiarkan Reyhan mengkritiknya. Bahunya yang kurus tipis seakan mau merobek pakaiannya.

Mata Reyhan menggantung, menjatuhkan dua bayangan melengkung, mengulurkan tangan untuk mengambil kembali tumpukan resep tersebut, mengeluarkan beberapa lembar dan melemparnya ke arah Kenzie: "Beberapa lembar ini tidak sulit bukan? Malam ini Aku mau makan bapau dan pancake." Selesai bicara, Reyhan segera naik tanpa melihat Kenzie.

Kenzie melihat resep yang ditinggalkan olehnya. Rupanya Dia telah memeriksanya. Bahan bakunya ada di dapur, namun kebanyakan dari cara memasaknya agak rumit, tidak bisa dipelajari dengan sembarangan.

Benar-benar mengkhawatikan. Kenzie tidak bisa membuat bapao, mau tidak mau harus terpatok melihat buku resep. Hasilnya tidak baik, kadang terlalu kering, kadang terlalu encer. Sibuk sepanjang pagi, bahkan bentuk bapao pun tidak berhasil Dia buat.

Waktu makan siang telah tiba. Reyhan mengambil sebuah majalah dan turun tepat waktu. Dia masuk ke dapur, melihat Kenzie yang sedang berjuang dengan sepotong adonan, wajahnya tidak puas: "Mengapa tidak menyiapkan makanan?"

"Sedang dibuat, tetapi Aku khawatir bapao tidak bisa siap di siang hari." Kenzie mengelap keringat di wajahnya. Dia berdiri sepanjang pagi, sangat lelah tentunya.

"Kalau begitu Kau buat lagi di malam hari! Cepat bawakan makanan yang lain!"

Dari tadi Kenzie mengaduk adonan, mana ada makanan lain yang bisa diberikan kepadanya. Mukanya memerah, dengan terburu-buru mencuci tangannya, dan bergegas membuat masakan sederhana untuknya.