Bab 50 Benar-Benar Seperti Kebohongan

Reyhan terus menatap mata Kenzie, berpikir bahwa Dia akan melihat ketidakpuasan atau perlawanan di matanya.

Tapi tidak, matanya setenang mata air, tanpa gejolak. Tampaknya kata-kata Reyhan tidak menimbulkan reaksi apapun padanya.

Setelah mendengarkan kata-kata Reyhan, Hermosa duduk dengan bangga di sofa, lalu mengulurkan tangannya kepada Kenzie dan berkata: "Baiklah, merepotkanmu!"

Kenzie pun melihat kebawah dan mengulurkan tangannya untuk memijat Hermosa. Dalam hatinya Dia mengumpat, ingin sekali mematahkan pergelangan tangan Hermosa, namun Dia tidak bisa.

Dia sedang meminta pertolongan Reyhan, dan hanya bisa patuh padanya.

"Hei! Apa bisa lebih lembut? Pijatanmu menyakitiku!" Sebenarnya pijatan Kenzie sudah sangat lembut, hanya saja Hermosa berniat melebih-lebihkan dan mengeluarkan suara yang menyakitkan.

"Maaf! Aku akan pijat lebih lembut lagi." ucap Kenzie tak bercela, seolah-olah pelayan yang paling kompeten.

Reyhan tiba-tiba merasa tidak tertarik. Tiba-tiba menarik tangan Hermosa dan berjalan ke arah pintu: "Pergi ke Tempest Bar!"

Tidak tahu kenapa, saat Reyhan melihat penampilan acuh tak acuh Kenzie, Dia merasa sangat tertekan. Mungkin ini saatnya untuk bersenang-senang. Sejak pertama kali mengenal Kenzie, kehidupannya bagaikan seorang pertapa, sudah lama tidak menyentuh wanita.

Reyhan dan Hermosa berjalan keluar sambil berpelukan, menyisakan keheningan di ruangan itu.

Kenzie membelai kehidupan kecil yang tumbuh cepat di dalam perutnya, hatinya tiba-tiba muncul rasa ketakutan akan kehilangan.

Dua bulan lalu, Dia pikir bahwa akan menikah dengan Senior Steven, lalu melahirkan anak cantik dan lucu. Kenzie sebagai ibu, Steven sebagai ayah. Tetapi sebuah malam buruk telah menghancurkan semua mimpinya.

Dia berada di jalan tanpa jalan kembali, dan berjalan semakin jauh…

Segala topeng kuat yang Dia kenakan selama ini tiba-tiba hancur. Kenzie meringkuk di sofa lebar dan mengelap air mata yang mengalir keluar dengan deras. Apa salahku? Kenapa Tuhan menghukumku seperti ini?

Anak yang malang, bahkan tidak tahu siapa ayahnya, begitu polos datang ke dunia yang dingin ini.

Ketika Reyhan kembali, Kenzie sudah tertidur meringkuk di atas sofa. Reyhan membanting pintu dengan keras, membangunkan Kenzie dengan kaget.

Wajah Reyhan bagaikan tertutup awan gelap, lalu duduk di sofa tanpa melihat Kenzie sedikit pun.

Kenzie menunduk, separuh wajahnya tersembunyi di bayangan rambutnya yang berantakan, begitupun hatinya yang berantakan. Tidak tahu bagaimana caranya bernegosiasi dengan Reyhan melahirkan anak ini.

Setelah lama berpikir, akhirnya Kenzie mengambil keputusan dan berkata dengan canggung: "Aku… Aku hamil!"

Wajah Reyhan berubah kelabu, suaranya sambil menekan amarah: "Bajingan mana yang menghamilimu? Apakah Seniormu?"

Hati Kenzie bagaikan tertusuk. Dia sangat berharap anak dalam rahimnya itu adalah anak Senior. Dia rela melahirkannya. Sayangnya, tidak aka nada kesempatan lagi di hidupnya.

Melihat Kenzie tidak menjawab, amarah Reyhan semakin menjadi, dengan kasar meraih kerah baju Kenzie, mencibir: "Apa Kamu dicampakkan oleh Senior? Seniormu, menanam benih lalu pergi meninggalkanmu? Wanita yang tergila-gila dengan laki-laki kejam, haha, sungguh menyedihkan!"

Mendengar perkataan tajamnya, Kenzie merasa kesulitan untuk bernapas. Bagaimana Dia harus menjawab? Apakah Dia harus memberitahu Reyhan bahwa Dia tidak tahu siapa ayahnya? Siapa yang akan percaya omong kosong seperti itu? Kedengarannya tidak masuk akal!