Bab 47 Hanya Pembantu

Dengan tangan gemetar, Kenzie mengambil handphonenya, menekan nomor, telepon pun tersambung, tetapi Kenzie tidak berbicara sedikitpun. "…"

Reyhan yang berada di sisi lain juga diam. Suasananya sangat luar biasa, membuat orang sulit untuk bernafas. Setengah berbunyi, saat Kenzie hendak menutup telepon, Dia mendengar suara wanita di ujung telepon: "Reyhan, cepatlah! Orang-orang sudah tidak sabar lagi!"

"Hei!" Telepon pun dimatikan oleh Reyhan.

Kenzie menggigit bibirnya, di suatu tempat di hatinya, kesakitan.

"Sangat lucu, Kau pikir dirimu siapa? Ada kesulitan harusnya mencari polisi, bukannya malah Reyhan yang diingat pertama kali. Kenzie, kenapa Kamu begitu kekanak-kanakan?" ucap Kenzie sambil menggelengkan kepalanya.

Angin malam sangat dingin, Kenzie tidak tau harus pergi kemana, Dia tidak memiliki tempat untuk tinggal…

Sambil memeluk bahunya, Dia duduk perlahan sambil bersandar di sudut dinding, rambutnya yang panjang menutupi mukanya yang pucat. Sangat lelah… Aku benar-benar ingin tidur seperti ini dan tidak bangun lagi…

"Nona Kenzie, Aku mencarimu kemana-mana! Kamu bisa keluar dari rumah sakit." Suara perawat membangunkan Kenzie yang meringkuk tidur di sudut.

"Hah?" Kenzie curiga bahwa Dia salah dengar.

"Nona Kenzie, Presiden mengirim Saya kesini untuk menjemput Anda pulang." ujar pria di belakang perawat.

Itu Agus.

Kenzie berdiri diam. Dia tidak bisa menolaknya bukan? Dia tidak bisa melarikan diri dari sisi Reyhan, kecuali, Reyhan sudah bosan dengannya, lalu mengambil inisiatif untuk meninggalkannya.

Benz itu meluncur dengan halus. "Tit… Tit…" Tiba-tiba ponsel Kenzie berbunyi. Hatinya terharu, apalah ini pesan dari Reyhan? Setelah membuka layar ponsel, Dia mengetahui bahwa ini ada pesan ramalan cuaca. Entah mengapa, Kenzie merasa sedikit kecewa.

Mobil itu melaju di jalan yang sunyi, Kenzie melihat pemandangan di luar jendela, dengan sedikit bingung mengernyitkan alis: "Kak Agus, kamu salah jalan ya?" Agus berbalik dan menjawab dengan tegas: "Tidak, Presiden memintaku untuk mengantarmu ke apartemennya di tengah gunung.

Melihat Kenzie yang masih kebingungan, Agus menjelaskan: "Nona Kenzie, kali ini Anda membuat Presiden sangat marah, Saya khawatir Presiden tidak akan membiarkan Anda masuk kediaman Presiden lagi!"

"Tidak membiarkanku masuk ke dalam kediaman Presiden lagi?" Kenzie menunduk dan menertawakan dirinya, ya, ini adalah hukuman Reyhan untuk budak wanitanya!

Di ruang tamu apartemen yang sederhana dan mewah itu, kaki jenjang Reyhan ditempatkan di katai kristal di depan sofa, sepasang mata gelap berkilau yang perlahan menutup. Hermosa melekat hangat di pelukannya.

Mendengar langkah lembut Kenzie, otot-otot di tubuh Reyhan terasa kencang.

Hermosa berbalik, melirik ke arah Kenzie, lalu berkata kepada Reyhan: "Reyhan, siapa Dia? Bukankah Kau berkata malam ini hanya ada kita berdua?"

Tanpa melihat Kenzie, Reyhan menjawab dengan dingin; "Dia? Dia hanya pelayan! Datang untuk melayani kita. Kamu jangan berpikir terlalu banyak."

Kenzie menggigit bibirnya, matanya terkulai, bulu mata tebalnya menutupi semua ekspresi di matanya.

"Oh, ternyata pelayan! Aku tau kalau matamu tidak akan seburuk itu!" ucap Hermosa menenangkan hatinya.