Bab 44 Hati Yang Terluka

Saat ambulans sampai di kediaman Reyhan, Kenzie sudah tak sadarkan diri. Ujung jarinya yang putih menggenggam erat pakaian di dadanya, seakan-akan jantungnya sangat menderita. Sepertinya ada luka disana, dan Kenzie telah tenggelam disana.

Di dalam kegelapan, Dia melihat wajah Steven, muda dan tampan, tersenyum kepadanya, seolah-olah Dia adalah orang kesayangan Steven.

"Senior..." Kenzie berbisik rendah. Sakit, Senior, Senior, kamu dimana?

Reyhan yang menemaninya di dalam ambulans, kakinya tertegun, melihat Kenzie memanggil Senior. Orang yang dipanggil Kenzie saat tidak sadar, bukan Dia!

Hati Reyhan seperti ditekan oleh seekor binatang yang besar, sampai bernafas pun rasanya sulit.

Mata hitam penuh amarah, kekecewaan dan kesedihan, menatap wajah Kenzie dengan ketat.

Untuk pertama kalinya pergi berbelanja dengan wanita.

Untuk pertama kalinya mengajak wanita datang ke kediaman keluarganya.

Untuk pertama kalinya tidak keberatan saat tahu kekasihnya sudah tidak perawan.

Untuk pertama kalinya melewatkan rapat dewan hanya demi makan bersama kekasihnya.

Untuk pertama kalinya membuat aturan untuk mendampingi kekasihnya.

Tapi, pengorbanan sebanyak itu, hanya dibalas dengan sikap menyebalkan dan kebenciannya. Pengorbanan sebanyak itu, masih tidak bisa dibandingkan dengan Senior yang tidak bisa dilupakan olehnya...

Apakah hati wanita ini terbuat dari besi? Bagaimana mungkin bisa keras kepala sampai seperti ini?

Di luar bangsal VIP rumah sakit, datanglah seorang dokter muda membawa dokumen catatan medis.

"Dokter, bagaimana keadaannya?" sambut Reyhan sambil menekan ketakutan dan ketegangannya.

"Hampir saja keguguran. Tapi untungnya, janin masih bisa diselamatkan. Apakah Anda suaminya?" Dokter melihat Reyhan dengan sedikit menyalahkan, "Anda terlalu ceroboh untuk perawatan ibu hamil. Apabila terlambat sedikit saja mengantar kesini, janinnya sudah tidak terselamatkan lagi."

Keguguran... Janin... Pikiran Reyhan yang biasanya tenang seketika menjadi bingung. Kenzie hamil? Sebuah kegembiraan muncul dari lubuk hatinya.

Reyhan memiliki banyak kekasih, tetapi tidak pernah membiarkan satu pun dari mereka memiliki benih darinya. Tapi Kenzie terlalu sulit dijinakkan, setiap kali seperti berkelahi, membuatnya lupa menggunakan alat kontrasepsi. Tidak disangka, ternyata jadi juga!

Mata dingin dan sombong Reyhan tiba-tiba berbunga. Mungkin, Dia bisa memaafkan Kenzie yang tidak bisa melupakan Seniornya... Dia bisa mencoba membiarkannya menerima dirinya perlahan.

"Dia baru hamil dua bulan. Ini adalah masa yang paling berbahaya, Kamu harus jaga dia baik-baik ya." ucap Dokter melihat seorang ayah yang bahagia sambil mengingatkannya lagi.

"Dua bulan?" Mata Reyhan kembali menegang. Suaranya menjadi semakin dingin.

"Ya, hamil 8 minggu, tepat 2 bulan."Dokter agak kaget, perubahan hati calon ayah ini terlalu cepat.

Dua bulan.

Sejak pertama kali Reyhan melihat Kenzie hingga saat ini, hanya 42 hari.

Dan dia, hamil 2 bulan.

Kenzie masih tertidur, bulu matanya yang panjang melemparkan bayangan indah berbentuk kipas di bawah matanya. Wajah putih itu tenang dan cantik.

Reyhan menatap wajahnya dengan tajam, wajahnya pucat dan menakutkan, matanya memerah, bagaikan Rakshasa neraka. Tangan besarnya terangkat sambil membawa petir, dan setelah ragu sejenak, dia menghantamkan kepalan tangan ke dinding, meninggalkan bekas tinju di dinding putih, darah segar, menetes dari kepalan tangannya...

Tidak tahu bagaimana caranya bisa sampai di lapangan parkir rumah sakit. Reyhan masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas dengan liar, memutar setir ke kanan dan bergegas menuju kota. Mobilnya menggores pagar pengaman dan meninggalkan bekas goresan yang panjang, seperti hatinya yang sedang terluka...