Bab 43 Berpura-Pura Terlihat Menyedihkan

Kenzie menunduk, kesombongan dalam suara Nayra sangat menyakitinya.

Tiga tahun yang lalu, dia juga keluarga kaya, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Reyhan, tetapi dia sangat dijaga oleh ayahnya, gadis manja yang penuh kasih sayang. Tetapi sekarang, ada gadis lain yang seumuran dengannya, yang bisa menikamnya dengan nada bangga!

"Angkat kepalamu." ucap Nayra sembari menyentuh Kenzie yang tersungkur di lantai dengan jari kakinya.

Kenzie menggigit bibirnya, wajahnya pucat pasi. Dia masih menundukkan kepalanya dan membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya.

"Kak, pacar barumu ini sangat keras kepalanya ya! Sama sekali tidak seru!" ucap Nayra sembari memutar kepala menatap Reyhan, matanya menatap kesal. Wanita ini, dia pikir dirinya siapa? Berani-beraninya mengabaikan kata-kata Nayra!

"Jawab! Kamu itu tuli atau bisu?" tegas Nayra sembari menendang kaki Kenzie, tepat di titik lukanya. Kenzie memekik kesakitan, dalam hatinya tersimpan amarah.

Apa hebatnya memiliki uang? Menginjak-injak harga diri orang seperti ini. Kenzie juga bukan seekor anjing liar, mengapa dia menendangnya?

Kenzie mengangkat kepalanya, lalu dengan mata yang tajam menatap mata Nayra yang marah.

Nayra terkejut, mata gadis ini memiliki aura yang kuat. Selain itu, ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah dia lihat sebelumnya...

"Siapa namamu? Bagaimana kamu bisa kenal dengan Kakakku?" ujar Nayra sambil menahan keterkejutannya.

"Nayra, sudah jangan merusuh." Reyhan datang dan menepuk bahu Nayra, "Naik pesawat pasti lelah kan? Ayo kembali ke kamarmu dan istirahatlah."

"Kak, apa Kamu membelanya? Aku sedang bertanya padanya!" Nayra berkedip mengeluh. Apa yang terjadi dengan Kakak? Dulu Kakak paling menyayanginya, tidak peduli bagaimanapun Dia mempermalukan kekasih Reyhan, Dia tidak akan melarang. Hari ini, terhadap gadis yang terlihat tidak terdidik ini, sangat aneh! Dia adalah Nayra, adik perempuan kandungnya sendiri!

Reyhan tidak menjawab pertanyaan Nayra, membalikkan badan melihat Kenzie, lalu berkata dengan suara dingin: "Sudah kusuruh kamu naik! Tidak dengar ya!" diikuti pandangan gelap dan dingin seperti biasanya.

Perlahan Kenzie merayap bangun dari lantai. Rasa sakit di jari kaki yang lecet, tapi yang paling menyakitkan adalah bagian perut. Perlahan bagaikan diiris pisau. Saat setelah berdiri, tiba-tiba Kenzie merasa pusing, kekuatannya seperti terkuras habis. Kenzie berdiri sempoyongan, lalu meraih meja di sampingnya.

"Cepat naik! Jangan berpura-pura!" teriak Reyhan.

Kenzie berusaha keras untuk menopang tubuhnya, perutnya sangat sakit, bagaikan teriris oleh pisau. Tiba-tiba, ada cairan panas yang mengalir dari pahanya.

Melihat kebawah, Kenzie terkejut sambil menutup mulutnya, darah! Ini darah! Darah merah yang segar! Mengalir dari kakinya...

"Darah! Kak, dia berdarah!" teriak Nayra.

Wajah Reyhan berubah pucat. Bergegas ke arah Kenzie, mengangkatnya dan mendudukannya di sofa, mengabaikan sofa putih dan mahal itu kotor berlumuran darah. Alisnya mengkerut, dengan suara bergetar Dia bertanya: "Kenzie, bagaimana? Bagian mana yang tidak nyaman?"

Kesadaran Kenzie mulai hilang, bibirnya pucat pasi. Dia kesakitan sampai tidak memiliki tenaga untuk menjawab pertanyaan Reyhan.

Reyhan sangat tegang, lalu berteriak: "Bibi Siti, cepat panggil ambulans!"