Bab 42 Nona Kedua Sudah Kembali

Mobil itu berlari kencang ditengah kegelapan malam, tidak ada yang berbicara, yang ada hanya kesunyian mematikan di dalam mobil. Suasananya membuat orang kesulitan untuk bernapas.

Agus diam-diam melihat Reyhan dan Kenzie dari kaca spion mobil, menggelengkan kepalanya, Dasar gadis tidak tahu diuntung, batinnya. Bos Reyhan dari dulu belum pernah mengajak satu wanita pun untuk datang ke kediaman Reyhan. Dia adalah yang pertama. Hari ini Presiden sengaja meluangkan waktu untuk makan siang dengannya, Dia berani untuk melanggar janji…

Wajah Reyhan biru pucat, menghembuskan nafas seakan ingin membunuh orang. Berada di sebelahnya seakan udara lebih dingin, membuat orang menggigil gemetar.

Kursi belakang sangat luas, Kenzie malah berusaha untuk menyusutkan tubuhnya, semakin jauh dari Reyhan semakin baik menurutnya. Sekarang dia sedikit menyesal karena terlalu heboh, dia tidak tau konsekuensi dari marahnya Reyhan.

Tapi di dunia ini tidak ada obat untuk penyesalan.

Kenzie melirik ke arah Reyhan, memutuskan untuk meminta maaf padanya, bagaimanapun juga, Ayahnya masih berbaring sakit di ranjang, tunggulah setelah operasi. Dia masih membutuhkan uang operasi dari Reyhan.

Mobil pun berhenti di pintu garasi, saat itu Kenzie mulai membuka mulut, berniat ingin menjelaskan mengenai masalah makan siang tadi kepada Reyhan, tapi Dia mendapati bahwa Reyhan menatapnya dengan dingin.

Melihat Kenzie berbalik, Reyhan berkata dengan dingin: "Cepat turun!" Urat di dahinya mencuat, lalu dengan kasar menarik lengan ramping Kenzie ke arah ruang tamu.

Kekuatan tangan Reyhan sangat luar biasa, wajah Kenzie pun berubah mengkerut.

Lengannya serasa mau putus, Kenzie mengikuti Reyhan dengan goyah, flat shoesnya dilepas, kaki kecilnya tergerus sambil berjalan diatas jalan kerikil. Kenzie dengan keras kepala menggigit bibirnya dan menolak untuk meminta belas kasihan.

Reyhan pun semakin marah. Kenzie, tidak peduli ada berapa banyak duri di tubuhmu, malam ini, semuanya akan kulepaskan untukmu.

Ruang tamu terang benderang dan penuh gelak tawa. Saat mendengar derap langkah kaki, Bibi Siti menyapanya dari ruang tamu, senyum di wajahnya dengan cepat berubah kaku setelah melihat raut wajah Reyhan.

"Tuan muda.... Nona Kedua sudah pulang." Bibi Siti melaporkannya, karena takut tidak sengaja membuat marah Reyhan.

Reyhan mengangkat alisnya, wajahnya terlihat sedikit lebih santai. Pun genggaman tangannya tidak dikendorkan. Kaki Kenzie tergerus sampai terkelupas kulitnya, sangat sakit. Rok panjang putih miliknya juga kotor terseret-seret tanah. Rambutnya tergerai berantakan, wajahnya putih memucat, seluruh orang sangat malu.

"Kak..." seru wanita elegan sembari berdiri dari sofa putih, tersenyum kepada Reyhan. Ketika Dia melihat Kenzie di samping Reyhan, Dia sedikit mengernyit.

"Nayra, kapan kamu pulang? Kenapa tidak memberitahuku dulu?" Reyhan melepaskan Kenzie dengan kasar, Kenzie goyah, sampai perutnya menabrak sudut meja, sangat sakit, Kenzie menahan perutnya sampai terjongkok!

"Kak, aku menelponmu siang tadi, lalu sekretarismu mengatakan bahwa Kau pergi makan siang dengan Kenzie." Nayra mencibir dengan lembut, terlihat seperti tuan putri yang manja.

Reyhan memainkan alisnya dan bertanya dengan datar: "Apakah menyenangkan? Kalau nanti Kau tidak rewel apa mau keliling dunia?"

Nayra memukul bahu Reyhan dengan manja. Sudut matanya melirik Kenzie, penuh rasa ingin tahu sambil meremehkan: "Kak, kenapa Kamu membawa perempuan luar ke dalam rumah?"

Reyhan berbalik melihat Kenzie, lalu berkata kepada Bibi Siti: "Ajak Dia ke atas!"

"Tunggu!" teriak Nayra menghentikan Bibi Siti. Lalu berjalan ke arah Kenzie, sambil menatapnya dengan pandangan merendahkan.