Bab 41 Tidak Ada Jalan Kembali

Dijalan menuju kantin, tiba-tiba terdengar bunyi keras dari tengah kerumunan orang.

Sebuah mobil Bugatti Veyron hitam berjalan arogan dan mendominasi kerumunan orang.

"CITTTT.." suara rem dari mobil Bugatti yang tiba-tiba berhenti di depan Kenzie dan Lexy.

Seluruh tubuh Kenzie membeku, napasnya pun sempat terhenti!

"Bukan Reyhan, bukan Reyhan, mobilnya Reyhan itu Lamborghini, ini bukan mobil Reyhan." ucap Kenzie dalam hati.

Jendela mobil turun perlahan, wajah Reyhan yang marah pelan-pelan mulai terlihat. Dengan mata dingin, Dia tidak melihat Kenzie sedikit pun. Dengan suara yang tenang, yang membuat orang yang mendengarnya gemetar ketakutan Dia berkata: "Naik mobil!"

Wanita bodoh ini tidak menghargai kebaikan orang, Reyhan melewatkan dua jadwal pertemuan penting, supaya bisa makan siang bersama Kenzie, tetapi Dia lebih memilih makan di kantin sekolah, dan memilih tidak makan dengan Reyhan! Apa Kenzie benci melihat dirinya?

Mata berkabut yang diwarnai noda merah tua.

Lexy menarik lengan Kenzie sambal berkata: "Kenzie, ini bukan senior Reyhan kan? Mengapa… kalian…"

Gadis lain yang terkejut karena rem mendadak itu mulai menunjuk-nunjuk: "Apa kalian lihat? Perempuan ini, sepertinya Dia adalah kekasih Presiden Reyhan! Suatu ketika aku melihat mereka berkeliling di toko seks!"

Suaranya kecil, tapi masih terdengar sampai ke telinga Kenzie dan Lexy. Membuat orang-orang sekitar tertawa terbahak-bahak.

Kenzie menggigit bibirnya, mukanya pucat. Sepasang mata indah pun mulai tertutup kabut.

Dengan kaget Lexy pun melihat Kenzie: "Kenzie, Kamu… kamu berpacaran dengan Senior Reyhan? Jelas-jelas kamu tau kalau Dia itu playboy, sering mempermainkan wanita!"

"Kenzie, kubilang untuk yang terakhir kali, cepat naik!" Suara Reyhan sudah mulai marah. Kenzie tahu, kalau Dia tidak segera naik mobil, penghinaan seperti apa yang menantinya.

"Lexy," katanya sambil tergesa-gesa, "Ini tidak seperti yang Kamu pikirkan. Aku…" perkataan Kenzie belum selesai, tapi Reyhan menariknya masuk mobil.

Kenzie belum duduk benar, tapi Reyhan sudah menginjak gas mobil dengan liar, mobilnya pun melaju dengan kencang bagaikan busur panah.

Di detik terakhir keberangkatannya, Kenzie berbalik, dan melihat mata Lexy yang penuh ekspresi terkejut, kecewa, dan juga…. memandang rendah dirinya.

Amarah, amarah tanpa batas, yang membuat Kenzie menolak untuk berpura-pura lagi menjadi kelinci putih yang lembut.

"Reyhan! Sebenarnya Kamu mau merusak hidupku sampai seperti apa baru Kau puas!" Kenzie sangat geram, mengulurkan tinju kecilnya ke Reyhan. Agus yang duduk di kursi pengemudi, melihat Kenzie dari kaca spion, dan segera mengalihkan pandangannya.

Menghadapi hal seperti ini, Dia berharap dirinya tidak bisa mendengar maupun melihat. Gadis ini pasti gila! Berani-beraninya memukul Presiden Reyhan! Pasti Dia akan mati dengan sangat tragis!

Pukulan Kenzie tidak sakit, tapi Reyhan benar-benar sangat marah! Apakah berpacaran dengannya membuat Kenzie merasa malu? Menjadi pacarnya Reyhan, bahkan membuatnya merasa sangat malu?

Sebuah telapak tangan yang keras dan kuat berusaha meraih leher Kenzie yang ramping, memutarnya dengan keras. Kenzie kesakitan sampai berlinang air mata.

"Reyhan, kamu gila! Iblis! Aku benci kamu! Aku benci kamu! Kamu bajingan!" Kenzie menggunakan kedua kaki dan tangannya, berusaha menendang Reyhan.

Kenzie baru berumur 19 tahun, masa depannya masih panjang. Mungkin sekarang, didepannya hanya ada satu jalan tersisa untuknya, sebagai pasangan Reyhan, aib ini yang akan menemaninya seumur hidup.