Bab 40 Cara Yang Tidak Berperasaan

Sepanjang pagi, dihabiskan Kenzie dengan rasa khawatir dan gelisah. Jika kebenaran terungkap, dia tidak tahu bagaimana menghadapi penghinaan dan pandangan remeh dari teman sekelasnya!

Kedua tangannya terlipat, Kenzie menatap ke atas meja sambil melamun. Reyhan, pria ini benar-benar telah mengacaukan hidupnya!

"Kenzie, ayo nanti kita pergi ke kantin untuk makan? Kamu bolos kelas dua hari yang lalu, ada koki baru di kantin, masakan ikan yang dibuatnya benar-benar lezat!" Ada rasa terpana di mata Lexy. Menatap Kenzie dengan penuh harap.

"Hmm, itu ..." Kenzie sedikit kesulitan. Reyhan memerintahkannya untuk pergi ke kantornya untuk mencarinya seusai kelas untuk makan siang bersama. Sebenarnya Kenzie juga sangat ingin makan bersama Lexy. Tidak kuliah selama beberapa hari, dia benar-benar ingin mendengar Lexy berbicara tentang hal-hal baru di kampus.

"Kenzie, kamu kenappa? Akhir-akhir ini sangat aneh, apa kondisi Ayahmu memburuk?" Lexy bertanya dengan cemas.

Melihat tampilan khawatir Lexy, Kenzie merasa terharu.

"Oke, Lexy, aku akan menemanimu makan setelah selesai kelas." Kenzie memutuskan.

Kemudian Kenzie menyelinap diam-diam ke tangga untuk menelepon Reyhan.

"Halo, itu, aku ada urusan siang ini, tidak bisa makan siang bersamamu."

"Urusan apa? Lebih penting dibanding makan bersamaku?" Reyhan di ujung telepon tidak terdengar senang

Kenzie tidak begitu peduli, Reyhan itu adalah orang yang sangat tajam, semakin Kenzie berkata, maka semakin besar dia akan menemukan kesalahannya.

"Profesor mencariku ada urusan. Kututup dulu, kelas sudah akan dimulai." Kenzie bergegas menutup telepon, menyeka keringat dingin di kepalanya.

"Tutt tutt tutt tutt ..." Suara telepon yang tergantung itu terdengar sangat hampa.

Reyhan dengan marah membanting ponselnya di atas meja. Kenzie, kamu berani menutup telepon! Dan lagi, ini sudah kedua kalinya!

"Agus, siapkan mobil." Bugatti hitam melaju ke arah Universitas T.

"Kenzie, apa kamu sudah tahu mengenai masalah Luffy?" Lexy menggigit es krim sambil bergosip dengan Kenzie.

"Luffy?" Hati Kenzie terkejut. Ya, dia sepertinya tidak melihat Luffy di kelas hari ini.

"Suatu malam, Luffy bertanya padaku mengenai toko bunga tempatmu bekerja. Tapi hari berikutnya, dia menghilang. Katanya dia keluar dari kampus dan pulang ke kampung halamannya." Lexy menggelengkan kepalanya dengan ragu, "Dia mengurus kepindahannya dengan sangat mendesak. Tidak tahu apa ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya."

"Keluar dari kampus?" Mata Kenzie melebar: "Luffy keluar dari kampus?"

"Ya! Oh iya, sebenarnya apa dia ada mencarimu atau tidak malam itu? Apa ada sesuatu yang terjadi malam itu?" Lexy bertanya dengan penasaran.

"Ah ... tidak ... aku ... aku juga tidak tahu ..." Kenzie hanya merasa dia tidak mampu.

Bagaimana mungkin dia tidak tahu, dia adalah pembuat masalahnya!

Itu pasti Reyhan, pasti Reyhan yang memaksa Luffy keluar dari kampus! Cara Reyhan memang selalu begitu kejam.

Keluar dari kampus ... Luffy sudah keluar dari kampus ... Jadi, bagaimana dengan mimpinya? Bagaimana dengan mimpi Luffy?

Kenzie selalu ingat, saat kelas pertama di hari pertama masuk, para guru meminta semua orang berbicara tentang impian mereka. Orang pertama yang naik ke panggung adalah Luffy, dia sangat muda dan tampan, dia berkata pada semua orang bahwa dia ingin mendapatkan beasiswa dari Universitas Harvard, di masa depan, dia ingin menjadi penerbit berita yang terbaik!

Reyhan, kenapa kamu begitu tidak berperasaan! Luffy tidak berbuat salah padamu! Kenzie mengepalkan tangan putih pucatnya. Gigi putihnya menggigit bibirnya dengan dalam.