Bab 38 Logika Apa Itu

Mata hitam yang tajam itu menatap lurus ke arah Kenzie, telapak tangan besar itu mengangkat dagu Kenzie dengan keras, memaksanya untuk menatapnya: "Kamu salah? Baiklah, katakan padaku di mana letak kesalahanmu?"

Kenzie menyembunyikan semua ketajaman di dalam matanya, matanya penuh dengan ketakutan dan kelemahan. Dengan berlinangan air mata berkata pada Reyhan: "Ini salahku, aku yang tidak cukup baik, jadi Presdir Reyhan bisa begitu membenciku. Kamu tidak menyukaiku, itu pasti karena aku tidak cukup baik."

Reyhan tertawa dingin dan mendekati Kenzie: "Apa ini kata hatimu yang sebenarnya? Mengapa aku mendengarkan kemunafikan?"

Kenzie terkejut. Tapi pandangan matanya malah bertambah polos tidak bersalah: "Itu kata hatiku. Aku ingat kamu mengatakan bahwa sebagai wanita akan lebih disukai jika lebih patuh."

Pandangan mata Reyhan seperti tertawa: "Kenapa, kamu ingin menyenangkan hatiku?"

Dalam hati Kenzie merasa lega, sepertinya, strategi berpura-pura menjadi kelinci putih itu efektif.

"Presdir Reyhan, kamu bersedia menghabiskan begitu banyak uang untuk merawat Ayahku. Aku, aku bahkan tidak keburu untuk berterima kasih..." Kenzie berusaha mencoba membuat suaranya terdengar tulus.

"Jika aku tidak menghabiskan uang untuk merawat Ayahmu, aku masih adalah seorang bajingan, penjahat, orang mesum di hatimu bukan?" Reyhan melepaskan kekuatan di tangannya, Kenzie yang kehilangan sandaran berdiri dengan goyah, dan hampir terjatuh.

Pandangan mata Reyhan dingin dan tidak ada kehangatan sedikitpun, wajah tampannya itu bahkan menjadi lebih suram.

Kenzie menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan kalimat yang sudah hampir dia keluarkan: Apa kamu merawat Ayahku karena niad baik? Bukankah karena ingin aku menjadi kekasih gelapmu saja! Memuaskan hasrat binatangmu!

Tahan! Kenzie, kamu harus belajar menahan! Menyemangati diri sendiri di dalam hatinya. Kenzie diam-diam pergi ke sudut yang tidak mencolok.

Reyhan berjalan ke meja dan duduk. Mengulurkan tangan kanannya: "Berikan!"

"Hmm?" Kenzie merasa bingung.

"Beri aku sepasang sumpit!" Reyhan menatap mie yang ada di mangkuk besar kristal di atas meja, seketika merasa sangat lapar. Tampilan mie itu terlihat sangat lezat, tidak disangka, Kenzie memiliki kemampuan seperti ini!

Kenzie yang sangat kelaparan, memandang Reyhan yang memakan mie dengan sangat lahap, akhirnya bahkan kuahnya juga habis tidak tersisa, tidak menyisakan sedikitpun untuknya!

Setelah Reyhan selesai makan, dia dengan puas duduk di sofa. Memakai kemeja beludru hitam, dengan malas membuka dua kancing teratas, di wajahnya, masih tetap terlihat senyum yang tampan itu, hanya matanya saja yang dingin, bahkan lebih dalam dari malam yang paling dalam!

Melirik sekilas pada Kenzie, berkata dengan dingin: "Mulai sekarang, kamu tidak perlu pergi kuliah lagi. Tugasmu di kemudian hari adalah menjadi pelayan pribadiku."

Hati Kenzie terkejut, tidak bisa, dia tidak boleh menyerah akan studinya. Jika dia melepaskan kesempatan untuk kuliah, maka dia hanya akan menjadi tawanan Reyhan selama sisa hidupnya. Dia masih memiliki banyak impian yang ingin dicapai! Dia tidak bisa benar-benar menyerah pada dirinya sendiri, bersedia menjadi burung kenari yang dibesarkan dalam sangkar!

"Kumohon, biarkan aku menyelesaikan kuliahku!" Mata Kenzie benar-benar memohon. Reyhan selalu memegang ucapannya, dia akan melakukan apa yang dia ucapkan. Jika Reyhan benar-benar bersikeras tidak ingin Kenzie kuliah, maka Kenzie tidak punya pilihan.

Reyhan menaikkan alisnya: "Masakanmu lumayan, terlalu sia-sia jika berkuliah. Di rumah saja dan masak untukku!"

Logika apa itu! Masakanku lumayan, apa sia-sia jike berkuliah! Hati Kenzie memaki Reyhan hingga ke leluhur-leluhurnya. Tapi mulutnya masih terus memohon.

Gadis bunga pir dengan hujan, dengan lembut memohon. Orang dengan hati yang sekeras batu itu juga melunak.

Pandangan mata jahat Reyhan menatap Kenzie, membara kemudian dingin. Kenzie tiba-tiba merasa sekujur tubuhnya kedinginan. Dia dapat menemukan cahaya yang membawa dari matanya!