Bab 37 Bagaikan Seekor Kelinci Kecil

Perutnya menjerit, sangat lapar. Dari tadi malam hingga penyiksaan saat ini, Kenzie merasa tubuhnya sudah akan runtuh.

Menggerai rambut panjang yang baru saja dicuci, Kenzie membuka lemari baju, lemari penuh dengan pakaian yang paling modis dan indah. "Reyhan sangat murah hati pada wanita." tampaknya rumor ini benar. Kenzie tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri.

Dengan asal mengenakan rok putih yang sederhana. Kenzie berjalan turun ke ruang makan, bersiap untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Aneh, tidak ada orang di dapur, Bi Siti dan lainnya juga tidak tahu ke mana. Sangat hening.

Kenzie menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Buka kulkas, bahan-bahannya lengkap. Semuanya tersedia.

Kalau begitu, dia masak mie saja untuk dimakan. Itu akan lebih cepat. Dia sudah sangat lapar.

Mengeluarkan beberapa udang besar, mengupas kulitnya, membersihkan udang. Mencuci jamur segar hingga bersih dan dimasak dalam air mendidih bersama dengan udang. Memasak telur tomat orak-arik, kemudian di panci lainnya memasak mie. Setelah telur tomat orak-arik selesai, memanaskan telur semur yang sudah dimasak di lemari es, mengangkat jamur dan udang segar, kemudian merebus beberapa iris selada dalam air mendidih, lalu memasukkan bumbu ke dalam kuah mie.

Kemudian memasukkan bahan-bahan itu ke dalam mangkuk kristal besar yang indah, mengaturnya memakai sumpit dengan indah, dan terakhir menaburkan seledri.

Produk akhir itu berwarna-warni, terlihat glamor seperti iklan mie instan.

Mencuci tangan hingga bersih. Kenzie tidak sabar untuk duduk di meja, dengan puas memandang mie di depannya, mengambil mie kemudian memakannya.

Ketika Reyhan berjalan masuk, dia melihat adegan seperti itu:

Angin malam yang lembut di malam musim panas meniup tirai putih, di depan meja yang indah, gadis yang cantik itu sedang duduk, rambut hitam panjangnya memancarkan kilau cahaya. Cahaya lembut melapisi wajahnya yang putih menjadi makin menawan, memegang sendok di tangannya, melihat mangkuk yang panas, melihat mie yang sangat lezat itu, dengan puas memasukkannya ke dalam mulutnya.

Dia sengaja memberatkan langkah kakinya. Benar saja, Kenzie menolehkan kepalanya, setelah melihatnya, dia membuka mulutnya dengan terkejut, setelah diam beberapa saat, dia bereaksi dan seketika melompat, mungkin karena rasa sakit di bagian tertentu, dia membungkuk dengan wajah pucat. Matanya tiba-tiba dipenuhi dengan uap air, seluruh tubuhnya menyusut di samping meja, tampak terkejut dan ketakutan, sangat berbeda dari tampilannya yang puas tadi.

Reyhan mengangkat alisnya, apa yang sedang dimainkannya?

Kenzie membuka mulutnya terlebih dahulu, mata besar yang indah itu, air matanya mulai mengalir turun. Suara itu lemah dan lembut: "Presdir Reyhan, kamu ... kamu sudah pulang..."

Ada rasa ragu di hati Reyhan, berjalan mendekat, mendengus dengan dingin: "Apa yang kamu lakukan?"

Landak kecil yang tajam ini, kenapa berubah menjadi kelinci putih kecil?

Kenzie menundukkan kepalanya, menutupi ekspresi di matanya, langsung mengaku: "Aku ... maaf ..." Suara itu gagap.

Reyhan mengerutkan kening. Cabai kecilnya ini tiba-tiba menjadi sangat penurut, dia sedikit tidak terbiasa.

"Maaf? Kamu melakukan kesalahan apa padaku?" Reyhan mengulurkan tangan, mengangkat dagu kecil Kenzie, tiba-tiba, mengcengkramnya dengan kencang!

Kenzie kesakitan. Di dalam hati memaki Reyhan ratusan kali. Mesum! Dasar gila! Dasar kasar!

Mulutnya malah memohon dengan menyedihkan: "Aku salah, aku salah, tolong lepaskan ... sakit!"

Keraguan di mata Reyhan lebih dalam. Apa yang dilakukan Kenzie, mana sifatnya yang tidak mau kalah dan juga yang tidak pernah menunduk padanya itu? Kenzie yang sekarang, benar-benar sangat lembut dan patuh seperti kelinci putih kecil.