Bab 33 Jangan Berbohong Kepadaku

Seakkan merasakan pandangan mata Kenzie, Steven tiba-tiba berbalik untuk melihat ke arahnya. Kenzie terkejut, secara insting berbalik, meninggalkan buku di tangannya kemudian lari.

"Nona, bukumu." Steven berteriak dengan sopan.

Otak Kenzie seketika kosong, dia tidak tahu harus lari ke mana. Saat ini, dengan wajah apa dia harus menghadapi Steven?

Untungnya, ada rak buku yang tinggi di sekitar, Kenzie buru-buru bersembunyi di balik rak buku, detak jantungnya tidak pernah begitu kencangnya!

Terdengar suara langkah kaki.

Jantung Kenzie hampir melompat ke tenggorokannya. Telapak tanganya berkeringat.

Untuk waktu yang lama, sisi lain rak buku itu hening, sangat tenang hingga bisa mendengar suara dengungan AC.

Kenzie mendengar ada orang yang bertanya dengan bingung, "Presdir, apa ada masalah dengan buku ini? Mengapa kamu terus menatapnya?"

Suara lembut Steven terdengar di telinganya: "Tidak apa-apa, hanya teringat seorang teman."

Teman ...

Kenzie menutup mulutnya, air matanya tiba-tiba mengalir tanpa peringatan.

Kak Steven, dia, masih mengingatnya?

Dan dia tidak melupakan Kenzi ... benar kan?

"Jangan-jangan mantan pacar Presdir?" Seseorang ada yang menggodan dengan bercanda.

"Jangan berbicara sembarangan, Presdir sudah akan bertunangan!" Balas orang lain.

"Benarkah? Sudah menentukan tanggalnya? Pada saat itu kami harus memberikan angpao yang besar!" Orang di sekeliling berseru.

Steven hanya tersenyum lembut, tidak mengatakan apa-apa, meletakkan kembali buku itu di rak buku.

"Ayo pergi, Presdir Steven, aku akan menemanimu untuk melihat ke atas."

"Oke."

Beberapa saat kemudian, langkah kaki sekelompok orang itu pergi menjauh.

Dia sudah akan bertunangan?

Tiba-tiba hatinya merasa amat sangat sakit, seakan ada pisau tajam yang menggoresnya, seakan bisa mendengar suara darah yang sedang mengalir.

Air mata tidak bisa ditahan dan mengalir keluar. Kenzie menangis dalam diam bersandar di rak buku, rasa sakit itu menyebar dari hatinya, seakan ingin menelannya sepenuhnya.

Ponselnya berdering. Kenzie menyeka air matanya, menjernihkan tenggorokannya. Mencoba membuat dirinya baik-baik saja.

"Halo! Aku ..." Masih belum selesai berbicara, sudah mendengar raungan Reyhan di telepon:

Kenzie! Pergi ke mana kamu? "

......

Apa nada bicaranya harus begitu buruknya?

Kenzie mengusap air mata di pipinya, sambil berkata bagai tidak terjadi apa-apa, "Aku berkeliling, apa kamu masih di sana? Aku akan mendatangimu."

Toko seks dewasa, dia benar-benar tidak ingin pergi ke tempat itu. Terlalu memalukan.

Telepon hening untuk beberapa saat, suara dingin itu kembali terdengar: "Apa yang kamu tangisi?"

Kenzie seketika tertegun, melihat sekeliling dengan bingung.

Melihat Reyhan berdiri di belakang rak buku dan memandangnya, memakai headset bluetooth, kedua tangannya masing-masing membawa beberapa kantong belanjaan, tampaknya dia membeli barang barang di toko barang dewasa itu.

"Aku ..." Kenzie tercekat, tidak tahu bagaimana harus menjawab, hanya menundukkan kepalanya dengan panik untuk menghapus air mata di wajahnya.

Pria ini ... jelas-jelas berdiri di belakangnya, mengapa masih meneleponnya? Ingin menjadikannya lelucon?

Tidak tahu apa dia melihat Steven barusan ...

Kenzie menatap ke arah Reyhan ingin mencari tahu.

Tidak bisa melihat emosi apapun di mata Reyhan. Untungnya, Kenzie menarik napas lega, Reyhan seharusnya tidak melihat Steven. Kalau tidak maka dia tidak akan berekspresi seperti ini.

Reyhan melangkahkan kakinya yang panjang dan berjalan menuju Kenzie, wajahnya datar, pandangan matanya sedalam kolam yang dingin: "Apa yang kamu tangisi?"

"Oh, tidak apa-apa. Aku ... aku, mataku kelilipan ..." kata Kenzie sambil menyeka matanya.

Masih ada tetesan air mata di bulu-bulu matanya yang panjang, wajah pucat itu masih penuh dengan ekspresi putus asa, terlihat menyedihkan, sangat berbeda dengan sifatnya galaknya yang biasa.

"Aturan ketiga menjadi wanita simpananku, selamanya tidak boleh berbohong padaku. Apa kamu lupa?" Alis tebal Reyhan berkerut dengan berbahaya.