Bab 32 Menjual Kepada Iblis

Pusat perbelanjaan terbesar di Kota C.

Hari ini adalah akhir pekan, sangat banyak orang yang berbelanja di mal. Dalam hiruk-pikuknya kerumunan, tubuh Reyhan tinggi besar, serta wajahnya yang tampan sering menarik perhatian orang lain.

"Wow ... pria itu sangat tampan!"

"Apa dia aktor besar? Kenapa tidak pernah melihatnya di TV?"

"Apa kita pergi untuk meminta tandatangannya?"

"Ahhh, aku tidak berani! Kamu lihat ada pacar di sebelahnya!"

"Pacarnya terlihat sangat biasa! Wajahnya juga hanya cantik biasa saja!"

"Ya! Sama sekali tidak cocok dengannya, mungkin bukan pacarnya? Apa pengasuh di rumahnya?"

"Seharusnya dia itu pengasuh, bagaimana mungkin pria tampan bisa menyukai gadis biasa yang seperti itu!"

Beberapa gadis yang mengenakan seragam SMA, berputar sebanyak 6 kali melewati Reyhan dan Kenzie, dan juga berbisik sepanjang waktu...

Pengasuh? Kenzie benar-benar ingin memuntahkan darah. Apa Kenzie begitu rendahnya?

Dia melihat bayangan dirinya dan Reyhan di kaca jendela toko di sebelahnya.

Dia, mengenakan T-shitr putih biasa, lebar longgar dan nyaman, celana pendek hitam biasa, mengenakan pakaian yang sederhana, ditambah sepasang sepatu sneakers. Terlihat segar, tapi memang benar-benar sangat biasa. Dan lagi benar-benar sangat amat biasa saja.

Sedangkan Reyhan, setelan kasual yang disesuaikan, paras yang tampan hingga membuat orang sesak nafas, aura elegan bagai seorang pangeran. Berjalan di sampingnya, dia benar-benar terlihat seperti pengasuh ...

Gadis-gadis yang lewat menatap penuh kagum pada Reyhan, Kenzie merasa tidak nyaman ditatap oleh begitu banyak orang ketika sedang berbelanja di mal, seperti monyet yang ada di kebun binatang yang diawasi, benar-benar tidak nyaman.

Reyhan tidak merasa demikian, langkahnya sangat santai, dan dia terkadang berhenti untuk melihat-lihat. Pada akhirnya, dia malah masuk ke dalam toko mainan seks dewasa!

"..." Kenzie ingin berpura-pura tidak mengenalnya.

Mengambil kesempatan ketika Reyhan melangkah masuk ke dalam toko seks, Kenzie diam-diam mundur beberapa langkah dan berbalik pergi diam-diam.

Ada toko buku di mal. Tidak banyak orang, tersebar di dalam.

Kenzie sekilas melihat "Penghargaan Seni Dunia" di dalam rak. Buku ini, pernah diberikan oleh Steven padanya.

Kenzie membuka halaman buku dan melihatnya. Suaranya pada waktu itu seakan terdengar di telinganya: "Kenzie, lihat betapa berbakatnya kamu! Jika kamu terus mempelajarinya, kamu akan menjadi pelukis terkenal di masa depan!"

Sebenarnya Kenzie tidak suka melukis, tapi demi perkataannya ini, Kenzie belajar melukis selama 3 tahun. Sampai bisnis Ayahnya bangkrut dan tidak mampu membayar biayanya untuk belajar melukis.

"Kenzie, aku suka sketsa karakter yang kamu gambar. Setiap karakter tampaknya memiliki jiwa yang mulia."

Jiwa yang mulia, Kak Steven, aku sudah tidak bisa menggambar lukisan seperti itu lagi. Karena, jiwaku sudah dijual pada iblis.

"Penghargaan Seni Dunia". Melihat halaman buku yang familiar, seakan kembali ke masa 3 tahun lalu, di bawah pohon ceri, Steven memegang album itu di tangannya dan melihatnya bersama Kenzie. Angin sepoi-sepoi bertiup, kelopak bunga jatuh di atas buku, di tanah, dan juga di atas rambutnya.

Steven dengan lembut mengambil kelopak bunga dari rambut Kenzie, dengan pelan, disimpan di dalam tas miliknya. Mata Steven lebih terang dibanding bintang-bintang.

......

"Presdir, sekarang mal sedang melakukan penjualan tahap kedua, dan banyak merek yang secara aktif menghubungi kami dan penjualannya juga sangat bagus."

"Hmm, merek yang masuk ke dalam mal harus menjalani proses seleksi yang ketat, sebelum case ini ditentukan berikan padaku untuk kulihat."

"Baik, Presdir."

......

Suara pria yang lembut terdengar di luar toko buku yang tenang. Begitu familiar.

Kenzie berbalik dengan bodoh, melihat sekelompok orang memakai jas sedang mengelilingi pria muda yang elegan dan sedang berjalan kemari, membicarakan urusan bisnis di sepanjang jalan.

Kemeja sederhana dengan celana panjang hitam, membuat bentuk tubuh pemuda itu terlihat sangat bagus. Sambil mendengar laporan bawahannya, sambil mengangguk, wajahnya selalu mengulas senyum samar dan elegan.

Steven.

Ternyata mal ini adalah milik keluarganya. Mata Kenzie terbuka lebar, tenggorokannya pahit.