Bab 8 Hubungan Bisnis

"Nona Jiang."

Saking kesalnya Catherine Jiang sampai tak mendengar ada orang memanggil namanya. Ketika ia mengangkat kepala baru tersadar supir Ethan Lu, Paman He, datang ke arahnya.

"Ada apa datang kemari paman?" secepat mungkin ia sembunyikan tagihan rumah sakit di belakang punggungnya, sembari tersenyum bertanya, "Apakah Tuan sudah pulang dari perjalanan tugas nya?"

Paman He mengangguk, "Siang tadi Tuan baru saja pulang, beliau tahu nona pingsan, lalu mengutus saya melihat keadaan nona, nona tak apa kan?"

"Tak apa, hanya tidak enak badan. " jika sudah Paman He yang menjemput, maka mau tak mau ia harus pergi. "Paman bisa tunggu di luar, saya urus sesuatu dulu lalu segera menyusul paman."

"Baiklah."

Selagi Paman He menunggu diluar, dia pergi ke kamar pasien mengemasi barang dan berjanji pada Mortimer Jiang besok ia akan datang lagi menjenguk, "Malam nanti perawat akan datang. Ingat terapi, paham?"

"Iya iya." Mortimer Jiang mengangguk. Dengan penuh harap bertanya, "Kak, besok kakak yang masak untukku kan?"

Catherine Jiang memutar bola matanya, "Jangan bermimpi, makanlah bubur. "

Mortimer Jiang mengerucutkan bibirnya.

Di waktu-waktu seperti ini, jika Mortimer Jiang makan bubur macam itu, belum sembuh yang ada sudah pingsan kelaparan!

Di perjalanan pulang, Catherine Jiang sekalian membeli buah dan sayuran, ketika memasuki apartemen, ia mendapati Ethan Lu tengah berdiri di dekat jendela sembari menelepon seseorang dengan bahasa Inggris.

Aksen khas London, sangat menawan.

Ethan Lu mengenakan celana hitam dan kemeja putih, manset kemeja sedikit ditarik ke atas, sedikit memamerkan pergelangan tangan, sederhana tapi memancarkan pesona yang tak terungkapkan yang berhasil membuat Catherine Jiang terkagum sejenak.

Pria ini tidak hanya kaya, muda tapi juga tampan, tak tahu ada berapa banyak wanita mengidam-idamkannya, Catherine Jiang malah berpikir betapa tak mungkinnya jika dia bersama dengan Ethan Lu .

Ethan Lu sekilas melihat kearahnya, dengan cepat dia pergi ke arah dapur, jantungnya berdegup kencang.

Dasar Catherine Jiang, apakah kamu tidak sadar dirimu ini hanya apa?

Catherine Jiang tahu Ethan Lu tidak suka makanan pedas, maka ia menyajikan hidangan gurih, sup udang dan sup rumput laut. Seketika meja makan pun dipenuhi aroma yang sangat menggugah selera.

Kebetulan Ethan Lu sudah selesai menelpon, dengan tak sabarnya ia duduk dan makan. Hidangannya sungguh lezat, ia makan sembari tersenyum tipis dan memuji masakan Catherine Jiang, "Tak kusangka, biasanya kamu sibuk shooting, tetapi makin hari makin enak saja masakannya."

"Itu tandanya aku cukup perhatian padamu. " jawab Catherine Jiang sembari tersenyum. "Lagi pula, menjagamu itu memang tugasku, shooting itu kemauan."

Ethan Lu melihat dalam-dalam kedua mata Catherine Jiang.

Catherine Jiang mengerti apa yang dia maksud, untungnya sekarang duduk berhadapan dengannya, kalau tidak, ruang makan akan menjadi berantakan.

"Makanlah udang ini. " Catherine Jiang berkata sembari menaruh udang di mangkuk pria itu, mencoba mencari topik, "Waktu itu kamu bilang akan membawaku ke Kota N, apakah ada yang perlu aku bantu?"

Ethan Lu meng-iyakan.

Dia tak menjawabnya secara langsung, hanya berkata, "Sebelumnya aku menghubungimu, ada satu laki-laki yang mengaku adikmu bilang kamu di rumah sakit, pingsan."

"Itu benar adikku!" jawab Catherine Jiang yang menepis keraguan Ethan Lu, "Adikku terkena penyakit yang parah, sempat koma, sudah dua tahun ini terbaring di rumah sakit, sebenarnya ini bukan hal yang besar, makanya aku tak memberitahumu." Ethan Lu menatap dalam-dalam Catherine Jiang, "Jadi selama dua tahun ini kamu menghabiskan gaji yang kuberi untuk perawatan adikmu?"

"I...iya" ia agak gelisah menjawab. "Jika kamu tidak percaya..." Catherine Jiang tadinya ingin membuktikan cek darah beserta catatan medis lainnya pada Ethan Lu sebelum dipotongnya pembicaraan oleh pria itu, "Jika tidak cukup kamu boleh minta Lexus Qin."

Lexus Qin adalah asisten pribadi Ethan Lu, dulu pernah ke apartemen mengantarkan dokumen, Catherine Jiang sempat bertemu dua kali.

Seketika Catherine Jiang tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Catherine Jiang kira pria itu meragukan dirinya, ternyata malah mengkhawatirkan cukup tidaknya uang yang ia berikan, dalam hati timbul perasaan hangat.

Setelah makan malam, pria itu menjawab telepon lagi, tampaknya hal yang sangat penting sampai membuatnya pergi ke ruang kantornya. Catherine Jiang, di lain sisi, pergi ke kamar mandi menyiapkan air, lalu meminum obat yang dokter berikan.

Tidak peduli apa yang akan terjadi, tetapi untuk sekarang dia akan menjaga calon buah hatinya.