Bab 17 Bertemu Orang Gila

Merasakan keanehan, Reyhan menoleh untuk melihat wanita kecil di sampingnya.

Mata tertutup rapat, wajah mungil pucat itu terdapat raut sangat kesakitan. Gigi putihnya itu menggigit bibir halusnya, sudah hampir berdarah.

Apa yang terjadi? Kenapa ekspresinya begitu sedih? Reyhan mengulurkan telapak tangan, menjentik wajah kecil Kenzie dengan jari telunjuknya.

"Apa yang kamu lakukan? Sakit!" Kenzie berteriak dikarenakan sentilan Reyhan yang tak berperasaan. Matanya terbuka, air matanya mengalir deras di pipinya.

Kenzie menyeka air matanya dengan panik. Dia tidak ingin pria di sampingnya ini melihat dirinya yang menyedihkan.

Alis tebal Reyhan mengerut: "Apa yang kamu tangisi?"

"Apa pedulimu!" Kenzie menyeka air matanya dengan asal, menolehkan kepalanya ke samping, berpura-pura melihat pemandangan di luar jendela.

Kak Steven adalah rahasia terdalam di hatinya, dia tidak ingin berbagi rahasia ini dengan siapa pun.

Kebetulan lampu merah, Reyhan mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh itu, memegang dagu Kenzie dengan erat, kepala Kenzie dipaksa untuk menoleh ke arah Reyhan.

Sepasang mata hitam pekat itu bertatapan dengan mata Kenzie yang masih sedikit kemerahan.

"Katakan, apa yang kamu tangisi?"

"Menangisi karena aku begitu sial, bertemu dengan dirimu yang sangat tidak masuk akal! Aku sedih! Aku merasa hidupku menderita!" Kenzie marah hingga mencibir dengan dingin. Pria kejam ini, memangnya dia pikir dia siapa!

Kata-kata Kenzie membuat marah Reyhan, meningkatkan kekuatan di tangannya, melihat wajah basah Kenzie, tiba-tiba dia merasa tidak tega.

Bibir yang dingin dan tipis itu terangkat, dengan amarah yang ditekan dia menarik kembali tangannya, dengan tiba-tiba menginjak rem, tindakan Reyhan ini membuat Kenzie tidak stabil, kepalanya membentur jendela, menyebabkan rasa sakit yang amat sangat.

Tidak tahu tombol apa yang ditekan Reyhan, sabuk pengaman terlepas secara otomatis, pintu terbuka, ketika Kenzie masih belum bereaksi, dia sudah dilemparkan oleh Reyhan di jalan besar.

Tidak mengatakan apa-apa, Lamborghini Reyhan sudah melesat pergi.

Memijat dagu yang memerah dikarenakan dicengkram oleh Reyhan. "Dasar gila!" Kenzie mengerang dalam hatinya. Pria itu benar-benar berubah-ubah bagai angin, tadi bersikeras ingin mengantarnya, sekarang melemparkannya dengan tidak jelas, apa dia kira bumi adalah milik keluarganya! Kenzie bukan peliharaannya! Benar-benar membuat orang emosi.

Lamborghini yang melesat pergi itu mengayunkan tinjunya, Kenzie melihat jam di ponselnya. Gawat! Dia benar-benar akan terlambat!

Kenzie terengah-engah, berlari hingga kakinya hampir patah baru bisa bergegas ke ruang kelas sebelum bel berbunyi.

Di kejauhan sudah melihat teman baiknya Lexy sedang melambai padanya di kursi.

"Kenzie, di sini!" Lexy membantunya menjaga kursi, barisan depan di tengah. Kenzie dan Lexy adalah siswa baik yang rajin, mereka selalu serius ketika berada di kelas.

"Lexy, terima kasih!" Kenzie berterima kasih dan tersenyum pada Lexy. Untung ada Lexy, jika tidak Kenzie sudah pasti tidak akan mendapat posisi duduk yang baik.

"Kenzie, kenapa kamu berlari hingga kehabisan nafas?" Kenzie berlari hingga wajah kecilnya itu memerah, ujung hidungnya dipenuhi dengan keringat. Lexy dengan perhatian mengulurkan sebungkus tissue.

"Jangan ungkit lagi, hari ini benar-benar sial, aku bertemu dengan orang gila!"

Belum mengucapkan apapun, para siswa di sekitarnya sudah bertepuk tangan. Profesor Robert berjalan masuk sambil membawa seorang pria jangkung. Orang ini harusnya adalah murid yang paling membanggakan Profesor Robert, sengaja datang hari ini untuk memberikan mereka kelas.

Kenzie menoleh ke sana dengan membawa tatapan mata hormat. Tapi ketika melihatnya, dia sudah hampir melompat bangun dari kursinya!