Bab 13 Hidup Dengan Baik Sudah Cukup

Menerjang keluar dari pintu restoran, Kenzie baru merasa lega. Untungnya dia pernah berlatih lari jarak jauh, jika tidak dia akan sengsara jika tertangkap oleh pria sombong ini! Sudah pasti tidak akan ada hal baik.

Angin malam berhembus ke tubuhnya, sejuk dan nyaman. Kenzie menghirup udara dingin dalam-dalam, jantungnya yang berdetak kencang perlahan menjadi tenang. Sudah berapa lama dia tidak melihat pemandangan malam di kota ini? Dia sudah tidak bisa mengingatnya.

Sejak ayahnya, Michael sakit dan terbaring di ranjang, Kenzie terus bekerja hingga kelelahan, dia harus kuliah di siang hari dan melakukan tiga pekerjaan di malam hari, seringkali baru pulang ke rumah ketika hari sudah subuh.

Memikirkan Ayahnya, Kenzie kembali kesal. Kenzie, mengapa kamu begitu impulsif! Mengapa kamu harus bersitegang dengan wanita itu!

Pekerjaan di restoran Prague adalah yang paling dibayar tinggi, kenapa bisa menyerah dengan mudah hanya karena dipersulit orang lain!

Bagaimana dengan biaya obat Ayah? Ibu tirinya, Lindi juga sudah mulai berkencan di belakang, menemukan jalan untuk dirinya sendiri. Kakaknya, Rena, meskipun dia bekerja sebagai seorang model dan gajinya cukup tinggi, tapi dia juga sangat hebat dalam menghabiskan uang, bahkan uang yang dia dapatkan saja tidak cukup untuk dia habiskan. Semua tekanan ekonomi hanya bisa ditanggung oleh Kenzie sendiri.

Tapi sekarang, dia malah kehilangan pekerjaan ini!

Semua ini karena Reyhan! Apanya yang Presdir! Benar-benar tidak berbobot! Menemukan seorang wanita yang begitu dangkal! Benar-benar adalah seekor babi ternak yang sombong!

Kenzie mengerutkan keningnya dengan getir, hatinya terus-menerus mengutuk Reyhan.

Huh, sekarang dia masih perlu mencari pekerjaan paruh waktu lainnya, jika tidak dia tidak bisa mengatasi tagihan obat Ayahnya setiap hari. Kenzie melihat sekeliling, berharap dapat melihat iklan pekerjaan apa pun yang tertempel di gedung tertentu.

Tiba-tiba, sepasang matanya melotot lebar!

Ada mobil hitam yang diparkir di jalan, jendelanya terbuka, seorang pria duduk di kursi pengemudi, memakai kemeja putih, parasnya tampan dan elegan, sepasang mata yang jernih dan dalam sedang memperhatikan lampu lalu lintas di jalan. Jari-jari rampingnya bersandar ke jendela, putih dan bersih.

Sekujur tubuh Kenzie gemetar, air mata mengalir keluar tanpa bisa ditahannya, tangannya dengan erat mengepal menutupi mulutnya, tidak membiarkan tangisannya terdengar keluar.

Itu dia! Itu adalah Steven, kakak kelasnya! Bagaimana dia bisa ada di sini? Setelah Ayah Kenzie bangkrut, untuk melarikan diri dari kreditor, mereka sekeluarga pindah ke Kota C, ponselnya hilang, sejak saat itu, hubungan Kenzie dengan kakak kelasnya terputus. Bagaimana dia bisa muncul di Kota C?

Kenzie merasa detak jantungnya hampir berhenti berdetak, melamun memandang pria di dalam mobil itu. Setelah beberapa saat, Kenzie kembali tersadar, berlari dengan liar ke arah mobil itu.

Terlambat, lampu hijau sudah menyala, mobil hitam itu langsung melaju, bagai panah yang dilesatkan keluar.

"Kak Steven! Tunggu aku! Kak Steven!!" Kenzie mengabaikan pandangan mata aneh orang-orang di sekitarnya, dengan sekuat tenaga mengejar mobil itu, melambaikan kedua tangannya, wajah kecil yang pucat itu penuh dengan air mata.

Setelah pindah selama 3 tahun, Kenzie ternyata bisa melihatnya lagi.

Steven, penampilannya masih tidak banyak berubah, tampan dan elegan, sama seperti waktu itu. Beberapa tahun ini, dia pasti melewatinya dengan sangat baik bukan?

Dia adalah satu-satunya anak walikota, tentu saja dia melewati hidup dengan lebih baik dibandingkan dirinya yang keluarganya sudah bangkrut ini.

Sangat bagus, begini juga sangat bagus.

Dia melewati hidup dengan baik ... itu sudah cukup.

Di jalan di mana banyak lampu yang menyala seakan bagai kehilangan warnanya. Kenzie membiarkan air matanya mengalir di wajahnya, langkahnya terhuyung seakan sedang berjalan di atas kapas, langkah demi langkah benar-benar sangat sulit.