Bab 7 Apakah Tidak Menginginkannya

"Brakk" suara laptop ditutup, Reyhan dengan malas bersandar di belakang kursi, senyum di sudut bibirnya membawa sedikit pesona jahat, pandangan mata gelap yang sedikit memicing itu tidak terlihat emosi apapun. Kancing-kancing kemejanya sudah dilepas beberapa, dada berwarna gandum itu terlihat sangat liat dan kuat, penuh dengan pesona pria yang mematikan.

Kedua pipi Rena memerah, menurutnya, tindakan Reyhan merupakan sebuah undangan yang sangat jelas! Waktunya untuk memamerkan pesona femininnya!

Dia melewati meja yang besar dan berjalan ke arah Reyhan!

Rena menatap Reyhan dengan kedua matanya, pria tampan yang kaya, jika dia bisa menggaetnya, maka dia tidak perlu khawatir akan apapun di sisa hidupnya! Tidak perlu lagi tinggal di Komplek Lodan yang kumuh itu!

Tapi Reyhan sama sekali tidak berniat untuk berinisiatif! Dia masih bersandar di belakang kursi dengan malas, meskipun bibirnya tersenyum, tapi sepasang mata yang kelam itu sangat dingin dan sama sekali tidak ada kehangatan!

Rena sedikit terburu-buru. Dia duduk di paha Reyhan!

Reyhan merangkul Rena, menilai wajahnya yang cantik itu dengan bermain-main, sudut bibirnya menampilkan senyum yang samar.

Wajah Rena memerah, ada sedikit rasa bangga di matanya.

Apanya yang Presdir Reyhan sangat pemilih pada wanita, apanya yang Presdir Reyhan hanya suka pada artis dan juga perawan, sepertinya itu semua omong kosong! Rena hanya meliukkan pinggangnya saja sudah dapat membuat Reyhan terpana padanya.

Rena terus bergerak meliuk, sepasang tangan putih itu terus mengelus dada Reyhan. Tapi! Reyhan masih tidak bereaksi! Rena sedikit cemas, dia meletakkan bibir kemerahan dan lembab itu di dekat telinga Reyhan, berbisik dengan menggoda: "Reyhan, apa kamu tidak menginginkannya?"

Tiba-tiba, rambutnya dicengkeram dengan erat dari belakang oleh telapak tangan besar, ditarik hingga kepalanya sakit!

Sepasang mata besar itu melotot ketakutan, Rena menyadari bahwa wajah tampan Reyhan sangat dekat! Wajah Reyhan hanya beberapa milimeter darinya, nafas panasnya yang keluar membuatnya gemetar!

Rena baru ingin mengatakan sesuatu, detik berikutnya, dia sudah ditarik berdiri oleh Reyhan! Kedua mata Reyhan dengan dingin menatap matanya yang ketakutan, mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya: "Pergi!"

Kedua mata Rena melotot dengan lebih lebar! Situasi apa ini? Kenapa kondisinya berkembang menjadi seperti ini?

Bukankah tadi Reyhan sudah tergoda olehnya? Kenapa dia ingin dirinya pergi sekarang? Apa dia salah dengar?

Melihat ekspresi bodoh Rena, Reyhan dengan kesal meningkatkan kekuatan tangannya, kemudian melemparkannya ke sofa besar di dekat dinding!

Mengeluarkan buku cek dari meja, menuliskan beberapa angka, kemudian Reyhan melemparkan cek itu ke wajah Rena, suaranya yang serak terdengar dingin dan tegas: "Pergi! Sekarang juga! Segera!"