Bab 4 Tersakiti Sampai Mati Rasa

Club T.S.

Kenzie yang datang terburu-buru mengenakan rok biru yang sudah memutih karena terlalu sering dicuci, rambut hitam lurus sebahu, sepasang mata hitam yang cerah, wajah putih lembut itu penuh kecemasan.

Penjaga pintu di depan pintu mengangguk dalam diam, ya, pasti wanita ini, supir Reyhan, Agus, sudah berpesan, berwajah cantik, berpakaian lusuh, datang malam ini untuk menemani Presdir Reyhan melewati malam bersama.

"Halo! Maaf, bagaimana aku bisa pergi ke ruang 1806?" Kenzie bertanya dengan cemas.

"Apa kamu adalah Nona Kenzie?" Penjaga pintu itu bertanya dengan sopan, berpikir dalam hati, gadis kecil ini sangat cantik dan polos, Reyhan benar-benar memiliki berkah! Menjadi orang kaya itu sangat baik!

"Ya. Bagaimana aku bisa pergi ke kamar 1806?"

"Naik lift di sisi kiri lobi ke lantai 18, terletak di ujung koridor yang merupakan suite terbesar dan paling mewah."

Berterima kasih pada penjaga pintu dengan terburu-buru, Kenzie sepanjang jalan berlari kecil menuju lift. Mengapa pria asing yang meneleponnya? Kakaknya kenapa bisa muncul di Club kalangan atas seperti ini? Dengan penuh keraguan, Kenzie datang ke lantai 18.

Koridor itu sunyi, lantainya ditutupi karpet wol putih tebal, suara langkah kaki Kenzie benar-benar terendam, kesunyian yang tidak biasa ini membuatnya merasa sedikit merinding.

Lukisan-lukisan terkenal terpasang di dinding yang dilapisi wallpaper mahal, semuanya asli, jika dulu, Kenzie pasti akan berteriak kaget. Tapi sekarang, Kenzie tidak memiliki mood untuk melihatnya.

Ada suasana misterius dan menekan di udara, Kenzie berjalan menuju ujung koridor selangkah demi selangkah, jantung sudah mulai melompat tak terkendali!

1806, empat angka itu muncul di depan matanya. Kakakku ada di dalam!

Mengulurkan jari-jari putihnya yang ramping, Kenzie mengetuk pintu dengan lembut. Di dalam hening, tidak ada suara.

Hati Kenzie cemas, kekuatan di tangannya sedikit lebih besar.

"Klik..." Suara pelan terdengar, pintu kayu yang tampaknya tebal itu terbuka olehnya! Pintunya tidak terkunci! Di dalam gelap, tidak ada cahaya, dan tidak ada suara!

"Kakak ... Apa kamu di dalam? Kakak?" Kenzie merasa punggungnya dingin, kamar ini membuatnya memiliki semacam ketakutan yang aneh!

Tidak mendengar jawaban Rena, hanya samar-samar terdengar suara napas yang berat, seperti sedang mencoba menahan sesuatu, seperti sangat kesakitan.

"Kakak yang malang ..." Kenzie meraba-raba dan berjalan ke arah suara nafas yang terengah-engah itu. Kakaknya pasti sangat mabuk, dia harus segera membawanya pulang dan membuatkannya sup untuk menghilangkan mabuk.

Suara terengah-engah itu semakin dekat dengannya! Tiba-tiba, Kenzie merasakan bulu kuduk di leher belakangnya merinding! Ada orang di belakangnya!

Belum sempat bereaksi, detik berikutnya, dia sudah dipeluk oleh sepasang tangan yang kuat dengan erat! Ini bukan kakaknya! Ini adalah sepasang tangan pria, sangat panas, dengan membawa bahaya yang dapat menghancurkan segalanya dan juga seenaknya!

"Ah! Siapa kamu!" Kenzie berteriak, tubuhnya secara naluriah menggeliat, mencoba ingin lepas dari pengekangan pria itu.

Pria dalam kegelapan itu tidak menjawab pertanyaannya, tubuh yang kuat itu menghimpitnya, kekuatan telapak tangan besarnya semakin bertambah, otot paha yang kencang itu menahan kedua pahanya, salah satu tangannya langsung bergerak di tubuhnya!

Kenzie berjuang mati-matian untuk melawan: "Tidak ~ lepaskan aku!" Kata-kata yang dia teriakkan tidak berguna, tubuh gemetar karena ketakutan!

Penjarahan pria itu tidak berhenti, lidah yang panas itu menjelajah dengan kasar di bibirnya. Kenzie terkejut dan takut, dengan kejam menggigitnya, bau amis darah sedikit memenuhi mulutnya!

Pria itu kesakitan dan mendengus, sangat jelas dia kesal oleh Kenzie!

"Ah! ..." Ketakutan ekstrem membuat Kenzie berteriak dengan liar, jari-jarinya mulai berjuang untuk mencakar tubuh pria itu! Namun, tidak peduli seberapa dalam kukunya menancap, seberapa erat itu pula dia menggigit, suara teriakannya begitu putus asa dan tak berdaya, pria itu masih dengan tidak berperasaan menusuk masuk ke dalam tubuhnya!

"Jangan!" Rasa sakit yang luar biasa membuat Kenzie nyaris pingsan. Perasaan bagai disobek itu membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak. Akal sehat yang tersisa mengatakan padanya: Dia sudah kehilangan keperawanannya! Tapi! Dia sama sekali tidak tahu siapa pria ini! Bahkan dia juga tidak tahu seperti apa tampangnya!

Air mata mengalir turun, setetes demi setetes dengan deras, sangat getir membuatnya sulit untuk menerimanya.

Kegelapan dipenuhi dengan bau amis darah, tidak tahu sudah berapa lama berlalu, Kenzie sudah kesakitan hingga mati rasa, dia hanya tahu, kedua matanya sudah tertelan oleh kegelapan, dan hatinya benar-benar hancur total ...