Bab 675 Barang Peninggalan

Melihat tatapan Emily yang yakin ini, perkataan Natasia yang ingin dikatakan, tidak jadi dikatakan.

Menurut dia, Franklin kali ini dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Emily percaya dia masih hidup, juga adalah hal yang baik.

Kemudian, mereka masih ada hal yang banyak perlu diurus.

......

Sudah pasti pulang ke Kota Arola, Natasia juga dengan cepat mempersiapkannya.

Sorenya juga, segerombolan orang pulang ke Kota Arola.

Pada saat mereka sampai, Jacky sudah menyuruh orang menjemput mereka dibandara.

"Nyonya, Tuan Bai sudah membawa tuan muda pulang ke Cloud by The Bay."

"Aku sudah tahu."

Emily mengangguk kepala, masuk kedalam mobil.

Natasia mendengar mereka membahas "Tuan muda", menjadi sangat senang.

Dia belum pernah bertemu dengan Jerry Qin.

Tidak lama kemudian, mobil sudah berhenti dipintu apartemen Cluod by The Bay.

Natasia duluan turun mobil, lalu membantu Emily membuka pintu mobil, mengikuti Emily, mereka berdua satu didepan satu dibelakang berjalan masuk kedalam.

"Ibu!"

Mereka belum sampai ruang tamu, sudah melihat ada satu anak kecil berlari keluar.

Emily terkejut, wajah yang tidak senang itu dengan cepat berubah menjadi tersenyum.

Dia mengulurkan tangan kepada Jerry: "Jerry."

Jerry masuk kedalam pelukannya, dengan senang memanggil: "Ibu, kamu sudah pulang!"

Dia sudah sangat lama tidak bertemu dengan ibu.

Bisa dilihat, bahwa Jerry sudah rindu dia.

Emily mengulurkan tangan dan menggendongnya, dan memeluk erat tubuh kecilnya.

Dia menutup mata, menahan rasa sedih, menarik nafas, lalu kembali ke ekspresi biasa, agar kelihatannya dia tidak sangat baik.

Anak kecil sangat sensitif, walaupun dia tidak tahu orang dewasa sedang memikirkan apa, tapi, dia dapat merasakan, perasaan orang itu baik atau buruk.

"Iya, Jerry beberapa hari ini ada rindu dengan ibu tidak?" Emily meletakkan dadunya dibahu dia, lalu dengan suara lembut berkata.

Jerry mengulurkan tangan dan menepis bahu Emily, dengan suara lembut berkata: "Rindu, tiap hari rindu."

"Ibu juga rindu dengan Jerry." Emily menenangkan perasaannya, baru melepaskan dia, kemudian melihat kearah Natasia : "Ini adalah Bibi Natasia , dia adalah adik dari Paman Nicho."

Jerry dengan wajah bingung, walaupun dia belum mengerti apa yang dibilang adik, tapi dia tetap dengan baik memanggil: "Bibi Natasia !"

Natasia melihat kembaran kecil yang seperti Franklin, merasa sangat lucu, lalu dengan tidak tahan tersenyum berkata: "Hai, Jerry kamu lucu sekali!"

Dia sambil berkata, sambil mengulurkan tangan mencubit pipi Jerry.

Jerry tidak melawannya hanya memberi dia mencubit, tapi dia mengerutkan keningnya sebentar, kelihatannya seperti tidak senang, tapi hanya bisa menahan, dilihat oleh Natasia begini merasa benar-benar lucu.

Emily juga sudah melihat ekspresi Jerry, lalu tersenyum, menggendongnya masuk kedalam ruangan.

Jacky baru berjalan sampai depan pintu, melihat Emily sedang menggendong Jerry masuk kedalam, tatapan terkejut itu melewati dia, melihat kearah belakang dia: "Natasia ."

Natasia melihat kearah dia lalu mengangguk kepala: "Tuan Bai."

Kemudian, segerombolan orang masuk kedalam ruangan.

Setelah masuk, Emily memberi Jerry pada pembantu.

Lalu beberapa orang juga masuk kedalam ruang belajar Franklin.

Emily duduk dibelakang meja kerja Franklin, tatapan berada dimeja sebentar, dekoarasi yang diatas meja itu masih seperti yang dulu pada saat Franklin ada dirumah, tapi, Franklin sekarang kemana?

Natasia duluan berbicara: "Kabar Bos yang menaikki pesawat itu , belum diketahui kabarnya, sekarang saham LK sangat jatuh, kondisi juga tidak baik."

Emily beberapa hari ini juga di Kota B, dan tidak memerhatikan kabar berita, jadi tidak tahu masalah ini.

Tapi, bisa terjadi masalah ini, dia juga tidak merasa terkejut.

Emily mengangguk kepala, dengan wajah yang pucat, berkata: "Masalah Grup L.K, harus merepotkan Nicho."

Dia sekarang, selain mencari Franklin, masalah yang lain, dia tidak ingin lakukan, juga tidak ada waktu untuk memikirkan masalah ini.

Dan, masalah yang ada di Grup L.K, Nicho lebih tahu jelas dari padanya.

Jacky disaat ini juga mengatakan satu masalah.

Dia ragu sebentar baru katakan: "Abang aku sudah datang ke Kota Arola, dia ingin bertemu dengan kamu."

Emily mengangkat kepala melihatnya: "Diando Bai ?"

Jacky mengangguk kepala.

Emily menunduk kepala, berpikir sebentar, lalu melihat kearah Jacky: "Kamu bilang pada dia, aku bersedia bertemu dengannya, sudah pastikan waktu kabari aku lagi."

Keluarga Bai adalah keturunan keluarga militer, dan kekuatan mereka sangat hebat.

Orang Grisi sekarang di Negara Zmelakukan kejahatan, mereka juga sedang menyelidiki masalah Grisi.

Saat ini, mereka ada tujuan yang sama, jika begitu, mengapa tidak bekerja sama saja?

Emily yang saat ini, ingin membunuh orang Grisi.

Jacky melihat ekspresi Emily berubah menjadi sangat kejam, dia mengerutkan kening, berkata: "Baik."

Saat ini, diluar ada suara ketukan pintu.

Natasia melihat Emily, melihat dia tidak ada jawaban, dia berteriak berkata: "Masuk."

Yang masuk adalah seorang pembantu.

Dia melihat ketiga orang yang serius diruangan ini, dia dengan takut berkata: "Tadi, ada orang menelepon, katanya menemukan sedikit barang, kemungkinan barang tuan...peninggalan barang......"

Peng!

Barel pena di meja tiba-tiba jatuh kelantai, Emily berdiri di sana dengan penuh kemarahan, keras berkata: "Siapa yang bilang Franklin tenggelam mati! Dia tidak mati!"

Pembantu ketakutan sampai tidak berani mengatakan apapun.

Natasia melihat ini, lalu berjalan kedepan membawa pembantu itu keluar.

Emily sekarang suasana hatinya sangat tidak baik, dia hanya bisa membawa pembantu keluar untuk bertanya jelas.

Natasia berjalan keluar, Emily melihat kearah Jacky: "Kamu juga duluan keluar saja, tidak ada masalah lagi, beberapa hari ini sudah merepotkan kamu, dan Franklin, aku akan menemukannya."

Wajah dia pucat bagaikan kertas, hanya satu minggu saja, dia sudah sangat kurus, kelihatannya sangat lemah, tapi pada saat mengatakan Franklin, matanya seperti bersinar, dan sangat pasti.

Jacky sama dengannya, tidak percaya Frnaklin bisa mati begini.

Dia mengangguk kepala, berkata: "Aku akan menyuruh abang agar memperhatikan kabar Franklin."

Selesai bicara, dia juga keluar.

Tunggu sampai ruangan tinggal Emily seorang, dia baru duduk kembali.

Tidak lama, Natasia kembali lagi.

Melihat Emily duduk disana tanpa ekspresi, menjadi terdiam, dan ragu apakah harus memberitahukannya apa yang dikatakan pembantu, beritahu pada Emily.

"Mereka sudah mendapatkan barang Franklin?"

Emily dengan dingin tiba-tiba berkata, membuat Natasia terkejut.

Dia berjalan kedepan, setelah keraguan yang singkat itu, kemudian berkata: "Hanya selembar foto."

Emily dengan cepat melihat kearah Natasia : "Foto apa?"

"Aku membiarkan mereka mengirim foto kesini, ini adalah foto kamu bersama Jerry." Natasia melihat ekspresi Emily yang berubah, sampai berkata kebelakang suara juga mulai kecil.

Dia melihat Emily ekspresi seperti orang yang tidak ada roh, dan air mata seperti mutiara yang terputus benang satu satu jatuh kebawah.

Kemudian, adalah suara tangisan yang ditahan Emily.

Natasia ingat, didalam tujuh hari ini, dia belum melihat Emily meneteskan satu air mata.