Bab 673 Daftar Nama Pertama Korban Kecelakaan

Tidak menunggu Anna dan Jacky berbicara, Emily dengan cepat lari kekamar belajar Jacky.

Mereka khawatir dengannya, jadi mengikuti pergi.

Didalam ruangan ini tidak buka lampu, Emily dengan cepat berlari masuk, dalam perjalanan juga menghantam sudut meja dan kursi, ping pang ping pang terdengar suara didalam kamar ini.

Dia tidak merasakan sakit lagi.

Dengan cepat berlari kemeja kerja Jacky, lalu membuka komputer.

Komputer baru dibuka, sudut kanan bawah langsung keluar berita malam hari, tentang kabar pesawat jatuh itu.

Dia membuka kemudian, dengan tangan yang gemetar ini mengetik beberapa kali ini, mengetik tentang kata yang berhubungan dengan masalah ini.

Daftar nama pertama yang kecelakaan ini keluar.

Satu tangan Emily memegang mouse, lalu satu tangan menggumpal dengan erat, kukunya mencubit telapak tangannya dengan kuat, sampai keluar darah dia juga tidak ada rasa.

Pada saat Jacky dan Ana masuk kedalam, melihat dia duduk didepan komputer, melihat sesame, dengan cepat berjalan kesana.

Emily sedang melihat daftar nama kecelakaan, sangat panjang, dia dengan hati yang takut ini, satu persatu melihat kebawah terus.

Sampai nama yang paling terakhir, dia seperti orang yang kehabisan tenaga, berbaring dimeja itu.

Anna dengan panik: "Emily, kamu kenapa?"

Emily melambaikkan tangan, mengatakan bahwa dia tidak ada masalah.

Anna mengerutkan kening, tidak mungkin tidak ada masalah.

Bahkan dia aja merasa sedih, apalagi Emily.

Dia menoleh kebelakang melihat Jacky, hanya melihat dia dengan wajah pucat melihat daftar nama.

Dari sikap Emily, menyatakan, bahwa didalam daftar nama ini, tidak ada nama Franklin, tapi dia masih tidak bisa tenang ingin melihat sekali lagi.

Anna menunduk kepala, mengulurkan tangannya, ingin memegang Emily.

Hanya saja, tangannya tidak sengaja memegang Jacky, lalu dipegang erat dia.

Dia dipegang sampai sakit, tapi juga tidak mengatakan apapun, jika ini bisa membuat hatinya merasa lega sedikit tidak apa-apa.

Beberapa menit kemudian, Emily berdiri, lalu jalan kedepan.

Anna dengan cepat bertanya padanya: "Kamu kemana? Aku temani kamu pergi."

Emily berhenti sebentar, dengan suara yang sangat serak berkata: "Aku pergi melihat Jerry sebentar."

Jacky yang disampingnya, menarik dia, Anna menoleh kebelakang, melihat Jacky menggelengkan kepala padanya.

Anna tidak berkata apapun lagi.

Emily merasa dia seperti dalam mimpi saja, kepala berat kaki ringan, tubuhnya seperti sedang melayang.

Yang ada didepan matanya ini, yang dia dengar, lihat itu, semua tidak seperti nyata.

Disamping tempat tidur Jerry dibuka lampu meja yang tidak begitu terang.

Emily mendorong pintu masuk kedalam, melihat disamping tempat tidur ada lampu yang tidak sangat terang ini.

Sinar ini, tidak begitu terang, bisa mampu menyinari kegelapan satu sisi.

Emily menutup pintu, berjalan sampai ditempat tidur.

Jerry masih tidur dengan nyenyak, wajah yang temben ini karena panas jadi wajahnya memerah, kelihatanya seperti boneka modren tahun 80 tahunan.

Emily berlutut disamping tempat tidurnya, mengulurkan tangan ini memegang wajahnya.

Saat ini tidak ada yang tahu dia sangat panik, dan sangat takut, dia juga tahu sekarang berharap dia hidup masih belum pasti, tapi dia sekarang masih tidak tahan untuk berharap lagi.

Kemungkinan saja dia masih hidup?

Kemungkinan, Franklin yang membuat mereka itu mati?

Orang seperti dia, dia sangat hebat, orang itu pasti bukan seperti lawannya!

Emily dengan tenang menatap Jerry sebentar, kemudian berjalan keluar.

Franklin sekarang masih belum tahu ada nyawa atau tidak, dia masih ada banyak hal yang perlu dilakukan.

Pada saat dia keluar, menyadari Jacky dan Anna sedang berdiri didepan pintu, kelihatannya pada saat dia naik, mereka juga ikut naik.

Mereka saling melihat, tidak berkata apapun.

Emily mengangkat kepala, Jacky wajah yang pucat ini dilihat olehnya.

Jacky dan Franklin sudah memiliki hubungan yang puluhan tahun, perasaan dia saat ini, pasti juga sama dengannya, tapi masih mau khawatir dia juga.

Emily ingin mencoba tersenyum, tapi dia tidak bisa tersenyum dengannya, jadi dia juga terdiam saja.

"Jangan khawatir padaku, aku tahu sekarang harus melakukan apa, lagi pula, aku ada Jerry, walaupun semua aku abaikan, juga harus menjaganya."

Kali ini, dia akhirnya bisa tersenyum.

Jacky membuka mulut ingin mengatakan seuatu, tapi menyadari dia juga tidak tahu harus mengatakan apa, hanya bisa mengangguk kepala saja.

"Aku bawa orang ketempat jatuhnya pesawat dulu." Emily dengan wajah ekspresi yang tenang, tapi suranya masih sangat serak sekali.

Pada saat dia pulang dari Negara J, dinaik pesawat pribadi Franklin.

Pesawat ini sekarang masih berhenti bandara pribadi sendiri yang disebelah stasiun kereta api.

Sebelumnya pada saat Franklin pergi, dia masih mengusulkan, Franklin untuk naik pesawat pribadi langsung keNegara J saja, tapi ditolak oleh Franklin.

Dia bilang, ini sangat menarik perhatian orang, orang Grisi juga akan dengan cepat tahu, lalu akan cepat menjaga dibandara.

Ketelitian dia, kali ini sudah menjadi kesalahan.

Emily memutar kebelakang ingin pergi, tapi dipanggil oleh Jacky: "Aku pergi saja, kamu disini jaga Jerry saja."

"Aku bisa, Kota Arola sana, mau repoti kamu." Emily tanpa menoleh kepala mengatakan ini, kemudian pergi.

Dia sambil mengendarai mobil, sambil menelepon memanggil orang, setelah berkumpul, lalu mengendarai mobil kearah bandara pribadi.

Dari sini ke kota B , perlu naik pesawat selama satu jam.

Sekarang sudah senja.

Saat perjalanan, dia menelepon pada Nicho dan Renald He, dengan tenang mengatakan masalah ini, juga mengatakan pada mereka, dia sekarang ingin pergi ketempat jatuhnya pesawat.

Pada saat Nicho mengangakat telepon, dia masih bingung tidak mengerti, pada saat baru sadar, dia menggelengkan kepala: "Ini tidak mungkin?"

"Kenyataan memang begini, Franklin didalam pesawat ini, didalam pesawat selain orang pilot dan pramugari, selainnya adalah orang Grisi, sekarang pesawat itu jatuh, daftar nama pertama sudah diumumkan, Nicho, disaat ini juga, kita harus lebih tenang, jangan panik, pasti tidak akan ada masalah."

Kata yang paling terakhir, ini sedang menghibur Nicho, juga sedang membujuk diri sendiri.

Walaupun dia tahu sekarang harapan ini masih sangat tidak pasti, tapi nadanya ini sangat pasti.

Walaupun orang lain menganggap dia gila juga tidak apa-apa, bagaimanapun, dia tidak akan percaya bahwa Franklin bisa mati.

Secara ajaib, Emily berkata, membuat Nicho lebih tenang juga, dia dengan serius berkata: "Aku tahu."

......

Didepan ini sudah hujan.

Pada saat Emily sampai bandara, tiba-tiba hujan deras.

Dia juga mendapat kabar terbaru, Kota Bsedang ada angin topan.

Kota Badalah sebuah kota pantai, di perbatasan Negara Z, hampir setiap musim panas akan ada yang angin topan, tapi sekarang musim gugur.

Angin topan musim gugur, dibandingkan dengan musim panas lebih hebat lagi, mudah merusaki sesuatu.

Dari sini ke Kota B, mengendarai mobil perlu lebih kurang 10 jam.

Dia tidak bisa tunggu lama sekali.

Emily bertanya pada pilot: "Angin topan sudah sampai di Kota B?"

"Iya, walaupun sekarang kita masih bisa melakukan penerbangan, tapi sampai di Kota Bjuga tidak bisa mendarat?"

Emily memegang erat tangannya, lalu melihat kearah pilot dengan dingin: "Jika ingin mendarat?"

Pilot karena tatapan mata Emily yang dingin ini menjadi terkejut, lalu berkata: "Terjadi masalah kemungkinan 90 persen."

Emily dengan dingin berkata: "Bukannya masih ada kemungkinan 10 persen tidak terjadi masalah? Terbang, sekarang juga jalan!"