Bab 671 Beruntung

Jacky mengerti arti dari perkataannya.

Dia sebentar saja berdiri, lalu mengerutkan dahi: "Maksud kamu, pesawat yang dinaiki Franklin, adalah orang yang dipersiapkan oleh Grisi? Mereka ingin menjebak Franklin?"

"Grisi memang sudah mempersiapkan ini lama, terhadap Group L.K juga sudah mata merah, mereka iri dengan kekayaan Group L.K sudah lama, hanya saja, semenjak pemilu presiden membuat mereka menjadi lebih menambah keinginan mereka, adalagi......"

Emily menarik nafas panjang, sampai disaat yang penting ini, dia juga tidak perlu untuk menutup lagi.

"Kakek mungkin ada kerja sama dengan orang Grisi."

Emily mengulurkan tangan mengelus rambutnya, ini tindakan pada saat dia sedang kesal.

Dan Jacky dengan ekspresi terkejut melihat dia: "Franklin yang katakan?"

"Iya." Emily mengangguk kepala.

Jacky tidak berkata lagi, jika perkataan ini dikatakan oleh Franklin, maka sudah mendapatkan kepastian, bisa dipastikan, Abraham pasti sudah kerja sama dengan Grisi.

Dia tidak bisa terbayangkan, Abraham bisa bekerja sama dengan orang luar untuk melawan Franklin.

Dulunya Keluarga Bai adalah panglima yang hebat, walaupun juga ada masalah yang tidak baik yang tidak diketahui orang, tapi pada saat yang penting, Keluarga Bai masih memiliki satu pendapat yang sama, yaitu melawan orang luar, dan tidak melakukan keributan dalam keluarga.

Dia terpikir sesuatu lagi, lalu bertanya pada Emily: "Bagaimana kamu bisa tahu? Dari mana kamu mendapat informasi?"

"Leo yang beritahukan pada aku." Selesai Emily berbicara, melihat Jacky yang berwajah bingung ini, baru menyadari bahwa dia tidak tahu masalah Leo.

Dia hanya bisa dengan baik menjelaskan: "Leo adalah ketua grup 'K7'."

Kabar ini bagi Leo, sangat mendadak.

Dia terhadap kesan Leo, kesannya masih tentang disaat diluar negri, adegan Leo membantu Franklin mengobati luka itu.

Walaupun dia dan Leo tidak termasuk teman, tapi masih tahu tentang dia.

Dikesannya, Leo adalah dokter yang baik, walaupun keluarganya sangat kata, tapi tidak ada sikap seperti anak orang kaya yang jahat, malahan sangat baik hati.

"Tidak sempat menjelaskan pada kamu lagi, Jacky aku sekarang sudah bingung sekali, tidak tahu harus bagaimana." Dia sekarang masih bisa bicara dengan Jacky disini, karena dia masih memaksa bertahan.

"Kamu percaya dengan omongannya?" Jika Leo adalah orang Grisi, hanya bisa katakan bahwa pemikiran dia terlalu dalam, sangat pintar dalam hal menyamar, tidak boleh dianggap enteng.

Jadi, dia tidak percaya dengan omongan Leo.

Emily dengan yakin berkata: "Aku percaya."

Satu ini sangat aneh, terhadap Leo, dia masih percaya dengannya.

Jacky mengerutkan kening, bertanya: "Sudah hubungi Nicho?"

"Sudah hubung, tapi tidak bisa dihubungi." Emily menggelengkan kepala, lalu mengambil ponsel keluar ingin menghubungi mereka lagi.

"Pesawat sudah terbang sangat lama, walaupun kita sekarang kejar lagi, kemungkinan juga tidak bisa kekejar." Jacky ekspresinya sangat tidak bagus.

Jika masalah ini seperti yang dikatakan oleh Leo begitu, maka, Franklin sekarang kondisinya sangat bahaya.

Jacky dengan tenang analisis berkata: "Jika mereka ingin dengan kekayaan Grup L.K, maka tidak akan dengan cepat melukai Franklin."

"Tidak begini......" Pemikirannya Emily tidak seperti dia sangat baik, ekspresinya seperti ingin menangis saja: "Orang Grisi sudah bekerja sama dengan kakek, kakek dengan Franklin ada hubungan darah."

Perkataan yang dibelakang itu, Emily tidak katakan lagi, Jacky juga sudah bisa menebaknya.

Sekarang, Franklin dengan hubungan Dinasti Merovingian, semua orang sudah tahu.

Jika Franklin ada bahaya, Abraham masuk kedalam Grup L.K, juga akan menjadi sangat pantas.

Emily menelepon Nicho, berdering sangat lama, tapi tidak ada yang angkat.

Suara Nicho sedikit terdesak: "Nyonya."

"Tempat kamu sana terjadi masalah apa? Mengapa sebelumnya tidak mengangkat telepon aku?"

"Perusahaan dimasuki perampok, berniat ingin mengambil file perusahaan, aku dan Natasia juga sudah datang, jadi tidak sempat mengangkat telepon, rupanya yang merampok itu adalah karyawan perusahaan." Nafas Nicho sudah mulai teratur, tapi masih penasaran, mengapa sudah malam begini Emily masih menelepon dia.

Emily membuka loudspeaker, jadi Jacky juga bisa mendengar suara Nicho.

Didalam perusahaan ada yang mencuri barang.

Ini sebelumnya dengan tebakan Emily sama, tempat Franklin sana mungkin sudah ada orang yang jahat.

Ekspresi mereka berdua menjadi lebih jelek.

Emily menggigit bibirnya, lalu berkata: "Franklin sudah diatas pesawat, tapi Leo beritahu pada aku, pesawat yang diduduki Franklin, semua adalah orang Grisi."

Dia tidak menyangka, jawaban Nicho adalah: "Apa yang sudah naik pesawat? Boss bukan istirahat dirumah? Tadi dia bilang dengan aku dia tidak enak badan jadi......"

Pia!

Suara ponsel jatuh dilantai.

Emily dengan wajah pucat melihat Jacky.

Didalam telepon, Nicho masih berbicara: "Halo? Halo? Nyonya, kenapa? Apa yang terjadi?"

Tapi sekarang Emily sudah tidak sanggup mengatakan lagi.

Jacky juga tidak berbeda jauh, ekspresinya juga mulai berubah, dia mengambil ponsel: "Nicho, kamu tidak tahu bahwa Franklin sudah kembali?"

Nicho masih tidak begitu mengerti, terdiam sebentar kemudian berkata: "Tidak tahu."

Masalah Franklin kembali, dia tidak beritahu pada Nicho, tapi Leo bisa tahu masalah ini.

Hanya bisa menyatakan, perkataan Leo itu benar.

Jika bukan Grisi sudah tahu dimana Franklin berada, kemudian membuat rencana untuk melawannya, Leo juga tidak akan tahu hal ini.

Jacky melihat kearah Emily, dia dengan bodoh berdiri disana, juga tidak tahu sedang memikirkan apa.

Dia menghela nafas, kemudian membahas dengan Nicho, setelah menutup telepon, Emily berkata: "Aku sekarang menyuruh orang mengendarai pesawat pribadi untuk mengejar pesawat itu."

Jacky berteriak melarangnya: "Tidak akan bisa mengejarnya!"

Emily dengan marah berkata: "Jadi bagaimana? Sudah tahu Franklin sekarang ada bahaya, jika menyuruh aku diam disini saja tidak melakukan apapun?"

Dia sudah sangat stress.

Tidak ada yang tahu, orang itu hanya ingin menangkap Franklin, atau ingin nyawanya.

"Tidak aka ada masalah, Franklin tidak akan semudah itu mati, namun, kakek dia juga tidak akan mungkin bekerja sama dengan orang luar untuk membunuh Franklin, kakek dia terhadap dia mempunyai kendali yang luar biasa, dengan hal ini, dia juga tidak akan dengan mudah membiarkan dia mati."

Jacky makin menganalisis ini, makin merasa perkataannya ini sangat masuk akal.

Emily sudah lebih tenang, dan berpikir ini juga masuk akal.

Dia mengangguk kepala, berkata: "Benar, apa yang kamu bilang sangat masuk akal, kakek sangat ingin mengendalikan Franklin, dia tidak akan membiarkan Franklin mati dengan semudah ini......"

Abraham demi bisa mengendalikan Franklin, membuat sangat banyak hal, Emily lebih jelas dari siapapun.

Dulunya, Emily sangat membenci satu Abraham hal ini, tapi sekarang merasa hal ini membuat beruntung.