Bab 665 Kepribadian Yang Mengagumkan

Giselle seketika menjawa, "iya, aku akan membawa pulang semua bunga yang kamu sukai."

Isabel kemudian tertawa lebar, "bisa tidak jangan berkata sejujur itu!"

Giselle tersenyum tipis, "sebagai keluarga dari pihak nyonya Yun, maka kau harus sigap akan sikapku, dan menjaga wanita yang sudah menikah ini dengan baik."

Isabel kemudian tidak bisa menahan tawanya lagi, "aku juga heran, kenapa aku begitu menyukaimu!"

Setelah mengatakan hal itu, Isabel kemudian memalingkan pandangannya ke arah Wawat, "kamu jangan cemburu ya!"

Wawat yang beridir disamping kemdian memajukan bibirnya beberapa senti, "nyonya ini keterlaluan, nyonya berlaku tidak adil tetapi masih memintaku untuk tidaka cemburu! Melihat nona Yun yang begitu tulus membantu dan melindungi nyonya, maka kali ini aku tidak akan cemburu dulu."

Giselle berkata dengan terkekeh, "untung saja tidak ada wanita yang sepertiku di dunia ini, jika tidak, rasa cemburumu itu tidak akan bisa dikondisikan!"

Isabel seketika terdiam, "apa maksudnya?"

Giselle menghela napas panjang, "mereka akan saling bersaing!"

Isabel, Wawat dan Lydiatersenyum kecut dalam waktu bersamaan."

Lydia pada awalnya masih menganggap Giselle sebagai saingannya, tetapi begitu mengenalnya lebih jauh, dia mulai merubah pandangannya akan Giselle.

Dia tidak pernah memandang rendah siapapun, dan tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun.

Dia selalu saja begitu elegan dan bermartabat, sopan dan rendah hati.

Jelas jelas dia adalah seseorang yang tidak menempuh pendidikan tinggi, rendah diri hingga membuat orang lain tidak melihat akan keberadaannya.

Orang seperti ini bagaimana cara melatihnya hingga seperti ini?

Lydia makin penasaran akan Giselle.

Isabel mengelus elus perutnya dan menyelesaikan senyumannya kemudian berkata, "ayo kita kesana, mumpung mereka para Laki-laki belum selesai dengan urusannya, maka kita buruan pergi ke rumah bunga."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Wawat segera memapah Isabel berjalan menuju ruang bunga.

Rumah bunga ini Isabel sudah datang beberapa kali kesini.

Disini semua berisi benda kesayangan milik Stanley.

Isabel tidak tau entah sadar atau tidak dia menjelaskan kepada Giselle, "rumah bunga ini, sebenarnya memiliki arti tersembunyi. Karena kakakku dulu sangat menyukai tanaman, tetapi karena tubuhnya yang lemah jadi dia tidak bisa berdekatan dengan serbuk bunga, oleh karena itu Stanley membuat rumah bunga ini, meskipun kakakku tidak pernah menginjakkan kakiku disini, tetapi disini meninggalkan kesan yang begitu kental akan dirinya.

Sorot mata Giselle seketika bergetar, dan dengan cepat segera menutupinya.

Jika rumah bunga ini dibuat untuknya, terus kenapa?

Dia sekarang bukanlah Sacha, dia sekarang adalah Giselle.

Lydia seketika mengedarkan pandangannya kepada Giselle.

Dia juga tidak tau kenapa dia memiliki reflek untuk melihat ke arah Giselle.

Dia entah kenapa begitu ingin tau reaksi dari Giselle.

Tetapi ekspresi wajah dari Giselle masih menunjukkan ekspresi yang begitu datar dan tidak menunjukkan rekasi terkejut.

Lydia berpikir dalam hatinya, sebenarnya masalah yang seperti apa yang bisa membuat seorang perempuan yang begitu anggun dan pendiam bisa berubah menjadi tidak terkontrol akan emosinya?

Keempat orang itu dengan cepat sampai ke rumah bunga.

Pelayan yang menjaga rumah bunga ini mengenal Isabel, melihat kedatangannya, dia segera berlari menuju pintu dan membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya masuk.

Lydia pertama kali melihat rumah bunga yang seindah ini, dia kemudian tidak tahan untuk memujinya dan berkata dengan nada rendah, "ya Tuhan, indah sekali disini! Pasti tidak mudah untuk membuatnya hingga seindah ini."

Isabel mengguk, "iya memang, begitu banyak yang sudah dilakukan hingga rumah bunga ini bisa menjadi seindah ini. Sebenarnya ini bukan bukan yang paling indah, di sisi rumah yang lain kita masih punya yang lebih indah daripada ini. Sudah, kita bisa menikmatinya sepuas kita."

Setelah mengatakan hal itu, Isabel kenaikkan kedua alisnya dan berkata, " Giselle, kamu yang paling mengerti akan hal ini. Jika kamu melihat yang bagus, segera ambil dan bawa pulang."

Giselle tersenyum tipis, "baiklah, aku akan membawa mereka pulang tanpa kurang satu pot pun."

Setelah menjawab dengan penuh keyakinan, dia kemudian memalingkan pandangannya dan tidak sengaja melihat Lydia yang begitu penasaran, dia mengulurkan tangannya dan menyentuh sebuah tumbuhan yang berduri, di segera memperingatkannya, "jangan menyentuhnya dengan tangan...."

Tetapi itu sudah terlambat...

Setelah dia meyelesaikan kalimatnya, tangan Lydia sudah tertusuk duri dari tanaman itu dan membuat jarinya terluka,

Isabel seketika berkata kepada Wawat, "cepat ambil kotak p3k."

Giselle kemudian menyela, "tunggu dulu, bawa penghilang rasa sakit dan perban, jangan bawa handsaplast, dan bawa jarum dan benang juga kesini."

Wawat mengiyakan dan segera mengambil apa yang mereka butuhkan.

Giselle menjelaskan kepada Isabel dan Lydia, "tumbuhan seperti ini bisa mengakibatkan alergi nantinya. Jadi tanaman seperti ini diletakkan disini hanya untuk dinikmati keindahannya saja, tetapi tidak coock untuk diletakkan di kamar atau tempat yang banyak orang berlalu lalang."

Lydia menjawab, "kamu tau banyak akan tanaman."

Giselle hanya memablasnya dengan senyuman.

Wawat dengan cepat membawa pembersih luka dan kota p3k.

Giselle seketika menarik tangan dari Lydia dan segera memberisihkan lukanya, dia mneggunakan antiseptik membersihkannya hingga steril, membalutnya dengan perban, dan menjaitnya dengan jarum dan benang tadi.

"sudah, mungkin besok sudah membaik. Jangan lihat daun ini yang begitu tipis, dia bisa melukai kulit kita dengan sangat dalam, jadi aku membalut lukamu dengan perban untuk mencegah infeksi." Giselle kembali menjelaskan, "hari ini jangan sampai terkena air, tunggu sampai lukanya mengering baru boleh kamu buka perban ini. Handsaplast meskipun sedikit lebih nyaman dipakai, tetapi dia tidak membuat udara keluar masuk, dan bisa menghabat pengeringan dari luka di tanganmu."

Lydia menatap Giselle dengan dalam, dan kemudian dia tidak bisa menahan perkataannya lagi, "kenapa kamu sebaik ini kepadaku? Bukankah kita adalah saingan?"

Giselle tertawa tipis dan menjawab dengan percaya diri, "aku hanya tau kita harus saling mengasihi sebagai sesama manusia. Dan juga aku tidak berencana untuk bersaing denganmu dalam hal apapun."

Isabel setuju akan pertakataan Giselle dan menganggukkan kepalanya.

Jadi orang memang harus sepercaya diri ini.

Lydia semakin bingung menatap ke arah Giselle, dia bertanya dengan penasaran, "apa kamu sebaik ini kepada semua orang?"

Giselle menjawab dengan sedikit kaget, "kenapa kamu bertanya seperti ini? Tentu saja tidak. Di dunia ini begitu banyak orang, bagaimana bisa aku bersikap baik kepada semua orang? Aku hanya berbuat baik kepada seseorang yang berada di jangkauanku, dan membantunya sebisaku. Aku tanpa ragu, jika kamu dan Isabel terluka, maka aku akan lebih dulu untuk membantu Isabel mengobati lukanya, dan kemudian baru kemudian membantumu mengobati lukamu. Ini hanya kemanusiaan. Tidak karena apa dan tidak ada keharusan didalamnya."

Kejujuran dari Giselle tidak membuat Lydia kesal atau apapun, malah membuatnya diam diam semakin menghormatinya."

Hidup dia begitu apa adanya.

Hidupnya penuh dengan kejujuran.

Dia tidak melebih lebihkan, dan dia juga tidak menganggap bahwa dirnya lah yang terbaik diantara yang lain.

Tetapi dialah yang paling tenang dan paling tau apa yang harus dia lakukan.

Tetapi dia tidak berlagak bahwa dialah yang paling tau akan hal itu.

Isabel kemudian berkata, "entah kenapa aku merasa bahwa kamu sangat mirip dengan kakakku. Tetapi aku tau bahwa itu tidaka mungkin, kakakku sudah tidak ada di dunia ini."

Wajah tenang Giselle seketika terlihat sedikit bergeming.

"aku dan dia tidak memiliki takdir pertemuan yang bagus, begitu terlahir sudah terpisahkan jarah yang sebegitu jauh. Saat aku kembali kerumah, malah kita sudah tidak bisa bersama lagi." Isabel mengehembuskan napas panjang, "aku pernah bertemunya dalam mimpi, kepedualiannya, rasa sayangnya kepadaku, sampai saat ini masih saja terbayang dibenakku."

Giselle dengan cepat memalingkan pandangannya, dia malah menanggapinya dengan sedikit gurauan, "oh, kalau begitu itu seperti sebuah litik lagu yang sedang terkenal saat ini. "akan ada malaikat yang menggantikannya menjagamu." Aku mungkin adalah orang yang dia kirim untuk berada disampingmu, bertanggung jawab akan keselamatanmu dan menjagamu setiap saat."

Isabel kemudian tersenyum, "baiklah, aku akan menganggapmu sebagai utusan dari kakakku."

Wawat memandang Giselle beberapa kali.

Dia adalah orang luar, tetapi dia jga lah yang paling mengerti.

Dia juga merasa bahwa perhatiannya kepada Isabel melebihi segalanya.

Jika bukan karena dia sudah memeriksa latar belakangnya, maka dia akan mengira bahwa Giselle menyukai Isabel.

Dia juga bukan tidak pernah menylidiki Giselle.

Tetapi dia begitu terbuka jika ada seseorang yang meyelidikinya.

Orang yang begitu misterius, benar benar membuat orang tidak berdaya.

Lydia yang melihat sorot mata Giselle begitu lembut ketika menatap Isabel, dia kemudian tidak dapat menahan perkataannya, "aku sedikit iri. Dari kecil hingga sekarang, tidak ada orang yang memperlakuakan ku seperti itu."

Isabel dan Giselle bersamaan melihat ke arahnya.

Lydia dengan wajah yang begitu kesepian menjelaskan, "perempuan dalam keluargaku, selain persaingan hanya ada persaingan. Jika aku kalah, maka aku akan ditelantarkan oleh keluargaku, dan membuatku menjali hubungan dengan seseorang yang bisa menguntungkan keluargaku. Tetapi jika kau menang, aku hanya berganti menjadi milik Laki-laki yang lebih baik. Dari awal tidak ada seorangpun yang mengertiku seperti sikap yang kalian berdua tunjukkan..."

Giselle tersenyum tipis, "apa kamu pernah memberontak? Kamu tanyakan saja kepada dirimu, jika kamu meninggalkan keluargamu, apa kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan bahagia? Jika kamu pikir kamu bisa melakukannya, kenapa kamu tidak pergi saja, kenapa kamu tidak melawan saja? Jika kehidupan seperti ini adalah bukan kehidupan yang kamu sukai, kenapa kamu tidak berusaha untuk merubahnya?"

"aku...." Lydia terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia katakan.

"kamu hanya tidak bisa menolak kemewahan yang kamu nikmati saat ini, iya kan?" Giselle kembali melanjutkan kalimatnya, "kamu khawatir akan apa yang terjadi setelah kamu memberontak, dan kamu akan kehilangan segala kemewahan, tidak memiliki apapun, dan tidaka memiliki lagi keistimewaan sebagai nona di keluargamu, tidak lagi memiliki mereka yang selalu melayanimu, tidak memiliki lagi segala barang mewah yang selalu kamu pakai. Maka ini semua sangatlah adil. Kebebasan dan hidupmu sudah mau tukar dengan semua kemewahan yang kamu nikmati. Keluargamu menikmati pengorbananmu dengan memberimu segala yang terbaik. Ini sama saja seperti jual beli. Kamu sebagai pihak yang melakukan transaksi, kamu tidak bisa memilik menolak ataupun menerima."

Giselle yang awalnya begitu tenang, seketika berubah menjadi lebih kejam.

Tanpa berbelas kasih dia langsung mengincar apa yang menjadi kedok dari Lydia.

" Giselle...." Isabel kemudian menghentikan perkataan Giselle, meskipun apa yang dia katakan semuanya adalah kebenaran, tetapi bagi Lydia itu adalah suatu pukulan keras yang tidak bisa dia terima.

Giselle denga mata jernihnya melihat ke arah Lydia dan berkata, "aku hanya menjelaskan masalah dasarnya, jika perkataanku ada yang menyakitimu, maka aku akan meminta maaf kepadamu."

Sorot mata Lydia terangkat, "tidak, kamu tidak mengatakan sesuatu yang salah. Perkataan seperti ini tidak ada yang pernah emngatakannya kepadaku. Terimakasih karena kamu memarahiku dan mengingatkanku."

Suara Giselle berubah menjadi sedikit lembut, "sebenarnya kamu juga tidak salah. Keluargamu lah yang dari kecil mendidikmu untuk seperti ini. Tidak ada yang memberitahumu bahwa kebebasan dan kehidupan harus melewati segala kesengsaraan dan perjuangan baru kamu bisa menikmatinya. Ketika kamu hadir di dunia ini, kamu harus melewati dulu apa yang namanya hidup, dan kemudian kamu harus berjuang untuk hidupmu, baru kamu bisa menghirup udara di dunia ini. Hal ini berarti hidup itu penuh dengan perjuangan. Jika kamu kehilangan perjuangan dan ambisimu, maka apa arti hidup kamu untuk selanjutnya?"

"aku tidak berkata bahwa kehidupanmu yang seperti ini itu tidaklah benar. Tetapi semua kembali kepada penilaianmu. Jika kamu merasa bahwa semua yang telah keluargamu atur untukmu adalah baik, maka bagimu ini adalah yang terbaik untukmu." Giselle melanjutkan kalimatnya, "dan kebalikannya, maka kamu pikirkanlah sendiri baik baik akan apa yang paling kamu butuhkan."

------------