Bab 664 Perasaan Tidak Perlu Diperebutkan

"aku memberikan bibi lebih banyak pilihan." Isabel menjawab dengan nada sedikit bergurau. "menurut bibi, diantara mereka berdua mana yang lebih cocok dengan Stanley?"

Sorot matanya seketika berbinar, "menurutmu mereka berdua mempunyai kesempatan?"

"kelihatannya bibi juga tidak begitu keberatan akan Giselle ?" Isabel menjawab masih dengan sedikit gurauan, "jika Giselle memiliki keluarga yang begitu biasa, apa bibi akan keberatan?"

Nyonya Jiang mengerti bahwa Isabel berusaha untuk mencari tau akan pendapatnya.

Dia kemudian menepuk nepuk lengan Isabel, "kamu tuh ya! Kenapa malah bercanda hal seperti ini dengan bibi! Aku tau kamu dan Ravi juga tidak dengan mudah bisa sampai ke tahap sekarang ini. Jika aku tidak segera sadar,maka aku akan masuk dalam jebakanmu."

Isabel hanya tersenyum.

"keluarga memang sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah pribadi dari orang tersebut. Giselle meskipun bukan dari kaum elit, tetapi aura dan semua yang ada di dirinya begitu bagus. Dia memang tidak berpendidikan tinggi. Tetapi jika keluarga mereka bisa mendidiknya menjadi seperti ini, maka mereka bukanlah keluarga biasa. Tempramen seperti ini bisa terbentuk bukan hanya karena dia dalam dirinya yang memiliki kemampuan seperti itu. Putri dari keluarga kami juga tidak kalah baiknya dengan dia." Nyonya Jiang dengan sedikit kebingungan melihat ke arah Isabel, "apa perkataanku ada yang salah?"

Isabel menghela napasnya panjang, "aku juga sempat keliru. Tetapi dia jelas jelas adalah keluarga dari pihak mama. Papa ku juga sudak menyelidikinya dengan jelas, dia adalah salah satu keluarga dari keluarga Yun kami. Dalam keluarga Yun, selain yang berhubungan yangsung dnegan keluarga Yun, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menikmati keistimewaan dan segalanya milik keluarga Yun."

"jika seperti itu maka akan sedikit aneh." Nyonya Jiang mengangguk, "tetapi aku juga tidak peduli lagi." Asalkan dia adalah anak baik baik dari keluarganya, asalkan Stanley menyukainya, maka aku akan menuruti permintaannya. Kamu sudah hampir memiliki anak kedua, tetapi Stanley dia..."

Isabel berkata dengan senyum renyahnya, "bibi, bibi jangan terburu buru. Menurutku ini akan sangat menarik."

Nyonya Jiang juga menjawab dengan senyum, "baiklah, bibi akan mempercayaimu. Kamu sekarang adalah seorang istri yang memiliki kedudukan paling tinggi. Perkataan yang kamu ucapkan pastinya bisa diandalkan."

"aku senang jika bibi bisa mengerti." Isabel menggandeng tangan bibinya dan berkata, "aku juga ingin melihat Stanley cepat berkeluarga."

"kamu tuh yaa..." Nyonya Jiang menoel ujung hidung Isabel.

Nyonya Jiang membawa Isabel bersamanya, kemudian tuan Yun juga membawa kedua Laki-laki mengikutinya menuju ruang kerja, dan diluar hanya tersisa kedua perempuan yang berada pada situasi yang begitu canggung.

Akhirnya Lydia memutuskan untuk memecahkan kecanggungan diantara mereka berdua.

"nona Yun." Lydia dengan melihat ke arah Giselle, "apa aku bisa berbicara denganmu?"

Kemudian seutas senyum tersirat dari bibir Giselle.

Berdasarkan kecerdasan yang dimilikinya, dia kira kira tau apa yang akan dia bicarakan bersamanya.

Dulu teringat akan perkataan guru yang mengatakan bahwa jika seseorang terlalu pintar juga bukan merupakan hal yang baik.

Jadi, Giselle meskipun sudah mengetahui akan apa yang akan diakatakan, dia hanya mengangguk da berkata, "tentu saja boleh."

"aku telah belajar di luar negeri selama beberapa tahun, tujuan hidupku adalah agar bisa menikah dengan keluarga kelas atas." Lydia mengalihkan pandangannya menuju ke luar jendela, meskipun sekarang adalah musim dingin, tetapi tanaman di taman terlihat begitu indah.

"iya." Giselle menjawab singkat.

"aku dan kamu berbeda. Kamu dari kecil hingga besar tidak pernah dididik akan bagaimana bersikap jika menikah dengan keluarga kelas atas, hal seperti ini mungkin kamu tidak akan mengerti. Aku dari lahir selalu menunjukkan kualitasku kepada orang lain, dan masa depanku juga sudah jelas akan seperti apa nantiya." Lydia tersenyum sinis dan berkata, "dimata orang lain, aku adalah gadis dari kleuarga berada, aku selalu menggunakan barang barang bermerk, mengunakan baju baju yang mahal, menenteng tas bermerk juga. Tetapi tidak ada yang tau bahwa apa yang aku korbankan dengan berpenampilan seperti ini."

Ujung bibir Giselle seketika terangkat.

Dalam sekejap dia kembali teringat akan kehidupannya yang dulu.

Dulu dia juga mengalami hal seperti itu....

Tetapi dalam beberapa hal, masa depannya sudah ditentukan dari awal, dan tidak seperti Lydia, yang menunggu dengan tennag.

Jadi Giselle tidak memiliki pendapat yang buruk akan Lydia.

Sebenarnya semua orang hidup demi kleuarga besarnya, yang hanya mengiyakan apa yang telah mereka tentukan untuk nya.

"dulu saat aku masih kecil, aku sudah diajari bagaimana caranya bersikap dan menghadapi mereka para bangsawan, dan bagaimana menarik hati dari calon suami kita nantinya... bukankah aku sangat menyedihkan?" Lydia tersenyum dan memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Giselle, "apa nona Yun bisa mengerti akan perkataanku?"

Giselle mengangguk, "iya aku mengerti."

Lydia merasa sedikit terkejut menatap Giselle.

Giselle kemudian menjawab pelan, "aku tidak pernah merasakan kepedihan dari kehidupan orang lain, dan aku juga tidak memiliki hak untuk membuta penilaian akan hidup mereka."

Lydia dengan semakin terkejut melihat ke arah Giselle, "aku pikir kamu akan menertawakanku."

Giselle tersenyum tipis dan menggeleng.

Lydia melanjutkan kalimatnya, "jurusanku dalam kuliahku di luar negerti adalah seni. Dan apa yang aku pelajari tentu saja kamu mengerti, kamu juga akan memahaminya, semua yang aku lakukan hanya membuatku terlihat semakin menjadi orang kaya."

Giselle mengangguk, "banyak keluarga yang melakukan hal ini dalam mendidik anaknya. Hal ini hanya demi menjalin suatu hubungan yang menguntungkan."

"iya benar." Lydia tersenyum dan melanjutkan kalimatnya, "saat dulu pertama kali aku memulainya, aku sudah menjumpai mereka yang memiliki nasib sama sepertiku. Tetapi aku masih penuh dengan khayalanku, dan penuh dengan kemewahan. Mungkin orang yang akan menjadi suamiku nanti secara kebetulan juga menyukaiku? Jika kita bisa saling menyukai seperti ini, meskipun menikah hanya demi keuntungan semata juga tidak apa apa kan?"

"aku selalu percaya akan apa yang ada dalam khayalanku. Sampai saat aku bertemu dengan Stanley, aku tau bahwa apa yang aku inginkan sela ini hampir tercapai." Lydia berkata lirih, kepribadiannya begitu tulus dan rendah hati. Jika pernikahan ini dialah yang akan menjadi calon suamiku, aku berpikir bahwa aku tidak akan pernah keberatan melakukan pernikahan ini."

"aku bisa melihat bahwa orang yang dia sukai adalah kamu, iya kamu. Dia hari ini saja tidak melihatku sama sekali, tetapi dia selalu melihatmu diam diam." Suara Lydia menjadi semakin lirih, "jadi, nona Yun, jika kamu tidak menyukainya, apa kamu bisa mundur dari persaingan ini?"

Giselle tersenyum melihat ke arah Lydia, dia tidak menjawab pertanyaan ini, malah kemudian dia menanyakan sesuatu yang lain kepada Lydia, "apa makanan yang paling kamu sukai? Dan apa makanan yang paling kamu tidak suka?"

Lydia melihat Giselle dengan sedikit kebingungan, tetapi dia masih saja menjawab pertanyaannya itu, "aku paling suka makan buah buahan, dan yang paling aku tidak suka adalah cream."

"bagus sekali. Jika buah dan cream, saat kamu tidak dalam kondisi lapar, kamu akan lebih memilih untuk memakan buah, tetapi saat kamu merasa lapar hingga ingin mati, apa kamu akan memilih makan cream?" kemudian Giselle melanjutkan kalimatnya, "dalam keadaan kamu memiliki uang."

Lydia seketika menjawab, "tentu saja tidak akan, aku memiliki uang, kenapa tidak pergi keluar membeli buah buahan daripada memakan cream?"

Giselle menggerakkan tangannya dan menjawab dengan seyum, "tentu saja, sangat masuk akal kan. Aku akan keluar, dan Stanley juga akan melepaskanku, tetapi kenapa tetapi kenapa dia harus melepaskan kesempatannya untuk mengejar wanita yang dia sukai, dan lebih memilih untuk menerima seseorang yang keluarganya pilihkan untuknya? Dan juga, keluarga Jiang tidak pernah memaksakan sesuatu kepada Stanley, dia sekarang sudah mencapai usia 30an, dan sampai sekarang mereka tidak memaksanya untuk menikah. Oleh karena itu bisa diketahui bahwa keluarga Jiang begitu mengayomi dan pengertian."

Ekspresi wajah Lydia seketika berubah pasi.

"jadi, masalahnya bukan ada pada diriku, tetapi berada pada Stanley itu sendiri." Giselle berkata dengan tersenyum, "aku diibaratkan hanya sebuah tanda baca, tetapi tidak mewakili hal dan arti yang sebenarnya. Keberadaan dan ketidakberadaanku tidak akan merubah apapun dalam suatu kalimat. Percintaan bukan didapat karena perebutan. Semua yang diperebutkan bukanlah cinta, hanya mengasihi. Kedua orang saling mencintai akan merasa bahwa mereka akan saling kehilangan. Tetapi kegigihan seseorang hanya akan membuat satu orang saja yang akan kehilangan, dan yang satunya lagi akan menderita. Saat percintaan memiliki penderitaan, maka hubungan yang seperti ini bisa bertahan berapa lama?"

"kamu sebegitu mengertinya akan percintaan?" Lydia bertanya dengan penasaran.

"aku tidak mengerti. Aku hanya lebih diam daripada orang kebanyakan." Giselle berseringai, "atau mungkin aku lebih tidak berperasaan dibandingkan orang kebanyakan."

Sorot mata Giselle meredup, kemudian dia menutup kedua matanya pelan.

Dia yang waktu itu apa benar benar sebegitu tidak berperasaan?

Demi keluarga, demi adiknya, dia merelakan perasaannya sendiri dan memilih menerima lamaran dari Vincent?

Dia begitu menyedihkan, tidak berperasaan, dan menyakiti orang lain.

Bukan karena dia tidak mengerti.

Dia hanya berpura pura tidak mengerti.

Mengertipun bisa apa ?

Tidak mengerti juga bisa apa?

Akhirnya tidak akan berubah!

hanya perlu ada seseorang yang muncul untuk menanggung tanggung jawab ini.

hanya perlu ada seseorang yang rela dan bersedia untuk menanggung beban keluarga.

Karena dia adalah Sacha, dan dia adalah putri dari keluarga Yun, dan dia adalah putri tertua dari keluarga Yun!

Sebagai putri dari keluarga Yun, dia tidak bisa lari dari tanggung jawab, dan demi keegoisannya sendiri mengabaikan keluarganya.

Kehidupan manusia di dunia ini terlalu banyak hal yang begitu susah untuk dihadapi.

Dan ada begitu banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Di dalam keluarga dan percintaan, dia lebih memilih keluarganya.

Dia bukan perempuan yang baik, mungkin bisa dibilang perempuan yang tidak memenuhi kriteria sebagai layaknya seorang perempuan.

Tetapi dia tidak menyesalinya.

Atau bisa dibilang, dia tidak memberikan dirinya sendiri kesempatan untuk menyesalinya.

Lydia memandang Giselle dengan begitu tenang.

Entah kenapa, dalam sekejap dia merasa bahwa gadis yang berdiri didepannya ini memili keteguhan dan pemikiran layaknya Laki-laki dalam dirinya.

Perempuan ini jelas jelas adalah perempuan yang mungil dan lemah, tetapi keteguhannya, ketekunan, dan ketegasan dalam diri Giselle yang dia tidak miliki dalam dirinya.

Giselle yang menutup kedua matanya, dalam pandangan Lydia, ternyata terlihat begitu.... indah.

Saat itu juga, kemudian terdengar langkah seseorang yang berjalan mendekat, kemudian Giselle segera membuka kedua matanya.

Lydia mengkondisikan kembali pandangannya, dan mengikuti Giselle membalikkan badan ke sumber suara.

Ternyata itu adalah suara langkah kaki Isabel.

Giselle yang melihat Isabel sedang berjalan mendekat ke arahnya, dari ekspresi yang begitu teguh dan tegas seketika berubah menjadi begitu lembut.

Lydia sedikitpun tidak melewatkan perubahan dalam wajah Giselle.

Baiklah, dia kegum kepadanya untuk kesekian kalinya.

Isabel tersenyum dan berkata, "maaf, aku begitu asik memberi makan ikan, dan melupakan kalian berdua begitu saja."

Giselle dan Lydia tersenyum bersamaan, dan menunjukkan ekspresi tidak keberatannya.

Isabel dengan perut bundarnya duduk di sofa pelan pelan, Wawat kemudian menuangkan segelas air untuk Isabel.

Isabel menerimanya dan segera meminumnya, dan kemudian berkata, "kalian duduklah, jangan terlalu sungkan. Meskipun disini adalah kediaman keluarga Jiang, aku juga tidak mengangap diriku sebagai orang lain jika disini."

Setelah melihat mereka berdua yang mengikutinya duduk, Isabel baru kemudian berkata dengan senyum di bibirnya, "tadi aku sudah berbincang bincang dengan bibi, taman bunga disana aku sudah melihat sekilas! Bibi berkata, jika kita menyukai bunga disini, kita boleh membawa mereka semua pulang."

------------