Bab 662 Mencomblangkan Stanley Dan Giselle

Isabel sudah membuat keputusan, dan kemudian dia berkata kepada Giselle, "beberapa ini yang jelas masih belum tiba waktunya melahirkan, apa aku boleh merepotkanmu suatu hal?"

Giselle seketika menjawab dengan tegas, "tentu saja boleh."

"jadi begini. Paman memiliki rumah bunga, di dalamnya mereka menanam beberapa bunga yang sangat penting milik Stanley." Isabel melanjutkan dengan senyum di bibirnya, "kamu juga tau, aku sangat menyukai bunga anggrek. Apa aku boleh merepotanmu untuk membawa beberapa pot bunga kemari? Dokter berkata bahwa sebelum melahirkan aku harus menjaga perasaanku agar tetap bahagia agar memperlancar proses melahirkan."

Giselle tanpa berpikir lama langsung saja menyanggupi permintaan Isabel, "baik, aku sekarang akan segera menuju kesana."

"eh tunggu, tidak perlu sekarang juga ! tidak perlu buru buru !" Isabel melambai lambaikan tangannya berkata dengan cemas, "ditambah lagi Stanley juga sedang berada disini! Nanti kalian pergi kesana bersama sama saja! Dengan begitu kamu tidak akan tersesat. Tempat tinggal paman juga tidak seperti rumah ini yang bangunannya begitu memudahkan seseorang untuk mencarinya, rumah disana memiliki keunikan tersendiri. Jika kamu baru pertama kali datang kesana, maka kau akan dengan mudah tersesat."

Bibir Giselle kemudian bergetar, dan dia tidak mengatakan apapun.

"menunggu Ravi dan mereka menyelesaikan pembicaraannya, kita akan makan bersama. Setelah makan baru pergi kesana juga tidak mendesak." Isabel menekankan perkataannya, "kamu tidak perlu terburu buru untuk kembali, kamu harus menjaga pot bunganya dengan hati hati."

"aku mengerti." Sorot mata Giselle bergetar.

Dia sepertinya sedikit mengerti akan perkataan dan maksud dari Isabel.

Entah apa yang Giselle lakukan, Isabel tidak akan menyalahkannya.

Saat itu juga Ravi berjalan dari luar, begitu masuk dia langsung tersenyum dan berkata, "Isabel, paman menelpon dan tidak membiarkan kita untuk makan siang di rumah, disana mereka sudah menyiapkan semuanya, dan meminta kita untuk pergi makan siang disana."

Raisa yang mendengar langsung berdiri dan berkata, "tidak bisa, kalian saja yang pergi! Aku kebetulan akan pulang kerumah sebentar. Mendengar beritaku yang sedang mengandung, orang tuaku begitu cemas menantiku pulang, dan memintaku untuk mengeceknya sekali lagi."

Isabel hanya bisa mengangguk dan berkata, "baiklah. Kamu harus hati hati pada masa tiga bulan pertama, jangan smapai membahayakan kandunganmu."

"aku tau aku tau." Raisa melambaikan tangan kepada Ravi dan Giselle, "aku pamit dulu, bye-bye!"

Pradiptha dengan begitu bahagianya menemani Raisa kembali kerumah.

Isabel tersenyum dan berkata kepada Giselle, "kebetulan sekali paman mengundang kita untuk makan disana, maka kamu ikut saja sekalian."

"apa tidak apa apa jika aku pergi?" Giselle tersenyum pahit, "aku hanya pendamping keluarga, jika ada wawat yang mengikuti bukankah sudah cukup, apa aku juga harus ikut kesana?"

Wawat mengerti akan maksud dari Isabel, kemudian dia tersenyum dan berkata, "kamu dan aku itu berbeda. Aku itu bekerja untuk keluarga Kitadara, sedangkan kamu adalah orangnya nyonya, tentu saja kamu juga harus ikut bersama kami."

Ravi juga menyadari maksud dari Isabel, dia juga kemudian ikut menyaut, "iya, jika Isabel sudah berkata ikut, maka kamu ikut saja."

Mereka begitu gembiranya memutuskan untuk pergi makan siang ditempat Stanley.

Untung saja jarak rumah dari keluarga Kitadara dan Jiang tidak begitu jauh.

Dan lagi jika Isabel dalam keadaan seperti ini pergi keluar juga tidak bisa pergi terlalu jauh, pergi kemana mana juga dibatasi.

Jadi, keluarga Jiang mengundang seluruh keluarga untuk makan siag, mereka juga tidak membuat tempat yang sedikit hebok, karena tidak ingin membuat Isabel terbebani akan hal ini.

Mereka semua beristirahat sebentar, dan kemudian mempersiapkan diri segera menuju ke kediaman keluarga Jiang.

Stanley yang mengetahui bahwa Giselle ikut bersama mereka, sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum.

Isabel yang melihat senyuman di sudut bibir Stanley, dia menyadari bahwa dia melakukan sesuatu yang tepat.

Tentu saja, mereka begitu cocok, maka biarkan saja mereka saling mengakrabkan diri.

Giselle juga menyadari senyuman dalam bibir Stanley, dia hanya berpura pura tidak melihatnya saja.

Jika dia melihatnya terus kenapa?

Berdasarkan identitasnya yang sekarang, dia mana cocok bersanding dengan Stanley?

Jika dia masih memiliki identitasnya yang dulu, maka itu beda lagi ceritanya.

Sayang sekali, dia sudah menyakitinya dulu sekali.

Kali ini, bagaimana mungkin dia bisa seegois ini?

Giselle dengan cepat mengalihkan pandangannya, berlagak seperti tidak melihat apapun.

Mobil mereka dengan cepat sudah sampai di kediaman keluarga Jiang.

Isabel yang baru turun dari mobil seketika melihat keberadaan pelayan yang menyambutnya di pintu dengan senyum ramahnya.

Ravi lah yang menuntun Isabel sendiri turun dari mobil, Isabel dengan menggandeng tangan Ravi berkata kepada pelayan, "paman dan bibi sudah menyiapkan makanan enak apa saja hingga dengan khusus menelpon kami untuk datang makan siang."

Pelayan dengan sopan dan senyum masih mengembang di bibirnya menjawab, "hari ini merupakan hari yang spesial! Hari ini telah disiapkan makanan kesukaan tuan dan nyonya."

Isabel seketika tersenyum, memalingkan pandangannya ke pada yang lain, "hari ini ada hari baik apa?"

Orang yang lain menganggukkan kepala tidak mengerti.

Stanley juga menyiratkan wajah tidak mengertinya, "aku juga tidak tau! Apa kita merayakan terlebih dulu tahun baru?"

Giselle juga tidak menahan perkataannya, tersenyum dan berkata dengan nada lirih, "jika mereka berkata bahwa hari ini sedikit spesial, maka kita tidak boleh mengabaikannya. Kebanyakan orang juga tidak bisa merayakan perayaan ini. Perayaan setiap tanggal 16 ini tidak terlalu diketahui oleh orang, jadi jarang yang merayakannya. perayaan ini disebut Inverted Tooth, yang juga dikenal sebagai perayaan Tumbuh Gigi. Orang jaman dulu memiliki kehidupan yang tidak begitu beruntung, jadi pada hari ini, entah itu keluarga yang berada ataupun keluarga yang berkekurangan pun akan membuat dirinya menjadi sedikit prihatin."

"Hari Pengorbanan Gigi pada tanggal 16 bulan lunar adalah pengorbanan gigi terakhir tahun ini. Hal ini juga membawa arti lain. Hari ini, karena kehidupan setiap orang jauh lebih baik, sehingga kehidupan sehari-hari juga turut menjadi lebih baik. Perayaan seperti ini secara bertahap akan menghilang dari masyarakat, secara bertahap akan menyatu kedalam kehidupan masyarakat seperti biasa." Giselle menjelaskan dengan suara yang begitu rendah, hanya beberapa orang di sekitarnya saja yang bisa mendengar.

Penjelasan dari Giselle membuat orang disekitarnya terkagum kagum.

Orang yang tau akan segala hal, pengetahuan yang dimilikinya benar benar begitu menakutkan.

Isabel juga mengingat kembali bahwa dia juga mengetahui akan perayaan gigi ini, tetapi yang dia ketahui tidak sedetail Giselle.

Pengetahuannya yang seluas lautan di samudera, selain Sacha, maka hanya dialah yang memilikinya.

Pelayan juga melihat ke arah Giselle beberapa kali, dia berkata dengan mengacungkan jempolnya, "ini adalah penjelasan yang aku dengar hari ini dengan begitu lengkapnya! Nona, pengetahuanmu begitu luas dan tidak bisa diragukan."

Isabel kemudian berkata, "dia adalah si gudang pengetahuan, aku saja sampai terkejut kejut dibuatnya."

"sudah, jangan berbicara sambil berdiri, kita masuk dulu baru lanjutkan lagi obrolannya." Stanley melihat Giselle dengan senyum cerahnya, dia kemudian berkata kepada Isabel dan Ravi, "kalian juga bukan pertama kali datang kesini, jangan anggap diri kalian sebagai tamu yang harus dipersilahkan masuk terlebih dulu baru bersedia untuk masuk."

Ravi dan Isabel tersenyum bersamaan, mereka mulai berjalan masuk kedalam.

Baru mereka sampai di pintu masuk, kemudian terdengar suara dari dalam, kemudian Isabel berkata dengan tersenyum, "kita adalah keluarga, apa kita masih memiliki tamu?"

"kelihatannya seperti itu." Ravi menjawab ramah, "bibi sepertinya begitu menyukai keramaian."

Mereka semua memasuki rumah, Isabel berjalan di depan, dia mengganti sepatunya dengan sendal rumah, dan kemudian sudah ada beberapa orang yang menyambutnya.

Nyonya Jiang menarik seorang perempuan yang tidak dikenalnya mendekat ke arah mereka, kemudian Isabel menyapanya, "bibi mempunyai banyak makanan enak masih teringat kepadaku, aku benar benar terharu."

Nyonya Jiang menjawab dengan tersenyum, "tentu saja, jika aku tidak memikirkanmu pasti sudah diomelin sampai mati sama nenek. Sini sini bibi kenalkan dulu sama putrinya teman bibi, namanya Lydia, dia tahun ini berumur 24 tahun, dia baru lulus kuliah di luar negeri."

Lydia?

Kelihatannya perempuan ini tidak datang hanya untuk berkunjung saja.

Isabel tidak bisa menahan pandangannya untuk melihat Lydia beberapa kali, dan kemudian berganti melihat Stanley, dan kemudian Giselle.

Lydia menyapa dengan begitu sopan, "halo semua, apa kabar?"

Sorot mata Stanley seketika bergetar, tetapi tidak terlihat ada ekspresi lain didalamnya.

Giselle masih dengan ekspresi polosnya, tidak perduli akan apa yang sedang terjadi dihadapannya.

Isabel kemudian menjawab, "halo. Senang sekali bisa berkenalan denganmu."

Lydia mengangguk dengan sedikit rasa malu, saat dia melihat ke arah Stanley, sorot matanya tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya kepada Stanley.

Melihat ekspresinya yang seperti ini, tidak mungkin tidak menyadari situasi apa yang sedang terjadi.

Perempuan ini, mungkin adalah seseorang yang akan bibi kenalkan kepada Stanley?

Benar benar kebetulan sekali.

Dia juga mengharapkan agar Stanley bisa bersama dengan Giselle.

Sudahlah, lebih baik lihat dan perhatikan saja.

Entah Stanley akan lebih memilih siapa nantinya, dia pasti akan turut berbahagia untuk mereka.

Nyonya Jiang segera meminta mereka untuk segera menuju ruang makan.

Tuan Jiang juga sudah menuruni tangga, melihat kedatangan Ravi dan Isabel, seketika dia menyiratkan senyum sumringahnya, "benar benar tidak mudah mengundang kalian datang kerumah untuk makan bersama."

Ravi tersenyum canggung, "paman, paman juga tau kan, aku sekarang jarang sekali memiliki waktu senggang. Dan juga aku tidak tenang jika Isabel pergi keluar keluar."

"paman tau kamu bakal berkata seperti itu, jadi paman menunggu saat kamu senggang, baru mengundang keluarga kalian untuk datang." Tuan Jiang dengan senyuman memarahi mereka, "dokter berkata bahwa waktu kelahiran masih harus menunggu beberapa hari lagi, tetapi kalian sudah ke cemas ini. Saat anak kalian lahir, akankah kalian menjadi cemas setengah mati?"

"paman, jangan dibahas lagi, aku sudah gugup setengah mati." Ravi menjawab dengan jujur, "aku beberapa hari ini masih memperhatikan perkembangan dari Isabel, hal sekecil apapun yang terjadi aku pasti mengetahuinya. Aku hanya takut jika dia merasa sedikit tidak nyaman tetapi malah aku tidak mengetahuinya."

Tuan Jiang tidak tahan untuk menertawakannya.

"kamu tuh ya, jika dia merasa tidak nyaman, pasti dia juga tau dan bisa merasakannya, kamu hanya terlalu berlebihan saja." Tuan Jiang mengajarinya dengan tawa renyah di bibirnya.

Isabel memalingkan kepalanya menatap Ravi, "kamu dengar tidak? Jangan terlalu cemas, aku jadi ikut ikutan cemas karenamu."

Mereka berbincang dibarengi tawa memasuki ruang makan, dan kemudian duduk pada kursinya masing masing.

Isabel yang melihat Giselle masih berada diluar dan tidak masuk kedalam seketika berkata kepadanya, "kamu juga duduklah kemari."

Stanley juga menyambut perkataan Isabel, "nona Yun, kemarilah..."

Stanley langsung menarik kursi untuk Giselle duduk tanpa memalingkan pandangannya sedikitpun darinya.

Isabel berkata kepada tuan dan Nyonya Jiang, "ingatanku sangat payah sampai melupakan untuk memperkenalkannya kepada kalian! Dia adalah Giselle, dia adalah keluarga dari mama ku. Dan dia lah yang selalu membantuku selama ini."

Tuan dan Nyonya Jiang sedikit terkejut, dan kemudian mempersilahkannya untuk duduk.

Giselle tidak menyangka bahwa dia akan memperkenalkannya seperti ini, dia merasa sedikit tidak enak.

Dia sebenarnya ingin menolaknya.

Tetapi saat mendengar Isabel yang memperkenalkannya sebagai keluarga dari mama nya, maka dia tau bahwa dia tidak boleh menolak ajakannya.

Jika dia menolaknya, maka hal itu akan mempermalukan Isabel.

Giselle dengan sopan menuju ketempat duduknya, "terimakasih."

Giselle duduk disebelah kiri Isabel, Stanley juga duduk disebelah kirinya, kemudian disebelah kiri Stanley adalah Lydia, disebelah nya tentu saja adalah Nyonya Jiang.

------------