Bab 661 Memasuki Bulan Kelahiran

Giselle sudah mempelajari semua pengetahuan mengenai kehamilan dan persalianan, sampai pasca kelahiran pun bagaimana mengurusi bayi nya pun sudah dia pelajari semua.

Begitu kepala pelayan mengatakan bahwa plasentanya sudah matang, maka Giselle langsung mengerti.

Isabel sudah memasuki waktu kelahirannya!

Waktu selama mengandung bayi kedua memang lebih pendek daripada saat mengandung bayi pertama.

Setelah Isabel dipastikan hamil, semua orang begitu memperhatikan segala sesuatunya dengan bagitu ketat, perawatan kehamilan, asupan gizi, olahraga, semuanya harus diperhatikan.

Jadi, kandungan dan tubuhnya pun selaludalam pengawasan.

Begitu plasentanya sudah matang, maka hal ini diberitahukan kepada seluruh keluarga.

Semua keluarga mulai gelisah, memanggil semua orang yang berada diluar untuk segera kembali, dan menunggu kelahirannya.

Kegiatan disini juga hanya tinggal 3 atau 2 hati juga akan selesai.

Raisa sekarang yang dipastikan hamil, keluarganya juga begitu bahagia, semuanya berkata bahwa Raisa harus kembali dan menjaga baik baik janinnya.

Sekarang mendnegar bahwa waktu kelahiran kandungan Isabel sudah dekat, maka makin mengharuskan dia untuk lebih cepat kembali, dia tidak ingin melewatkan kelahiran bayi milik Isabel.

Giselle langsung memberikan kabar kepada Raisa, dan menanyakan agenda untuknya selanjutnya.

Raisa kemudian berkata, "aku besok akan kembali bersamamu. Masalah disini sudah aku serahkan kepada yang lain. Persiapan kegiatan ini sudah aku siapkan semuanya, mereka hanya perlu menjalankan apa yang sudah aku rencanakan. Isabel yang akan segera melahirkan lebih penting dari apapun. Dokter berkata jika plasenta sudah matang, maka tahap selanjutnya juga sudah hampir tiba, hanya menunggu beberapa hari saja."

Mendengar Raisa yang sudah mengatur segalanya, Giselle langsung menjawab, "baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya disini, dan kemudian kita bisa langsung berangkat."

Semua orang memutuskan untuk segera kembali, maka dari itu, mereka tidak ingin membuang buang waktu lagi, dengan cepat memebresakan segala sesuatunya dan segera kembali ke kota N.

Semua yang sudah diselesaikan oleh Giselle, semua dimasukkan kedalam satu dokumen, dan kemudian mengirimnya kepada Raisa, agar dia bisa melanjutkan rencana selanjutnya.

Pradiptha sudah tidak sabar menunggu, dia menjemput Raisa dari kota N, dan akan kembali lagi ke kota N.

Keesokan harinya, Giselle dan Stanley menarik koper milik mereka dan bersiap berjalan keluar, mereka mendapati bahwa Pradiptha sudah berada di depan dengan mengendarai mobilnya.

Giselle merasa terkejut.

Kenapa dia terburu buru seperti ini!

Jarak dari matangnya plasenta yang di tahap satu masih harus menunggu beberapa hari untuk sampai ke tahap dua.

Mungkin anak ini nantinya akan lahir pada tanggal yang bagus, dan kebetulan pada awal bulan besok.

Banyak orang yang belum pernah melahirkan anak tidak tau bahwa kehamilan memiliki siklus.

Secara umum, hari mengandung dihitung dari hari terakhir datang bulan

Jadi, perkiraan kelahiran Isabel berada pada bulan tiga atau akhir bulan pertama kalender lunar.

Tetapi karena ini merupakan kelahiran keduanya, dan mungkin karena anak dalam kandungannya begitu aktif, maka dia mungkin akan keluar dalam beberapa hari ini.

Jadi, plasenta lebih awal memasuki masa matang.

Tentu saja, saat minggu ke 36 anak dalam kandungan juga sudah memasuki waktu untuk siap dilahirkan.

Beberapa hal ini bisa diketahui oleh mereka yang pernah membaca buku mengenai kehamilan dan atau mereka yang sudah pernah melahirkan.

Tetapi, mengetahui dan merasa tegang adalah hal yang begitu berbeda.

Kondisi saat ini adalah keluarga Kitadara dan keluarga Yun dalam keadaan yang begitu cemas menanti kelahiran sang baby.

Isabel dari beberapa hari yang lalu sudah tidak diperbolehkan untuk keluar keluar, dia hanya beraktifitas didalam ruangan.

Yang jelas, dirumah juga bukan tidak ada tempat olahraga ataupun tempat hiburan.

Semuanya mementingkan keselamatan.

Kelahirannya kali ini begitu dinanti nanti oleh banyak orang.

Jadi, saat sudah mendekati waktu kelahiran, dokter dan perawat sudah dipersiapkan.

Mereka berempat menaiki dua mobil menuju kediaman keluarga Kitadara.

Seluruh keluarga menunggu dengan begitu waspada.

Melihat keadaan seperti ini, Raisa kemudian mengelus elus dadanya, "kenapa semua menjadi seheboh ini!"

Giselle juga tersenyum tipis, "sebenarnya plasenta dari tahap satu menjadi tahap tiga membutuhkan waktu satu hingga dua minggu, melihat mereka yang sewaspada ini juga memang sedikit berlebihan."

Raisa mengangguk menandakan setuju akan perkataan Giselle, "tidak heran bahwa Isabel beberapa hari ini begitu iri kepadaku karena bisa beraktifitas diluar. Tetapi dia juga tidak perlu iri kepadaku, aku dengan cepat juga akan segera mengikuti jejaknya."

Isabel sekarang juga tidak bisa berbuat apa apa.

Dia juga masih belum sampai waktu untuk melahirkan.

Kenapa semua orang menjadi setegang ini.

Ravi yang mendengar bahwa plasentanya sudah memasuki kematangan tahap satu, dia menghentikan semua rapatnya, dan segera menaiki mobilnya menuju kerumah, dia dengan begitu gugup memandangi perut Isabel, menunggu perutnya bergerak gerak karena tendangan dari si baby.

Isabel kemudian berkata, "kamu terlalu tergesa gesa! Bayinya belum sampai ke pinggul, ini masih terlalu dini. Kata dokter mungkin masih harus menunggu seminggu atau dua minggu lagi.

Ravi kemudian menaikkan kedua laisnya dan berkata, "tetapi dokter juga berkata jika plasenta sudah mulai matang, maka bayinya bisa kapanpun menuju ke pinggul dan bisa lahir kapan saja."

Isabel merasa terkekeh.

Baiklah, dia tidak akan membicarakan masalah ini dengan seorang papa yang sedang dalam keadaan yang begitu panik

Dia mungkin akan menggelar meja untuk membujukmu mempercayai perkataannya.

Raisa dan Giselle berjalan di depan, Stanley dan Pradiptha mengikutinya di belakang.

Isabel begitu mengangkat kepalanya langsung melihat kedatangan mereka berempat.

Isabel seketika begitu lega dan berkata, "kalian akhirnya kembali! Aku sudah bosan setengah mati ! kemarilah dan temani aku mengobrol."

Giselle melihat Isabel dengan perut yang begitu besar duduk di kursi, dan kemudian dia berkata, "melihat kamu yang begitu semangat ini, aku tau waktu kelahiranmu masih sedikit lama."

Isabel langsung membalikkan kepalanya dan berkata kepada Ravi, "dengar tidak? Sekarang masih terlalu cepat."

Ravi juga tidak membantah, dia hanya tersenyum dan berkata, "kalian berbincang bincang lah sebentar. Diptha, kakak, kita keluar dan membicarakan sesuatu."

Ketiga Laki-laki itu meninggalkan ketiga wanita yang berada di dalam.

Emm, seorang pewaris yang belum menikah, dan dua orang calon papa.

Sekarang di tempat itu tidak ada orang lain, Isabel dengan begitu penasaran berkata, "aku mau lihat perut kamu, aku mau lihat apakah sama dengan punyaku?"

Giselle seketika terbelalak.

Semua orang berkata bahwa begitu hamil bisa gila tiga tahun.

Kelakuan imut Isabel akhirnya terkuak.

Tidak disangka Raisa yang begitu bisa diandalkan dan biasanya selalu berpikir rasionalpun mengangkat bajunya ke atas, memperlihatkan perutnya kepada Isabel, dia bekata sambil memperlihatkannya kepada Isabel, "lihatlah apa ada perbedaan?"

Giselle seketika memegang wajahnya.

Usia kehamilan Raisa baru menginjak 7 minggu!

Apanya yang terlihat berbeda?

Setidaknya harus menunggu hingga tiga atau empat bulan baru kelihatan menonjol!

Isabel melihat ke arah perut milik Raisa, dan kemudian dia tersenyum, "oh iya, aku lupa, aku dulu harus menunggu 4 bulan membesar ini perutku."

Giselle tanpa menahannya, dan menelan ludahnya kesal.

Raisa juga mulai tersadar kembali, dan dengan keras menepuk lengan Isabel, "kamu mempermainkanku!"

"hahahahah siapa suruh kamu begitu gampang dibohongi!" isabe tertawa begitu bahagianya, "aku juga menggunakan cara seperti ini untuk mempermainkan Viona, dia juga tertipu, hahhahaha...."

Raisa dan Giselle seketika tidak bisa berkata kata!

"oh iya, berapa usia kandungan Viona?" raisa bertanya karena penasaran, "tidak mungkin kan jika hampir sama denganku?"

"secara teori, usianya sama dengan kandunganmu." Isabel mengangguk dan melanjutkan perkataannya, "jika tidak terjadi hal yang tidak diduga, anak kita semua lahir di tahun yang sama. anak perempuanku lahir di musim semi, dan anak kalian nantinya akan lahir di musim dingin. Mereka bisa bermain bersama sama."

Raisa mendesah pelan, "aku benar benar khawatir bahwa anakku akan seperti papa nya nanti jika besar."

"aku juga khawatir akan hal itu." Isabel juga turut mencibirinya, "saat melahirkan Arthur aku tidak sekhawatir ini. Anak perempuanku ini benar benar begitu pintar membuatku begitu khawatir."

Mendengar Isabel dan Raisa yang membicarakan statusnya sebagai seorang ibu, Giselle hanya duduk diam disamping, dia mendnegarkan sambil tersenyum, tanpa berani menimbrung untuk membicarakan topik itu juga.

Kedua itu berbincang begitu lama, Isabel kemudian baru menyadari keberadaan Giselle, segera dia melihat ke arahnya dan mengedip ngedipkan matanya, kemudian berkata, "beberapa hari ini maaf telah merepotkanmu."

"tidak apa apa." Giselle menjawab dengan senyum tipisnya.

"beberapa hari ini tidak ada masalah apa apa, kamu juga belum menikah, lebih baik aku tidak eterlalu merepotkanmu lagi." Isabel berkata dengan senyum melebar di bibirnya, "aku akan memberimu libur beberapa hari, dan bermainlah dengan puas."

"tidak perlu." Giselle menolak dengan tersenyum, "aku sudah mengecek informasi yang dibutuhkan, dan aku bisa membantumu sewaktu waktu, dan melindungimu selama waktu yang begitu riskan nantinya."

Isabel menghembuskan napas panjang, "masalah seperti ini sudah ada orang yang akan mengurusnya. Jadi kamu tidak perlu repot repot."

"aku hanya ingin membantu sekuat tenaga." Giselle menjawab dengan tersenyum, "entah aku bisa membantu atau tidak nantinya, setidaknya aku bisa merasa tenang."

Raisa tidak bisa menahan untuk melihat Giselle beberapa kali.

Seseorang yang begitu tulus apa adanya seperti ini benar benar sangatlah langka.

Sejujurnya semua orang mencurigainya dan mematainya diam diam.

Tetapi dia masih saja sejujur ini.

Membiarkan mereka terus mencurigainya dan mengawasinya.

Kejujurannya yang seperti ini malah membuat orang lain begitu melihat akan keberadaannya.

Raisa mengalihkan pembicaraan dan berkata, "terimakasih kamu beberapa hari ini menjaga Stanley dengan baik, maaf sudah merepotanmu."

Membantu menjaga Stanley?

Ini dari mana asal perkataan ini?

Giselle seketika terdiam, sorot matanya masih terlihat sedikit bingung, dan kemudian dia tersadar dan berkata, "Stanley berada diantara baiknya persahabatan diantara kalian, dan aku terbantu akan itu. Tetapi kebanyakan bahwa dialah yang membantuku, jadi presdir terlalu memuji, aku tidak pantas untuk pujian itu."

Raisa kemudian tersenyum, "kamu tuh ya terlalu rendah diri."

Giselle masih tersenyum tipis tanpa menjelaskan apapun.

Isabel malah mendengar ada yang sedikit aneh disini.

Kelihatannya Stanley memiliki pandangan tersendiri akan Giselle.

Dia bukanlah seseorang yang sesabar itu menemani seorang perempuan pergi selama dua hari.

Dia yang memiliki sifat yang begitu baik sangat menjunjung tinggi image nya.

Sebenarnya dia memiliki hati yang begitu ringan.

Seseorang yang bisa membuatnya berbuat seperti ini, pastinya merupakan seseorang yang memiliki kedudukan tersendiri dalam hatinya.

Jika dipikir pikir, Stanley dan Ravi lahir di tahun yang sama, tahun ini juga sudah mencapai 30 tahun lebih, dan dia sudah sepantasnya untuk berkeluarga.

Kelihatannya, keberadaan Giselle di hati Stanley benar benar begitu layak diperhitungkan.

Giselle bukan hanya seseorang yang begitu cerdas, tetapi dia sangat cocok untuk menjadi seorang ibu.

Terlebih lagi kemampuannya yang cemerlang. Meskipun dia tidak terlalu tinggi, tetapi kedua hal itu sudah cukup untuk menutupi kekurangannya.

Isabel semakin berpikir semakin dia merasa bahwa Stanley dan Giselle begitu cocok.

Entah kenapa, Giselle selalu memberinya kesan yang begitu akrab.

Isabel sendiri juga tidak bisa mengabaikan keberadaan Giselle begitu saja.

Sampai sampai dia tidak keberatan jika Giselle sampai menikah dengan Stanley.

Harus diketahui bahwa Isabel memperlakukan Stanley layaknya suami dari kakaknya!

Dia selalu merasa hanya Sacha yang cocok untuk mendampingi sosok Stanley yang begitu sudah suka maka akan susah untuk melepasnya.

Sedangkan sekarang, dia malah merasa bahwa Giselle juga ada baiknya.

OMG!

Isabel karena beberapa hari ini selalu memperhatikan Giselle jadi menjadi mempunyai pikiran seperti ini?

Ternyata dia malah merasa bahwa Giselle cocok untuk Stanley?

Huh, jika mereka saling memiliki perasaan, maka dia juga bisa mencomblangkannya kan?

------------