Bab 660 Terpeleset

Stanley seketike menjawab dengan tersenyum, "baiklah."

Giselle mengikuti Stanley menuju ke mobil, mereka segera meluncur ke sebuah restoran.

Meskipun mereka berdua memiliki tampilan yang begitu menarik,tetapi mereka tidak pernah memilih milih makanan.

Maka dari itu mereka memilih restoran barat dan segera masuk kedalam.

Saat masuk ke dalam resoran, hape milik Stanley berdering, dia mengangkat teleponnya, dan saat mengangkat teleponnya, keudian dia malah menatap ke arah Giselle.

Telepon itu berasal dari pengawalnya.

Dia sudah mendapatkan informasi dari Hansen.

Kecepatan yang dimiliki pengawal nya begitu cepat, dia mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan dalam sekali tangkap.

Pengawal yang melihat Stanley begitu memperdulikan Giselle tidak berani terlalu berlama lama, segera saja dia menyerahkan laporan nya kepada Stanley.

Setelah selesai dengan panggilan teleponnya, dia langsung menerima email.

Informasi dari Hansen dikirimkan melalui email.

Email yang dikirimnya begitu panjang, kebanyakan isinya adalah masalah tentang Giselle.

Pengawal itu sudah tau apa yang diinginkan oleh Stanley.

Dia ingin mendengar penjelasan suatu informasi yang lain dari mulut Hansen sendiri.

Jadi, gambaran Giselle dalam penilaian Hansen sudah dituliskan dengan jelas dalam email itu.

Saat pengawal menuliskan semua laporan ini, dia berpikir bahwa Hansen sedang berbohong.

Saat pengawal mengikuti Giselle diam diam dia menyadari bahwa Giselle adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang begitu menakjubkan, memahami beberapa bahasa, kemampuannya begitu cemerlang, da benar benar seorang sosok perempuan yang begitu lembut dan begitu elegan.

Seorang perempuan yang begitu mengagumkan dengan segudang kemampuan yang dimilikinya bagaimana bisa dia seperti apa yang dikatakan oleh Hansen bahwa dia adalah seorang perempuan yang menulis saja kesusahan, dari kecil sering berantem, berpacaran sedari kecil, mabuk mabukan dan sering tidak kembali ke rumah?

Ini merupakan suatu hal yang begitu berbeda!

Setelah mengancamnya dengan begitu keras, hingga todongan pisau mengarah ke kepalanya pun dia masih bersikukuh bahwa apa yang dia katakan adalah suatu kebenaran, dan saat itu juga pengawal baru mempercayai perkataanya.

Stanley melihat dokumen yang berisi pengakuan dari Hansen, merasa bahwa dokumen ini lebih detail dari laporan orang orang nya yang dia tugaskan untuk mengawasi gerak gerik Giselle.

Sampai sampai Giselle kapan datang bulan, apa makanan yang dia sukai dan tidak dia sukai sudah tertulis dengan jelas disana.

Tetapi file yang dilihatnya ini, Stanley merasa bahwa tidak ada gunanya sama sekali.

Karena sekarang dia sudah tau bahwa Giselle yang sekarang bukanlah Giselle yang dulu.

Entah pernyataan itu semengejukan apapun, dia sudah mempersiapkan dirinya dengan baik.

Giselle dengan kebingungan menatap ke wajah Stanley, "kenapa?"

Stanley memasukkan kembali teleponnya kedalam kantong, dia menjawab dengan tersenyum tipis, "tidak apa apa, hanya laporan mengenai pekerjaan."

Giselle mengangguk dengan pikiran tidak tenangnya, keudian dia mengikuti langkah Stanley masuk kedalam restoran.

Suasana yang begitu akrab, mereka memesan dua porsi makanan.

Etika Giselle dalam menyantap makanannya begitu elegan tanpa celah sedikitpun.

Stanley makin percaya akan pemikirannya.

Tubuhnya masih saja tubuh milik Giselle, jiwanya sudah bukan milik Giselle lagi, hanya saja tidak ada orang yang menyadarinya.

"masalah sore tadi aku benar benar berterimakasih kepadamu." Giselle membuka pembicaraan dengan pelan, "terjadi kejadian yang memalukan seperti itu, untung saja ada kamu bersamaku, jika tidak, aku tidak tau lagi bagaimana menghadapinya."

Apa kamu dulu tidak pernah menyelesaikan masalah seperti ini?" stanley dengan senyum melihat ke arah Giselle.

Sendok dan garpu yang dipegangnya seketike terhenti, dan kemudian dia melanjutkan memotong daging dalam piringnya, "tidak pernah."

Kejujuran dari Giselle membuat Stanley terseyum begitu sumringah.

Dia berkata seperti ini itu berarti bahwa dia bukanlah Giselle yang dulu.

Atau mungkin, dia mengakuinya bahwa dia bukanlah Giselle yang sebenarnya.

Tetapi mereka adalah orang yang pintar, dan tidak mempermasalahkan hal ini begitu lama.

Giselle mengangkat gelas anggurnya, sebenarnya dia ingin menanyakan sesuatu kepada Giselle, bahwa bagaimana hidupnya selama beberapa tahun ini, dan keluarga Jiang bagaimana keadaannya.

Tetap masalah seperti ini bagaimana bisa dia menanyakannya?

Identitas apa yang dia miliki hingga berani menanyakan hal seperti itu?

Dia ada hak apa untuk menanyakannya?

Stanley melihat ekspresi dari Giselle, dia mengetahui kekhawatiran dalam hatinya, dan dia kemudian menjelaskan, "beberapa hari ini keluargaku memaksaku untuk menemui beberapa perempuan. Mamahku yang melihat apa yang Barco lakukan agar menemukan istriku menjadi sedikit terpengaruh. Jika bukan karena kehamilan Isabel yang sudah hampir sampai waktu melahirkan, dan sedikit kerepotan akan tubuhnya yang semakin berat, mungkin dia akan meminta bantuan Isabel akan hal ini."

Giselle seketika menyaut, "Isabel juga sembarangan sekali, masalah pernikahan kenapa dia bisa berbuat seenaknya? Tetapi kamu dan mereka berbeda. Kamu adalah penerus keluarga Jiang, satu satunya penerus. Barco dan Balvi, tidak sepertimu, mereka tidak berkewajiban sebagai penerus keluarga. Jadi, mengenai istri bisa dipilihkan oleh orang lain, sedangkan kamu tidak bisa!"

"apa kamu selama ini selalu berpikir setenang ini?" stanley kemudian tersenyum tipis.

"kebanyakan si iya." Giselle menjawab tanpa mengelak, "aku sama sekali tidak menganggap bahwa ini adalah sebuah kekurangan."

"tentu saja bukan." Stanley malah melengkapi, "semua kebaikan dan kelebihan dalam dirimu, adalah semua yang paling disukai dalam setiap keluarga. Sempurna tanpa kekurangan sedikitpun."

"terimakasih." Giselle menjawab dengan sikap rendah hatinya.

"dan kamu.... apa kamu memiliki pemikiran untuk menikahi seseorang dari keluarga kaya ?" Stanley mulai menjuruskan pertanyaannya, "seperti keluargaku..... misalnya?

"aku tidak berpikir sejauh itu." Giselle menundukkan pandnagannya sambil menggoyang goyangka gelas anggur yang berada ditanagnnya, melihat air anggur yang menempel pada dinding gelas, dan mengucapkan kegelisahannya, "aku mungkin tidak mendambakan hal seperti itu."

Dulu, bisa bertahan hidup saja sudah begitu susah.

Mana ada pikiran untuk menginginkan hal seperti ini?

Sekarang kehidupannya begitu membingungkan.

Entah apa yang akan terjadi nantinya, bagaimana bisa dia berpikir seindah itu?

Keluarga kaya juga boleh, keluarga biasa saja juga tidak apa apa.

Dia sama sekali tidak membayangkan bahwa suatu hari dia akan menikah.

"jika kamu memiliki hak untuk mendambakannya?" Stanley dengan sorot mata berbinar melihat ke wajah Giselle.

Sorot mata Giselle bergetar, "maka tunggu saja kesempatan itu datang dan aku akan memikirkannya."

Topik ini harus berhenti sampai sini saja.

Setelah selesai menyantap makanannya, kedua orang itu meninggalkan restoran beriringan.

Di luar sorot lampu begitu bersinar terang, kehidupan malam sudah dimulai.

Saat angin malam mulai berhembus, Giselle tidak kuat menahan hawa dinginnya.

Musim dingin benar benar sudah datang.

Stanley melepaskan slayer yang melilit di lehernya, dan mengenakannya ke leher Giselle.

Giselle yang akan menolaknya, stanley kemudian berkata, "slayer ini bukan aku berikan untukmu, aku makan terlalu banyak hari ini, dan perutku terasa tidak nyaman, apa kamu mau menemaniku berjalan jalan sebentar?"

Giselle seketika tersenyum, dia menganggukan kepala dan menjawab, "baiklah."

Kedua orang itu mengikuti cahaya lampu dan berjalan dengan pelan.

Meskipun tidak satupu diantara mereka yang berbicara, keadaan hati ini terasa seperti kemarin malam.

Giselle dengan pelan berjalan disamping Stanley, tangan kirinya tanpa disengaja di ayun ayunkan.

Tiba tiba terasa bahwa ujung jarinya menyentuh jari jari milik Stanley.

Membuatnya begitu kaget dan segera menarik tangannya.

Tetapi Stanley malah menarik gengamannya, entah apa mkasudnya ini, dia kembali dengan pelan menyentuh jari tangan nya.

Giselle hatinya bergetar.

Dia, apa ini maksudnya?

Apa dia ingin menggandeng tangannya?

Tetapi dia sekarang tidak memiliki hubungan apapun dengannya, benar benar sangat cangung.

Sikapnya ini terlalu kentara!

Apa karena ini karena dia terlalu merasa bersalah kepadanya?

Ataukah, hanya kebetulan saja?

Giselle berjalan dengan pikiran yang semrawut.

Mereka berjalan di jalanan ubin yang terlihat sudah sangat lama, karena ada beberapa bagian ubian yang hilang dari tempatnya.

Giselle karena masih sibuk dengan pikirannya, jadi tidak memperhatikan akan jalanan yang sedikit rusak.

Saat dia menginjak bagian yang rusak, tubuhnya sedikit bergoyang, dan kemudian tubuhnya tersondong ke arah Stanley.

"aaaaaa......." saat Giselle menyadari bahwa tubuhnya terpeleset, dia langsung sontak berteriak.

"hati hati!" stanley mengingatkan dengan lembut, tubuhnya kemudian mendekat ke arah Giselle, tangannya menyambut tubuh Giselle yang akan terjatuh dan menangkapnya dalam dekapannya.

Giselle membuka matanya dan merasakan tubuhnya berada dalam dekapan Stanley seketika terdiam.

Jika diingat ingtat, dulu dia tidak pernah mengikuti kelas olahraga, di jadi memiliki respon yang lambat akan reaksi tubuhnya.

Saat dia berada dalam dekapan Stanley, dia merasakan kehangatan dalam diri Stanley.

Giselle merasa bahwa dirinya menjadi sedikit serakah, dan ingin merasakan lebih lama kehangatan yang diberikan Stanley kepadanya.

Stanley juga tidak ada niat untuk melepaskan pelukannya.

Kedua orang itu tanpa dirasa masih saja dalam sikap berpelukan ditengah jalanan.

Setelah berlalu cukup lama, Giselle kemudian menjelaskan sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Stanley, "tadi aki tidak hati hati, terimakasih."

Setelah itu dia semakin membuat jarak aman antara dirinya dan Stanley

Tetapi saat dia mencoba mendorong Stanley, dia tidak mampu untuk mendorongnya. Tangan yang berada di pinggang, malah terasa menjadi lebih kencang karena pelukan Stanley.

"tidak apa apa, tetapi aku sedikit kedinginann. Apa aku boleh memelukmu untuk menghangatkan tubuhku?" Stanley berkata dengan begitu lembut dan lirih.

Jelas jelas dia yang begitu peduli akan image nya, sekarang malah dia bersikap setidak tau malu ini.

Giselle hanya terdiam dalam tempatnya.

Tetapi dia kemudian tersadar kembali, kedua alisnya mengkerut dan menjawab, "baiklah, aku akan membiarkanmu sebentar."

Berada dalam pelukan Stanley kembali, dia menutup kedua matanya pelan, dia menyandar kepada dada bidang Stanley, mendengar detak jantungnya yang begitu kencang.

Detak jantung ini terasa begitu akrab, tetapi juga begitu asing.

Stanley juga memejamkan kedua matanya pelan, merasakan kembali hangatnya pelukan yang dulu pernah dia rasakan.

Perasaan yang dulu muncul kembali.

Dengan jarak yang mereka miliki sekarang, mereka malah menggunakan cara seperti ini untuk saling berpelukan.

Apa mungkin Tuhan sedang mengisyaratkan sesuatu?

Mereka berdua juga tidak menyadari bahwa mereka sudah berpelukan begitu lama.

Beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan dan memandang ke arah mereka beberapa kali.

Ada pasangan yang melewatinya, dan perempuannya dengan manja berkata kepada sang pacar, "kamu lihat tuh orang lain, itu baru yang namanya pacaran! Kamu malah tidak pernah memelukku seserius itu.

Laki-laki itu tidak tau apa yang harus dia katakan.

Stanley dan Giselle yang mendengarnya merasakan suatu keanehan.

Apa ini adalah pelukan dari orang yang berpacaran?

Apa dia dan Giselle juga bisa disebut pernah berpacaran?

Tidak tau apakah perkataan dari kedua sejoli itu, membuat mereka berdua melepaskan pelukan mereka perlahan lahan.

"terimakasih, aku sudah merasa lebih hangat." Stanley berusaha menutupi kecemasannya.

Giselle juga tidak berkata apa apa lagi, dia hanya menjawab dengan tersenyum, "emm, bagus lah kalau begitu."

Kedua orang itu saling tukar pandang, dan kemudian tersenyum dalam waktu bersamaan.

Dalam sekejap perasaan tadi hilang.

Mereka juga tidak ingin untuk melanjutkan jalan jalan malam mereka, segera menuju mobil dan kembali ke rumah.

Begitu masuk kedalam rumah, kepala pelayan langsung menyambut kedatangan mereka dan berkata, "tuan, nona, akhirnya kalian sudah kembali."

"ada masalah apa?" stanley langsung saja bertanya.

Kepala pelayan mengangguk dan menjelaskan, "tadi nyonya Isabel memberitahu bahwa jika masalah disini sudah selesai, maka menyuruh kalian untuk segera kembali ke kota N."

Giselle merasa sedikit aneh dan kemudian bertanya, "kenapa begitu buru buru?"

Kemudian kepala pelayan menjawab, "baru saja tadi, dokter sudah memeriksa lagi keadaan kandungan dari nyonya, dan hasilnya menunjukkan bahwa kandungannya, plasentanya sudah matang."

------------