Bab 21 Menunggunya Menciumnya

Carlson mengangkat alisnya, dibawah tatapan matanya yang gelap dan suram, dia berpikir dia sebagai pemimpin Group Aces, banyak orang mencari segala cara untuk bertemu dengannya. Namun, di dalam mata Ariella, dia bahkan tidak lebih penting dari uang satu juta rupiah dan seekor anjing.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Carlson merasa bahwa dia diabaikan, dan didalam hatinya terasa sangat tidak enak.

"Suara gonggongan ..." Mianmian juga sangat tepat menggonggong untuk mengekspresikan rasa protes dan ketidakpuasannya dengan pendatang baru itu. Ariella langsung menutup mulutnya: "Mianmian, kamu jangan ribut, biarkan mami bicara baik baik dengan paman Carlson. mami percaya paman Carlson begitu berbudi luhur, pasti tidak akan tidak masuk akal."

Carlson memandang orang dan anjing ini, untuk waktu yang lama barulah dia dengan suara berat berkata: "aku bukanya tidak menyukainya, juga tidak membiarkanmu untuk menjualnya."

Ariella: "..."

Carlson menambahkan: "Karena itu peliharaanmu, aku akan mencoba untuk menerimanya."

Ariella mengerakan bibirnya: "Terima kasih!"

Carlson tidak berbicara lagi, dan dia dengan elegan memakan sarapannya. Setelah selesai makan dia pergi bekerja seperti biasanya. Ariella berapa kali ingin mengambil inisiatif untuk bicara dengannya, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa, disaat pria itu mulai dingin benar-benar sangat dingin, membuat orang yang melihatnya seperti mengeluarkan aura dingin dari lubuk hati mereka.

Pada siang hari, Ariella karena harus menyusun ulang perencanaan awal proyek PT. Canics, berusaha untuk kumpul sebelum Direktur Aksa kembali, yaitu sebelum pergi makan ke Restoran Lily.

Pada sore hari disaat Carlson menelepon, Nisha sedang memberikan beberapa komentar untuk Ariella Ariella lagi-lagi tidak menerima panggilan dari Carlson. Awalnya berpikir akan menelponnya balik, tetapi begitu dia sibuk, pikirannya penuh dengan pekerjaan, mana mungkin masih ingat untuk menelpon balik Carlson.

Menjelang waktu pulang kerja, Carlson memanggil sekertaris Daiva: "Kalian para wanita pada umumnya marah karena apa?"

Daiva segera menebak seharusnya ada masalah di antara dia dan Ariella, dia memikirkannya lalu menjawab: "Wanita itu marah tidak perlu alasan apa pun."

Carlson mengangkat alisnya. Seharusnya dia marah karena Ariella tadi malam diabaikan olehnya. Dia hari ini memprotes dengan cara mengabaikannya.

Daiva menambahkan: "Tapi, wanita itu makhluk yang berhati lembut, selama kamu membujuknya, semua masalah akan musnah."

Setelah mendengarkan jawaban Daiva, Carlson memikirkannya lagi, Dia seumur hidup memang tidak pernah menghabiskan waktu untuk membujuk wanita. Benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Daiva diam-diam mencoba memahami pikiran bosnya. Menunggu waktu yang tepat dia berkata: "Semua wanita suka sesuatu yang romantis. Misalnya, beri dia bunga, ajak dia keluar makan, itu saja sudah cukup."

Carlson mengangkat alisnya dan menatap Daiva. Daiva segera berkata: "aku tahu bahwa ada restoran yang cukup bagus di Kota Pasirbumi, yang merupakan tempat yang disukai banyak pasangan. kebetulan restoran ini adalah bisnis milik keluarga Carlson, malam ini pasti tidak dibuka untuk umum."

Carlson masih tidak mengatakan apa-apa, tetapi dari sedikit perubahan ekspresinya, Daiva sudah tahu bahwa dia setuju, dan sambil tersenyum berkata: "Kalau begitu aku akan pergi mempersiapkan semuanya untukmu."

Carlson sangat tidak suka membuang-buang waktu untuk membujuk seorang wanita, tetapi orang itu adalah istrinya, dia tidak merasa menyebalkan.

Pada sore hari, Nisha memberikan dua saran tentang perencanaan awal Ariella, dan bicara dengan sangat tepat, Ariella lagi-lagi merevisi secara besar-besaran. Revisi sana revisi sini dan akhirnya revisi sudah sampai dititik yang cukup memuaskan, Ariella begitu melihat jam sudah jam tuju malah, barulah teringat Carlson.

Dia menyimpan file, menutup komputernya ...

Siapa yang menyangka ketika dia menoleh ke atas, dia melihat sosok tinggi berdiri didepan mejanya, dan sepasang bola mata yang dingin menatapnya dengan tenang.

Karena nalurinya, Ariella segera melihat ke sekeliling, dan disekitaran tidak ada satu orang pun, barulah dia buka mulut dan bertanya: "Kenapa kamu datang ke sini?"

Dia tidak mengangkat teleponnya, dia datang ke sini untuk menunggunya, setidaknya dia telah berdiri di sini selama sepuluh menit, tetapi dia sibuk dengan pekerjaan dan sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Pada saat ini selesai dengan kesibukannya, dia akhirnya menyadarinya, dan denhgan ekspresi terkejut, Carlson tiba-tiba ingin memecat dia. Dia sedikit batuk untuk menutupi ketidakpuasannya terhadapnya.

"Apakah kamu menungguku untuk pulang masak?" Kata Ariella sambil mengemas sambil berkata, "Maaf, begitu aku sedang sibuk aku langsung lupa, lebih baik pergi keluar makan saja."

Melihat dia tidak berbicara, Ariella berkata lagi, "Aku yang traktir."

Carlson tidak mengatakan apa-apa, mengulurkan tangan dan menggandeng Ariella jalan untuk pergi. Ini masih ada di dalam perusahaan, meskipun pada saat ini tidak ada orang, tetapi perusahaan masih ada cctv, tidak baik jika dilihat oleh orang lain, Ariella ingin memlepaskannya, tetapi dia malah menggandengnya lebih erat lagi.

Dia membawanya masuk kedalam lift khusus direktur, langsung ke tempat parkir, masuk kedalam mobil Bentley peraknya. Ariella dengan tenang duduk di kursi penumpang, sekilas memandang Carlson dari samping, melihat wajahnya dingin, membuat orang memiliki perasaan yang begitu serius, tanpa sadar dia geser kearah pintu.

Carlson malah tiba-tiba berbalik ke sisi Ariella, Ariella secara naluriah menghindar, kepala terbanting ke pintu, sakitnya sampai membuatnya menarik nafas.

"Jangan bergerak!" Carlson melihat kepalanya terbentur, wajahnya lebih suram lagi, dan dengan cepat membantunya mengikat sabuk pengaman. "Bersandar kesini biarkan aku lihat."

"Aku..." Ariella awalnya ingin menolak, tetapi ketika dia melihat wajahnya yang dingin, dia tidak berani menolak, hanya dapat dengan wajah yang memerah mendekatinya.

Ternyata Carlson tiba-tiba berbalik ke arahnya hanya ingin membantunya mengikat sabuk pengaman, dan dia sekali lagi memikirkan yang tidak-tidak. memikirkan pikirannya yang polos dipandang kedalam mata Carlson, Ariella menundukkan kepala dan menggigit bibir, sangat ingin bersembunyi di bagian bawah mobil dan menghindar sebentar.

Dia merasakan Carlson membuka rambutnya dan jari-jarinya dengan lembut menekan atas kepalanya, sepertinya dia benar-benar serius memperhatikan apakah dia terluka.

Detik berikutnya Ariella merasa ada yang salah, Jari-jarinya yang ramping jatuh dari atas kepalanya kebawah, ujung jari yang tebal bergerak ke atas pipinya.

Pergerakan ujung jari Carlson sangat ringan dan lembut, yang membuat orang merasa bahwa dia sedang mengelus permata yang bagus.

Ariella sangat terkejut sampai napasnya hampir berhenti, jantung berdetak kencang, mata tertutup tidak berani melihatnya.

Namun, setelah waktu yang lama tidak menunggu pergerakan Carlson ke langkah selanjutnya, Ariella membuka mata ingin melihat apa yang sedang dia lakukan.

Begitu dilihat, Ariella melihat bahwa wajah tampan Carlson datang mendekat, bibirnya yang hangat dicetak dengan lembut diatas bibirnya. Hanya menyentuhnya dengan sedikit sentuhan, dia melepaskannya, kemudian berkata dengan suaranya yang sangat seksi: "Sudah kan?"

"Apa?" Ariella terpaku tidak mengerti apa yang dia maksudkan, butuh waktu lama untuk bereaksi, Pria itu mengira dia sedang menunggu dia menciumnya. A a a ...

Ariella mengepalkan tinjunya dan menahan keinginan untuk memukul orang. Dia bisa-bisanya berpikir dia sedang menunggunya untuk menciumnya, jadi dia ...

Ariella mengulurkan tangan untuk melepaskan sabuk pengaman dan membantingnya, dengan liar berbalik kesisi sampingnya, nibir merah muda itu sangat menekan bibir Carlson dan tinggal selama beberapa detik, itu lebih lama dari ciuman Carlson, seolah sedang berlomba dengan Carlson. Kemudian dengan cepat pergi, duduk kembali ke kursinya dan mengikat sabuk pengaman, dia awalnya ingin berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi, tetapi wajahnya tapi malah semakin merah.