Bab 15 Dia Ketika Mabuk

Dikatakan bahwa malam bulan purnama adalah malam reuni keluarga, tetapi hatinya malah kosong. Dia sendirian tidak memiliki rumah, seperti pohon tanpa akar, seperti layang-layang yang senarnya putus, tidak peduli ke mana pun dia pergi, hatinya tidak merasa nyaman.

"Ayah, Ibu ..." Ariella menyebutkan orang yang sudah lama dirindukannya, matanya agak merah, "Sudah 3 tahun, apakah kalian pernah merindukanku?" Dia juga merupakan putri kandung orangtuanya, tetapi ketika masalah itu terjadi, mereka malah meninggalkannya, membuatnya sendirian di sana, tidak ada yang mengingatnya selama tiga tahun.

Tiga tahun, Ariella terkadang berpikir waktu selama itu terlewat dalam sekejap mata, tapi kadang juga merasa seperti telah hidup untuk waktu yang lama. Selama bertahun-tahun, dia sengaja tidak memperhatikan berita mereka, karena takut jika dia mengetahuinya makan dia akan semakin tidak mampu keluar dari jurang yang menyakitkan.

Namun, jika tidak memperhatikan apakah dia benar-benar tidak peduli? Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan sedih, sebenarnya bekas luka di dalam hatinya seperti tumor beracun, menyiksanya dari waktu ke waktu.

Seperti hari ini, meskipun dia sudah menikah dengan pria yang sangat baik dan penuh perhatian dalam semua aspek, tapi hatinya yang mengambang masih tidak dapat menemukan rasa aman dan rasa memiliki. Mungkin karena efek alkohol yang terlalu besar, sambil berendam dan sambil berpikir, Ariella hanya merasa kepalanya semakin lama semakin mengantuk, dan kemudian dia kehilangan kesadaran dan tidak tahu apa-apa.

Setelah Carlson menyelesaikan semua dokumen hari ini, dia kembali ke kamar, lampu di kamar menyala, tetapi Ariella tidak terlihat. Dia menunggu sebentar, tetapi Ariella masih belum terlihat, kemudian dia mengambil ponselnya dan meneleponnya, setelah panggilan itu tersambung, ponselnya berdering di kamar.

Carlson segera berpikir bahwa Ariella seharusnya pergi berendam ke sumber air panas. Setelah minum alkohol masih pergi berendam, jika...

Dia segera turun ke kolam air panas di halaman belakang, ketika dia tiba, dia melihat kepala Ariella yang menunduk perlahan-lahan, hampir saja kepalanya masuk ke kolam air panas.

Carlson bergegas masuk ke kolam air panas dan mengeluarkan Ariella, dia sedikit marah, marah karena Ariella bisa tertidur ketika dia berendam di sumber air panas.

Jika Carlson tidak datang tepat waktu, nyawa kecilnya ini pasti akan hilang.

Wajah Carlson mendingin, tetapi Ariella yang dalam pelukannya sama sekali tidak menyadari amarahnya, dan secara naluriah mencari kehanyatan dalam pelukannya, air di kepalanya membuat baju di Carlson basah.

Wajah Carlson menggelap sambil menggendong Ariella kembali ke kamar, masalah muncul. Dia tidak mungkin melemparkan Ariella dengan pakaian renangnya yang basah langsung ke ranjang.

Carlson menggendongnya masuk ke kamar mandi, bersiap untuk membasuhnya. Ketika membantu membasuh tubuhnya, Ariella secara tidak sadar dengan lemas jatuh ke dalam pelukan Carlson.

Tubuh lembut wanita, kulitnya yang halus dan bercahaya, seolah-olah sedang menggoda Carlson tanpa suara. Mata Carlson menggelap, tenggorokannya bergerak, dengan cepat menelan ludahnya dan berpura-pura tidak melihat apa-apa.

Tetapi tubuh Ariella sama sekali tidak bisa diam, badannya terus bergerak, dan masih mengulurkan tangan memeluk pinggang rampingnya, menyandarkan kepalanya di dada Carlson dan dengan puas menghela nafas.

Carlson adalah pria normal, dia Ariella terus seperti ini, dia tidak menjamin bahwa dia masih dapat menekan hasrat keinginan dalam tubuhnya. Jadi sebelum hal-hal di luar kendali terjadi, dia mengambil napas dalam-dalam, meraih handuk mandi di samping dan membungkus Ariella, lalu membawanya kembali ke kamar.

Carlson meletakkan Ariella masuk ke dalam selimut, kemudian mengambil gaun tidur dan memakaikannya, memandangi wajah merah Ariella, pandangan matanya sedikit menggelap, hormon pria berteriak liar di dalam tubuhnya.

Carlson menarik napas dalam sekali lagi, segera berbalik ke kamar mandi dan mandi air dingin.

Setelah mandi air dingin, Carlson kembali ke kamar, Ariella yang berada di ranjang sudah menendang selimut jatuh ke bawah ranjang, tubuhnya membentuk pose telentang.

Meskipun dia dan Ariella telah terdaftar sebagai suami istri selama hampir satu bulan, ketika dia tidak dinas mereka berdua tidur bersama, setiap malam Ariella tidur dengan sangat baik, ketika minum alkohol imagenya langsung hancur. Carlson berjalan mendekat kemudian mengambil selimut dan menutupinya kembali. Ariella tiba-tiba berbalik, kakinya menendang, selimut itu ditendang ke samping olehnya.

Kota Pasirbumi terletak di bagian selatan, meskipun cuacanya tidak terlalu dingin, tapi di sini adalah pinggir pantai, angin malam sangat besar, jika dia masih seperti ini maka dia akan masuk angin. Carlson menggelengkan kepalanya, dia hanya bisa berbaring kemudian memeluk Ariella yang tidur dengan tidak tenang, lalu mengambil selimut untuk menutupi mereka. Ariella secara naluriah mendekati sumber kehangatan, kepalanya masuk ke dalam pelukan Carlson, menyerusuk dua kali dan akhirnya sedikit tenang.

......

Ketika Ariella bangun, langit sudah terang. Ketika dia membuka matanya, dia secara naluriah melihat ke arah jendela, tanpa disangka, dia tidak melihat Carlson kali ini.

Selama ini, asalkan membuka mata, Ariella dapat melihat Carlson sedang duduk di dekat jendela dan membaca koran, hari ini dia tidak melihatnya, Ariella merasa sedikit tidak terbiasa. Dia berguling dan mengambil ponselnya, melihat ponselnya disetting ke mode penerbangan dan waktu sudah menunjukkan pukul 12:23.

Dengan kata lain, dia tidur sampai siang, melewatkan kegiatan divisi. Ariella seketika duduk, lalu melompat dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Namun, begitu melangkah, tindakan Ariella itu berhenti.

Ingatannya masih terhenti saat dia berendam di sumber air panas tadi malam, dan saat ini dia mengenakan gaun tidur, tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam gaun tidur itu. Dengan kata lain, dia tertidur ketika berendam di sumber air panas tadi malam, Carlson yang membawanya kembali ke kamar dan juga mengganti pakaiannya.

Ariella segera membuka kerah lehernya untuk melihat, kemudian dia menarik nafas lega ketika menemukan bahwa tubuhnya baik-baik saja, tapi masih belum selesai menghela nafas lega, kembali berpikir dia dilihat seluruhnya oleh Carlson tanpa kesadarannya, dia benar-benar merasa tidak nyaman.

Dia bersandar ke kepala ranjang dan malu: "Ahhhhh ..."

"Kenapa?"

Suara rendah dan seksi Carlson terdengar di ruangan itu, Ariella yang terkejut tubuhnya seketika kaku, dia bertambah tidak senang.

Ariella diam-diam mendongak menatapnya, Carlson sedang duduk di sofa di sudut lain kamar, memegang folder di tangannya, sedang mendongak menatapnya.

Ternyata dia berada di ruangan sepanjang waktu, hanya tidak bersuara, jadi dia baru saja melihat perilaku kekanakannya tadi. Ariella tiba-tiba berpikir andaikan ada celah di tanah, dia akan masuk ke dalam untuk menghindarinya.

Melihat Ariella tidak menanggapi, Carlson meletakkan dokumen dan berjalan ke arahnya, kemudian bertanya: "Apa kamu merasa tidak nyaman?"

"Aku baik-baik saja." Ariella mengambil bantal untuk meraih dirinya, benar-benar tidak ada muka menghadapinya.

Perilakunya tadi, Carlson telah melihatnya sejak awal, tetapi dia berkata dengan tenang: "Bangun dan bersihkan dirimu, setelah makan kembali bersamaku lebih awal."

Ariella berbisik: "Aku harus pergi mengikuti kegiatan divisi pada sore hari."

Carlson berkata: "Aku sudah meminta Daiva untuk mengambil cuti untukmu."

Ariella: "..."

Kali ini mobil yang dinaikinya itu bukan Land Rover yang biasa dipakai Carlson untuk bekerja, tetapi mobil berwarna silver abu-abu yang dikemudikan oleh supir, nomor platnya adalah A1688, logo di setirnya itu yang membuat orang lebih terkejut. Karena sebelumnya orang di sampingnya menyukai belajar mengenai mobil, jadi Ariella tahu sedikit banyak mengenai mobil, dia tahu bahwa ini adalah Bentley Mulsanne yang harganya sangat fantastis.