Bab 30 Dasar Penipu Kecil!

Kepala Emily terasa semakin pusing, dia menyentuh darah di wajahnya dan berusaha berdiri dengan terhuyung dan maju beberapa langkah ke depan.?

Dia ingin segera naik taksi ke Rumah Sakit, dia belum ingin mati karena ayahnya belum bebas dari penjara. Sahamnya juga belum direbut kembali dan Sonia juga belum membayar atas semua perbuatannya.?

Emily benar-benar sangat membenci mereka. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Tetapi sebagai cucu kedua dari Keluarga Su, semua orang ingin menindas dan menginjak-injaknya. Ini yang membuatnya tak mampu memaafkan mereka.?

Ada setetes air dingin yang jatuh di tubuhnya, sepertinya hujan telah turun. Beberapa pejalan kaki berhenti di sisinya. "Nona, Nona, ada apa denganmu?"

"Dia berdarah sangat banyak, antarkan ke Rumah Sakit..."

"Aku akan menelepon..."

Emily ingin mengatakan dia baik-baik saja dan masih bisa pergi ke Rumah Sakit sendiri, tetapi dia tidak mampu membuka mulutnya.?

Sebelum pandangannya berubah menjadi hitam dan kesadarannya perlahan menghilang, akhirnya dia mendengar sebuah suara yang akrab, "Nona Emily Su!"

......

"Tik..."

Ketika Emily membuka matanya, semua yang ada di hadapannya hanyalah warna putih. Penglihatannya sedikit kabur dan dia mengedipkan matanya beberapa kali.?

Ketika dia membukanya lagi, dia melihat langit-langit kamar dan bau desinfektan yang memenuhi hidungnya. Dia sudah berada di Rumah Sakit.?

"Sudah sadar?"

Sebuah suara akrab terdengar di telinganya, ini adalah suara yang dia dengar sebelum dia pingsan. Saat Emily menoleh, dia melihat wajah Nicho yang sudah dikenalnya. "Ni..." ketika dia membuka mulutnya, dia merasa tenggorokannya luar biasa tidak nyaman, begitu kering bagaikan terisi penuh dengan pasir.?

Nicho mengerutkan keningnya dan terlihat kehawatiran pada matanya birunya yang dingin. Dia berbalik dan menuangkan segelas air untuknya, memasukkan sebuah sedotan dan dengan hati-hati menyerahkan gelas itu pada Emily, "Minumlah sedikit."

Emily minum dua teguk air dan merasa tenggorokannya jauh lebih baik. Namun, suara itu masih serak dan tidak enak didengar, "Terima kasih."

"Jangan begitu sungkan, tak peduli siapa yang melihat keadaanmu yang seperti ini pasti akan membantu." Nicho meletakkan gelas itu di samping. Ketika dia menoleh untuk menatap Emily, alisnya masih berkerut.?

Emily tersenyum, dia tidak pernah menyangka bahwa Nicho akan menolongnya. Nicho tidak tahu bahwa tidak semua orang yang menemui hal seperti ini pasti akan membantu.?

Jika Sonia menemukannya dalam kondisi seperti itu, takutnya dia akan menambahkan luka lain dan berharap Emily dapat segera mati. Untung saja orang itu Nicho.?

Nicho melihatnya tersenyum, ekspresi bingung terlihat di matanya, "Perlu tidak mengabari keluargamu?"

"Tidak usah, terima kasih. Aku telah menyusahkanmu dengan mengantarku ke Rumah Sakit." Emily menggelengkan kepalanya. Mereka bukanlah teman dan Nicho bersedia mengantarnya ke Rumah Sakit, dia sudah sangat berterima kasih.?

Alis Nicho masih berkerut dan bertanya padanya, "Tidak perlu juga menghubungi suamimu?"

Franklin...

Emily tertegun dan menggelengkan kepalanya, "Aku akan menghubunginya nanti, kamu pulang saja duluan."

"Baiklah, aku pergi dulu. Ponselmu ada di sini," Nicho meraih sebuah ponsel dan menyerahkannya pada Emily. Emily menerimanya dan wajahnya menunjukkan rasa bersyukur dan terima kasih.?

Nicho menatapnya dengan tatapan rumit, berbalik dan pergi. Tidak ada seorang pun di dalam bangsal, Emily menegakkan tubuhnya dan duduk. Dia menyentuh bagian atas kepalanya, semuanya tertutup oleh kain kasa.?

Baru saja dia terduduk, seorang dokter masuk ke dalam bangsal. Dokter bertanya padanya, "Apa yang kamu rasakan sekarang?"

"Sedikit pusing dan sakit."

Dokter itu seorang pria paruh baya. Melihat wajah Emily yang pucat, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jika cederamu lebih berat sedikit dari ini dan sampai terkena tulang kepala, kamu tidak akan sadar dengan mudah. Kamu sudah kehabisan banyak darah, harus tinggal sekitar dua hari di Rumah Sakit."

Ketika Emily memukulkan botol itu, dia melakukannya dengan cukup keras. Dia juga sudah menduga bahwa cederanya pasti akan cukup serius, "Terima kasih, Dokter."

Dokter bertanya padanya sambil mencatat sesuatu, "Kenapa keluargamu belum ada yang datang?"

Emily tertegun begitu dilirik oleh mata Dokter yang serius itu. Dia menurunkan kelopak matanya dan berkata dengan malu, "Sebentar lagi akan datang."

Lagipula dia hanya terluka di bagian kepala, bukannya tidak bisa berjalan atau pun bergerak.?

Dia tidak ingin menghubungi Franklin, lebih tidak mungkin lagi menghubungi Keluarga Su. Alasan mengapa seseorang membutuhkan keluarga untuk menemani mereka di saat sakit adalah karena ingin mendapatkan perawatan dan perhatian.?

Franklin mungkin saja bersedia untuk merawatnya, tetapi dia tidak ingin Franklin melihatnya dalam keadaan seperti ini. Dia selalu merasa bahwa dia dan Franklin bukan pasangan suami-istri sungguhan, tidak ada perasaan yang mendalam di antara mereka berdua.?

Ketika Dokter keluar dari bangsal, Emily melihat waktu dan sudah hampir pukul dua belas. Suhu di bangsal sangat normal, tetapi Emily masih merasa sedikit kedinginan. Baru saja dia bersiap untuk meletakkan ponsel itu tempatnya dan ponsel itu tiba-tiba bergetar.

Jantung Emily berdebar kencang. Di saat seperti ini, siapa lagi yang akan meneleponnya. Seperti yang sudah diduga, dia melihat nama 'Franklin' yang berkedip di layar ponselnya.?

Emily ragu-ragu sejenak, tetapi masih mengangkatnya. Pada saat ini, meski tidak ada orang yang menemani di sisinya. Walaupun hanya sebuah suara bernada khawatir, dia juga sangat ingin mendengarnya. "Ada perlu?" Emily baru terbangun setelah tidur beberapa jam, suaranya masih agak serak.?

Suara Franklin terdengar seperti biasa dan sangat merdu, "Kamu dimana?"

Emily menyandarkan seluruh tubuh bagian atasnya di kepala ranjang, suaranya sedikit lemah, "Aku di rumah Anna, aku tidak pulang hari ini."

"Rumah Anna?" Franklin tampaknya tidak percaya.?

"Hmm, aku mau tidur dulu. Kamu tidurlah lebih awal."

Setelah itu, Emily menutup telepon dan meletakkan ponsel itu di sampingnya, bersiap untuk memejamkan matanya. Dia mengangkat tangannya untuk menekan lehernya dengan kuat untuk menahan rasa sakit yang hampir meledak dari tenggorokannya.?

Bukannya tidak pernah melewati masa-masa yang lebih sulit daripada ini, untuk apa menangis. Namun kali ini dia merasa sangat sedih ketika mendengar suara Franklin.?

Ponsel yang tak lagi berbunyi itu membuatnya merasa sedikit kecewa. Tak beberapa lama, Emily merasa dirinya sedikit lebih baik. Dia melepaskan tangannya dan membuka matanya.?

Tepat ketika dia membuka matanya, dia melihat sesosok pria yang duduk di dekat kepala tempat tidurnya, dia melebarkan matanya. "Kenapa kamu bisa di sini!" Emily terkejut dan menaikkan volume suaranya, wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya.?

Pria yang sebelumnya berbicara di telepon dengannya sedang duduk di atas ranjangnya, tatapan itu tertuju padanya dan menatap lurus ke arahnya. Setelah terdiam cukup lama, perlahan Franklin membuka mulutnya, "Dasar penipu kecil!"

Suaranya masih merdu seperti biasanya, tetapi ada perasaan asing. Emily menundukkan kepalanya dan untuk pertama kalinya dia tidak membantah ucapannya.?

Emily bertubuh ramping, sekarang dia menundukkan kepalanya yang terbungkus kain kasa itu membuatnya terlihat begitu lemah dan menyedihkan.?

Franklin mengatupkan bibirnya dan berkata, "Sudah makan malam?"

"Belum." Emily tak lagi berani untuk berbohong, juga tidak ingin mengusirnya. Franklin bangkit berdiri dan berjalan keluar. Emily buru-buru memanggilnya, "Franklin!"

Pria yang sudah berjalan ke dekat pintu, menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan ini. Dia berkata tanpa menoleh, "Di seberang Rumah Sakit ada toko bubur yang buka 24 jam, aku akan membelikanmu sesuatu. Jika kamu berniat untuk pergi tempat ini selama aku ke sana, aku tidak masalah."

Suaranya begitu tenang dan tanpa emosi, tetapi Emily memiliki firasat jika dia benar-benar memutuskan untuk pergi, Franklin pasti tidak akan mempedulikannya lagi.?

Franklin berjalan keluar setelah selesai bicara dan masih menutup pintu dengan hati-hati.?

Emily menatap ke arah pintu. Bagaimana mungkin dia rela untuk pergi, tidak ada orang yang tidak serakah dan mengharapkan perhatian dari orang lain.?