Bab 29 Ternyata Begitu Kejam Terhadap Dirinya Sendiri

Emily berteriak 'gawat' dalam hatinya. Alex Mu melihatnya, dia bahkan tidak dapat pergi mencari Anna sekarang. Dia takut Alex Mu akan melampiaskan kemarahannya pada Anna.?

Alex meliriknya sekilas dan terlihat ekspresi puas dari matanya, kemudian dia memiringkan kepalanya untuk mengatakan sesuatu kepada orang di sampingnya.?

Emily mengambil botol bir dari meja dan berjalan dengan cepat melewati kerumunan untuk keluar dari bar. Untungnya, dia mengambil posisi dekat pintu keluar.?

Sekeluarnya dari bar, Emily tidak berani membuang-buang waktu. Begitu melihat taksi di depan pintu bar, dia segera menghampirinya.?

Saat itu dia mendengar suara dari belakangnya, "Di sana!"

Tingkat pengeluaran Anna cukup standar, dia hanya memilih bar yang tidak terlalu mahal di Arola. Menurut logika, tidak mungkin dia akan bertemu dengan Alex Mu di sini.?

Hari ini sungguh sangat kebetulan.?

Para pengemudi taksi adalah orang-orang yang jeli, melihat orang-orang bergegas untuk mengejar Emily, dia tidak berani membawanya. Dia bahkan meninggalkan Emily sejauh mungkin dalam keadaan mobil kosong.?

Emily tidak memiliki pilihan lain selain pergi dengan cepat ke sisi lain kerumunan, namun dia dihentikan dengan cepat.?

Tujuh atau delapan orang mengelilinginya yang berada di tengah, Emily tidak dapat bergerak sedikit pun.?

Alex berjalan menghampirinya dan pria di sekitarnya membukakan alan untuknya. Alex menunjukkan senyum bengis di wajahnya, "Nona Emily Su, lama tak berjumpa."

Emily mundur beberapa langkah dan tubuhnya langsung menempel ke dinding, "Belum sampai satu bulan, sepertinya ingatan Tuan Alex kurang baik."

"Hmph!" Begitu Alex mendengar kata-kata ini, senyum di wajahnya semakin kejam. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Emily, tetapi ditepis oleh Emily.?

Wajah Alex semakin tidak senang dan menyeringai,"emosi Nona Emily Su agak kurang baik, tetapi aku menyukainya."

"Kalau begitu Anda kurang beruntung karena saya tidak menyukaimu." Bukan saja tidak menyukainya, setiap melihat wajah orang ini Emily selalu merasa jijik.?

Di mata Alex terlintas sebuah cahaya yang tidak biasa, "Wanita selalu seperti itu, mereka seringkali lain di mulut dan lain di hati. Begitu sampai di atas ranjang, mereka akan sangat menyukainya sampai tidak bisa merapatkan kaki mereka."

Emily menguatkan genggaman pada botol di tangannya tanpa berbicara, berkonsentrasi dan mengamati situasi di sekitarnya dengan hati-hati. Dia juga memikirkan cara untuk melarikan diri.

Alex melihat tatapan Emily yang memancarkan kebencian dan terlihat meremehkan. Dia mengangkat dagu wanita itu, tersenyum sinis dan melambaikan tangannya sambil berkata, "Bawa pulang."

"Siapa yang berani mendekat!" Emily mengangkat botol di tangannya. Sebenarnya dia merasa sangat gugup dan tangannya sudah berkeringat, tetapi dia hanya bisa memegang erat botol di tangannya tanpa melepaskannya.

Anak buah Alex telah bekerja cukup lama untuknya. Tidak sedikit mereka membantu Alex untuk memaksa dan membawa gadis baik dari keluarga mana pun. Semua wanita itu biasanya akan menangis untuk memohon pada mereka, atau akan dengan sukarela menyerahkan diri karena identitas Alex Mu...

Baru pertama kali mereka melihat wanita seperti ini, tidak menangis atau pun takut, malah masih mengarahkan sebuah botol ke arah mereka.?

Untuk sesaat, tidak ada orang yang benar-benar bertindak. Alex melihat ekspresi mereka yang bodoh dan pengecut, wajahnya tidak sedang dan berteriak dengan keras, "Kenapa diam saja, cepat bawa dia pulang untukku!"

Emily menelan air liur dan suaranya agak serak, "Siapa berani mendekat, aku adalah nona kedua dari Keluarga Su. Kakekku adalah Thomas Su."

Begitu mendengar kalimat ini, Alex Mu seakan mendengar sebuah lelucon. Dia tertawa dan orang-orang di sekitarnya juga ikut tertawa. "Dengar tidak, dia bilang dia nona kedua dari Keluarga Su. Dia adalah nona kedua dari Keluarga Su yang tidur sembarangan dengan pria dan aborsi saat SMA. Setelah aku bermain dengannya, siapa yang ingin menggunakannya silakan pakai saja..."

Mendengar ucapan Alex, Emily merasakan sakit dalam hatinya. Meskipun tahu apa yang dia katakan bukanlah kenyataan, tetapi kata-kata semacam ini masih tidak terasa nyaman di telinganya.?

Tidak ada gadis muda yang ingin nama baiknya dirusak dan sampai membuatnya kesulitan untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik.?

Semua hal ini disebabkan oleh Sonia.?

Tiba-tiba, ponsel dalam tasnya berbunyi. Emily tertegun dan intuisinya mengatakan bahwa Anna yang meneleponnya. Dia tidak berani mengangkatnya, juga tidak berani bergerak.?

Alex menepuk seorang pria yang paling dekat dengannya, "Bawa orangnya ke atas mobil dan berikan ponselnya kepadaku."

Seorang pria berjalan ke arah Emily, baru saja menjulurkan tangannya untuk meraih lengan Emily. Emily memegang erat botol di tangannya dan memukulkan botol itu di kepalanya sendiri. Darah segar dengan cepat mengalir. Wajah putihnya di bawah lampu penerangan jalan yang temaram, dan tertutupi oleh darah yang berwarna gelap, membuatnya tampak tidak biasa.?

Semua orang terkejut dengan tindakan tiba-tiba Emily, senyum di wajah Alex menghilang. Dia tidak menyangka bahwa Emily begitu kejam terhadap dirinya sendiri.?

Empat tahun lalu, dia pernah mendengar Emily yang tidur sembarangan dengan pria dan melakukan aborsi saat SMA. Dia pernah melihatnya satu kali dan langsung menyukainya karena kecantikan wanita itu. Tetapi kemudian dia pergi ke luar negeri dan Alex tidak punya waktu untuk bertindak.?

"Alex, menurutmu jika hari ini aku mati di sini, apa yang akan kakekku lakukan?" Suara Emily dingin dan jernih, di kepalanya masih ada beberapa pecahan botol. Seolah jika ada yang berani menyentuhnya sedikit saja, dia akan benar-benar mati di sana.?

"Kamu..." Wajah Alex berubah, menatapnya dengan tajam. Tenggorokannya seakan tercekik, dia menendangkan kakinya ke tanah sambil mengepalkan tinjunya dan berteriak dengan keras, "Dasar segerombolan orang bodoh!"

Alex terengah-engah dan merasakan kemarahan yang sangat dalam hatinya. Meskipun dia tahu Emily tidak dianggap dalam Keluarga Su, namun jika dia mati hari ini pasti Thomas tidak akan melepaskannya.?

Melihat Alex telah melampiaskan kemarahannya, Emily tahu bahwa dia tidak akan berbuat macam-macam padanya lagi hari ini, Emily menghela napas lega dalam hatinya.?

Kepalanya sudah mati rasa. Ketika angin malam bertiup, tubuhnya yang kedinginan menjadi sedikit linglung. Orang-orang di depannya semakin terlihat berbayang. Jika Alex tidak segera pergi, sebentar lagi mungkin dia akan pingsan.?

Untunglah, tak lama Alex pun pergi. Emily menggoyangkan tubuhnya, bertumpu pada dinding agar dapat berdiri dengan stabil. Dia menggelengkan kepalanya sedikit dan memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu.?

Dia berjongkok dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Melihat ada sebuah panggilan tak terjawab dan melihat nomor itu sebentar sampai dia sadar bahwa itu adalah nomor telepon Thomas.?

Dia meneleponnya kembali. Begitu telepon diangkat, langsung terdengar teriakan penuh kemarahan dari Thomas, "Pergi kemana saja kamu sampai tidak mengangkat telepon!"

Thomas sebenarnya hanya meneleponnya sekali. Jika bukan karena Alex yang membuatnya tidak dapat menjawab telepon itu, melewatkan satu buah panggilan telepon adalah hal yang normal. Hanya karena masalah sekecil ini saja Thomas sampai perlu memarahinya.?

Thomas masih mengatakan sesuatu, tetapi Emily sudah tidak dapat mendengarkannya.?

Emily tidak berbicara sama sekali. Tampaknya Thomas juga tidak peduli dia berbicara atau tidak, dia hanya mengatakan tujuan utamanya membuat panggilan ini, "Besok ada pertemuan keluarga, mau datang atau tidak terserah kamu! Lihat..."

Sambungan telepon terputus dan tangan Emily melemas. Ponsel itu terjatuh ke tanah dan dia kembali meraihnya untuk mengirim pesan teks kepada Anna.?

Dia merasa tubuhnya semakin dingin, mengedipkan mata seolah dia melihat kehadiran Franklin. Dia mengulurkan tangan untuk meraihnya, tetapi tidak ada siapa-siapa.?

Terlihat kekecewaan dalam matanya, ternyata itu hanya ilusi.?

Kenapa bisa kepikiran tentangnya??

Mungkin karena Franklin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya dengan sangat baik setelah usianya lebih dari 9 tahun. Meskipun Franklin selalu menggodanya, tetapi dia bersedia menikahinya, memasak untuknya, menahan semua sifat buruknya dan mengeringkan rambutnya...