Bab 28 Tidak Bisa Tidur Tanpa Mematikan Lampu

Franklin tersenyum penuh misteri, "Oh? Ternyata bukan sedang memikirkanku."

"....." Terlintas ekspresi tertekan dalam wajah Emily dan dia sekarang sedang berusaha menemukan celah untuk menyelinap pergi. Mengatakan hal yang bertujuan untuk menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya seperti ini, akan sangat aneh jika Franklin sungguh mempercayainya. Tiba-tiba mata Emily bersinar dan menatapnya dengan tidak mau kalah, "sebenarnya aku memang sedang memikirkan tentangmu."

"Apa yang kamu pikirkan tentangku?" Franklin mengangkat alisnya, sepertinya agak terkejut.?

"Aku sedang berpikir, bagaimana mungkin seorang pria bertubuh besar sepertimu bisa sampai takut gelap." Emily menunjukkan senyum cerah dan menatapnya dengan tatapan mengejek.?

Wajah Franklin berubah, namun tidak terlihat ekspresi apa pun di wajah itu.?

Emily yakin dia sekarang pasti sedang menggertakkan giginya, "Sudah malam, aku pergi mandi dulu." Emily memalingkan wajahnya dari Franklin yang sedang mengerjapkan matanya dengan polos, menekuk pinggang lembutnya dan berjongkok. Dia berjalan melewati lengan Franklin yang menumpu pada pintu lemari.?

Ketika mengunci pintu kamar mandi, wajah Emily masih tersenyum. Dapat melihat perubahan wajah Franklin adalah sebuah hal yang membuat setiap orang merasa puas.?

Di luar pintu, Franklin melirik ke arah pintu kamar mandi dan tatapannya terlihat tenang.?

......

Ketika Emily keluar dari kamar mandi, Franklin sedang duduk di sofa dan menonton TV. Dia sedang menonton saluran drama TV, sebuah drama perselisihan antar keluarga.?

Jika dia tidak cukup lama menghabiskan waktu bersama dengan Franklin dan tahu bahwa dia adalah pria sejati, pasti Emily akan mengiranya seorang banci.?

Mendengar gerakan di belakangnya, Franklin berkata tanpa menoleh ke belakang, "Sudah selesai mandi?"

Emily mengagumi kemampuannya dalam melakukan dua hal sekaligus, mengiyakan dengan canggung. Dia berbalik dan melompat ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.?

Setelah beberapa saat, suara TV menghilang dan terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Emily menutup matanya, tetapi belum tidur sama sekali. Setelah beberapa saat, suara air di kamar mandi berhenti dan ada orang yang menarik selimutnya.?

Dia secara refleks memegang erat selimut itu, tetapi orang yang menarik selimut itu sangatlah gigih. Begitu selimut Emily terbuka olehnya, dan Emily terduduk dengan kesal, "Franklin, sudah cukup..."

Melihat sebuah pengering tangan yang berada di tangan Franklin, kata-kata di selanjutnya hanya dapat tertelan kembali. Franklin seakan tidak mendengar nada bicaranya yang buruk, berkata dengan wajah datar, "Keringkan dulu rambutmu baru tidur."

Emily melihat tatapannya yang tenang, menolehkan kepalanya dengan sedikit perasaan tidak nyaman.?

Franklin tidak memberinya kesempatan untuk menolak,langsung menyambungkan pengering rambut dan menepuk tepi tempat tidur, "Berbaring di sini, biarkan rambutmu menggantung di ujung tempat tidur."

Emily melihat ekspresinya yang datar, kata-kata penolakan berhenti di ujung bibirnya. Pada akhirnya, dia berbaring di sana sesuai dengan apa yang Franklin inginkan tanpa mengucapkan apa pun.?

Tangan besar pria itu dengan gesit dan lembut bergerak di kepalanya, Emily merasakan sebuah perasaan aneh dalam hatinya dan tangannya dengan gugup mencengkram selimut itu.?

Franklin duduk di ujung ranjang. Begitu Emily memutar arah pandangannya, dia dapat melihat wajah Franklin. Hal ini membuat Emily merasa agak tidak nyaman, sepasang mata itu terus-menerus berputar dan tidak tahu harus menatap ke arah mana.?

Saat rambutnya sudah kering, Emily sudah mulai mengantuk. Pengering rambut sudah dimatikan dan suara 'weng weng' sudah tidak terdengar lagi, tetapi Franklin masih belum beranjak dari posisinya.?

Emily mendongak dan melihat tatapan Franklin yang penuh makna, wajahnya tiba-tiba mulai memanas. Kemudian dia mengikuti garis pandang Franklin dan melihat ke kerah piyamanya yang agak terbuka.?

Baru saja dia akan membuka mulut untuk memarahinya, Franklin tiba-tiba mendekat dan mencium dahinya, "Tidurlah."

Emily hanya bisa terbengong, dahinya yang tadi dicium oleh Franklin terasa sedikit panas seperti terbakar api. Sampai Franklin selesai menyimpan pengering rambut dan berbaring di sampingnya, Emily masih merasakan panas di wajahnya.?

Dia melihat Franklin menjulurkan tangan untuk mematikan lampu. Mengingat bahwa dia takut gelap, Emily yang mungkin sedang kerasukan setan berniat untuk menghentikannya, "Tidak perlu mematikan lampu tidur."

Gerakan tangan Franklin terhenti sebentar, namun dia tetap mengulurkan tangan untuk mematikan lampu.?

Dalam gelap, Emily tidak dapat melihat ekspresi pria itu. Dia hanya bisa mendengar suaranya yang merdu, "Saat itu aku hanya tidak dapat beradaptasi dengan kegelapan yang tiba-tiba. Jika tidak mematikan lampu, kamu tidak bisa tidur.

Ternyata Franklin juga tahu apa yang sedang dia pikirkan. Sebelumnya Emily terus mengira bahwa Franklin marah padanya karena dia terus meledeknya yang takut gelap. Sekarang Franklin telah mengatakannya dengan jujur, apakah ini artinya dia tidak marah lagi?

Emily bertanya dengan ragu, "Belakangan ini kamu sangat sibuk ya?"

Yang menjawabnya hanyalah sebuah keheningan, Emily sedikit menyesal telah mengajukan pertanyaan ini. Jika Franklin tahu bahwa Emily juga ingin bertanya kenapa kemarin dia pulang begitu larut, akankah dia menertawainya?

Setelah beberapa saat, terdengar suara Franklin yang samar-samar, "Kemarin agak sedikit sibuk di kantor. Saat bangun pagi aku tidak sempat membuatkan sarapan untukmu, aku juga pulang terlalu larut. Seharusnya aku mengabarimu, aku tidak menyangka kamu akan menungguku."

Mendengar kata-kata yang di belakangnya, Emily merasa ada yang salah, "Siapa yang menunggumu, aku hanya tertidur saat menonton TV."

Franklin seperti setengahnya yakin bahwa Emily sedang menunggunya, dia berkata dengan sungguh-sungguh, "Hmm, aku akan memberitahumu jika lain kali jika aku pulang malam. Kamu tidak perlu menungguku."

"......"

Emily tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Meskipun ucapannya ini terdengar agak aneh, tetapi di dalam hatinya terasa manis.?

......

Sonia sedang melakukan perjalanan bisnis, Emily melewati hari-harinya dengan tenang di kantor. Selama periode itu, dia sudah pergi ke dua acara jamuan makan malam dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Namun, minggu depan Sonia akan segera kembali. Emily sadar bahwa hari-hari tenangnya akan segera berakhir.?

Tepat pada Hari Jumat, ketika mendekati jam pulang kerja, Anna menghampirinya secara misterius, "Mari pergi bermain sepulang kerja."

Emily masih sibuk dengan pekerjaannya dan bertanya tanpa mengangkat kepalanya, "Mau main kemana?"

Anna tersenyum dan berkata, "Kamu akan tahu setelah sampai di sana."

Sepulang kerja, Emily diseret pergi oleh Anna. Kebetulan Franklin belakangan ini agak sibuk dan tidak sempat menjemputnya.?

Cuaca di akhir musim panas membuat langit lebih cepat gelap dibanding biasanya. Ketika mereka turun dari mobil, langit sudah gelap. "Di sini, hari ini kamu harus menemaniku bersenang-senang sampai puas."

Anna membawanya masuk ke sebuah bar dan Emily bahkan belum sempat memperhatikan nama bar itu. Setelah masuk ke dalam, dia melihat bahwa ada banyak orang di dalam sana.?

Anna membawa dua botol bir dan menarik Emily ke lantai dansa.?

Emily bukan orang yang suka keluar untuk bermain, di luar negeri pun dia sangat jarang mengunjungi tempat seperti bar. Dan lagi bar di luar negeri itu sangat berbeda dengan bar di dalam negeri.?

Dia mengatakan sesuatu dengan ragu, "Nana..."

Anna menyelanya dengan cepat, "Aku setiap harinya selalu sibuk dengan pekerjaan, sangat sulit mencari waktu untuk bersantai. Kulihat suamimu itu tidak terlihat seperti orang yang dapat diandalkan, kamu tidak usah begitu mengikuti aturan."

Pada akhirnya Emily masih tidak ikut naik ke lantai dansa, dia mencari sebuah tempat duduk di sampingnya dan duduk untuk minum bir. Baru saja dia duduk, tiba-tiba dia mendengar suara asing dari sisi lain, "Tuan Alex, silakan."

Emily tertegun, tidak mungkin begitu kebetulan kan. Begitu dia pergi keluar untuk bermain langsung bertemu dengan Alex Mu?

Dia mendongak dan melihat sekelompok orang sedang menyambut Alex Mu. Musik di bar terlalu keras dan Emily tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan.?

Emily mempertimbangkannya sebentar dan bangkit berdiri untuk pergi mencari Anna, tetapi baru saja dia bangkit berdiri, dia melihat Alex Mu sedang menatap ke arahnya.?