Bab 27 Pulang dan Biarkan Kamu Melihatnya Sampai Puas

"Memangnya kamu tahu aku begitu berani atau tidak..."

Setelah Emily mengatakan ini, dia terkejut dengan apa yang dia katakan. Anna juga menatapnya dengan takjub, "Kamu belajar kata-kata ini dari siapa?"

Dia menatap dan menatap ke jendela transparan yang panjangnya dari lantai sampai ke langit-langit ruangan. Matanya menyapu sebuah Rolls Royce dan terdengar ejekan dari suaranya, "Belajar dari pria itu?"

Emily tahu dia sedang berbicara tentang Franklin. Hubungannya dengan Franklin itu bukan sesuatu yang dapat dijelaskan hanya dengan satu dua kalimat saja, tiba-tiba wajahnya merona merah, "Apanya, jelas saja tidak."

Anna menatap ekspresi Emily yang tidak tenang, semakin tidak mempercayai ucapannya.?

Anna menyilangkan kedua tangannya di dada dan memiringkan kepala untuk menatap Emily, "Kuberikan satu kesempatan untuk mendapatkan maaf dariku, tapi ini hanya untuk sementara waktu. Lagipula ketika seseorang pergi ke luar negeri tanpa mengucapkan sepatah katapun, mungkin saja dia tidak pernah menganggapku sebagai teman."

Setelah Anne mengatakannya, dia menoleh dan menatap ke luar jendela. Wajahnya terlihat kecewa.?

Emily sedikit bingung, mengingat kejadian waktu itu, hatinya ragu. Tetapi dibandingkan keraguan dalam hatinya, dia lebih tidak ingin kehilangan satu-satunya teman yang memperlakukannya dengan tulus. "Kami... sudah meregistrasikan pernikahan, tapi..."

Emily menceritakan secara singkat hal-hal yang terjadi setelah kepulangannya ke China. Setelah mendengarkan semuanya, Anna membanting kopi yang telah dingin di hadapannya dan tertawa dingin, "Sonia saudara sepupumu itu dan kakekmu juga..."

Emily menggelengkan kepalanya, tentang Thomas dan Sonia, tidak ada hal yang bisa dikatakan lebih lanjut.?

......

Ketika keluar dari kedai kopi, hujan belum berhenti tetapi langit sudah gelap. Emily menatap khawatir pada Anna, "Kami akan mengantarmu pulang."

Anna melambaikan tangannya dan tidak ingin merepotkan Emily, "Sudah malam, besok masih harus kerja. Tempat tinggalku tidak jauh, aku pulang naik taksi saja. Hujan begitu deras, kalian pulanglah lebih awal. Aku pergi dulu."

Anna adalah orang yang tidak sabaran, terkadang juga meledak-ledak. Hal yang paling dia tidak sukai adalah mengulur-ulur waktu. Kebetulan ada sebuah taksi yang menuju ke sana, Anna segera menghentikannya, naik ke atas mobil itu dan pergi.?

Emily tidak punya waktu untuk menahannya. Ketika dia bereaksi, Franklin telah berjalan menghampirinya sambil membawa payung. Suara itu terdengar berat, "Ayo jalan."

Karena baru saja reuni dengan teman baiknya, suasana hati Emily sangat baik.?

Jika bukan karena sudah malam, mungkin dia dapat menghabiskan waktu lebih lama dengan Anna. Meskipun tidak saling menceritakan bagaimana mereka melewati beberapa tahun ini, namun itu adalah sebuah kebersamaan yang menimbulkan perasaan nyaman.?

Mungkin itulah yang dinamakan teman sejati. Emily melihat arah Anna pergi dan menjawab dengan linglung, "Hmm."

Kemudian dia secara pasif ditarik pergi oleh Franklin menuju ke tempat parkir.?

Di atas mobil, Emily masih tenggelam dalam kegembiraannya. Sudut bibirnya tidak bisa ditahan untuk terus naik dan matanya berbinar-binar dengan cahaya terang.?

Franklin yang masuk ke dalam mobil tertegun sementara waktu saat melihat keadaan Emily yang seperti ini.?Mengenal Emily selama beberapa waktu ini, dia belum pernah melihatnya begitu bahagia.?

"Apakah dia teman baikmu?" Franklin berbicara sambil memasangkan sabuk pengaman pada Emily.?

Emily sampai lupa bahwa dia masih memiliki sedikit kecurigaan pada Franklin, tersenyum padanya, "Iya..."

Franklin melihat senyum tulus di wajah Emily, perasaannya tiba-tiba berdesir. Dia mendekatkan dirinya pada Emily, memegang dagu wanita itu dan menjatuhkan sebuah ciuman ringan di sana.?

Senyum di wajah Emily menghilang dan matanya melebar, "Kamu, apa yang kamu lakukan!"

"Sudah, jangan marah lagi. Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan?" Franklin menyeringai di sudut bibirnya dan memegang wajah Emily seperti sedang menggoda anak kecil.?

Emily memalingkan wajahnya ke samping dengan canggung dan melepaskan tangannya, "Siapa yang butuh!"

Mengira dia masih marah karena kejadian kemarin dan mengajaknya untuk makan malam? Emily tidak butuh.?

Franklin memutar kunci yang dimasukkan di bawah roda kemudi dan menyalakan mesin mobil, senyum di wajahnya tidak menghilang, "Aku yang butuh."

Emily menoleh dan menatap Franklin, harus diakui bahwa penampilan Franklin ini sangat menawan. Di antara begitu banyak orang yang telah dia lihat, dia belum pernah melihat seseorang yang jauh lebih tampan daripadanya. Ketika dia tidak tersenyum, wajahnya akan terlihat sangat dingin. Bahkan tanpa melakukan apa-apa, secara alami dia dapat menciptakan jarak antara dirinya dan orang-orang di sampingnya.?

Saat ini, perasaan seperti inilah yang Emily rasakan.?

"Kenapa tidak bicara?" Franklin yang cukup lama tidak mendengar tanggapannya, menoleh untuk menatapnya. Terlihat gurauan di matanya dan bibirnya menekuk, "sudah bertemu siang dan malam pun masih belum cukup melihatnya ya?"

Begitu pria ini tersenyum, jarak itu terasa sedikit memudar. Tapi tetap saja, jika semua yang Franklin lakukan sebelumnya ini sempat membuat Emily merasa bahwa Franklin menyukainya sampai rela melakukan semua itu, sekarang Emily mulai sedikit curiga.?

Emily menatapnya sebentar dan menoleh untuk melihat ke luar jendela tanpa bicara.?

Franklin melihat reaksinya dan terlintas sebuah pemikiran yang mendalam tanpa mengubah senyum di wajahnya, "Nanti kita pulang dan aku akan biarkan kamu melihatnya sampai puas, sekarang kita pergi makan dulu."

......

Angin bertiup dan membuat Emily yang memakai gaun tanpa lengan merasa kedinginan sambil memeluk lengannya. Wajahnya terlihat pucat sampai dia merasa ada kehangatan di pundaknya.?

Dia berbalik dan melihat Franklin, pria itu mengenakan kemeja hitam berlengan panjang. Dia menggulung lengan kemejanya sehingga lengan kuat itu tersingkap dengan jelas. Seluruh atribut di tubuhnya terlihat sangat mahal.?

Dia membawa payung hitam panjang di satu tangannya, ketika menekannya dengan ibu jarinya sedikit, payung itu terbuka dan terangkat ke atas kepala mereka. Dia mengulurkan tangannya yang kosong dan meletakkannya di bahu Emily, menarik Emily ke dalam pelukannya. Suaranya sangat jernih, "Ayo."

Tubuh Emily sangat ramping dan langsing, tentulah lebih kecil daripada tubuh Franklin. Seluruh tubuhnya berada di pelukan Franklin. Dada Franklin yang kekar itu terlihat memberikan sebuah rasa aman.?

Emily terkejut dengan cara berpikirnya sendiri. Tanpa sadar menatapnya dan melihat bahwa sisi lain dari bahunya basah karena air hujan.?

Saat itu, Emily baru sadar bahwa Franklin telah mengarahkan sebagian besar payung itu untuk menutupi dirinya. Tindakan yang teliti seperti ini membuat kecurigaan dan penolakan yang dia rasakan sebelumnya sedikit menghilang.?

Dia adalah orang yang berantakan, juga tidak dianggap dalam Keluarga Su. Meskipun dia tahu bahwa dirinya cukup cantik, tetapi wanita cantik sangatlah banyak. Selain Franklin menyukainya karena alasan ini, dia tidak dapat menemukan alasan lain mengapa Franklin selalu begitu baik terhadapnya.?

Dalam perjalanan pulang, Emily terus memikirkan masalah ini. "Mungkinkah ada ekstasi pada makanan di restoran itu sampai kamu terus linglung sepanjang jalan. Sekarang sudah sampai di rumah pun kamu masih seperti ini."

Suara Franklin menyadarkan Emily. "Aku pergi mandi dulu."?

Emily masih belum mengerti dan tidak ingin berbicara. Dia membuka lemari dan mengeluarkan pakaian dari dalam sana. Siapa sangka begitu pintu lemari itu dibuka, terdengar suara 'peng' dan pintu itu ditutup kembali oleh Franklin.?

Emily terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba, tanpa sadar berbalik dan berdiri terpaku di depan lemari sambil memegang pakaiannya.?

Tangan Franklin melintasi bahu Emily dan menyentuh pintu lemari. Dia menahan tubuh Emily di antara dirinya dan lemari pakaian sehingga Emily tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Tatapan mata yang berbahaya itu seakan dapat melihat ke dalam dirinya, "Katakan, sedang memikirkan..."

Emily tidak menunggu sampai dia selesai berbicara dan langsung menyangkal, "Yang pasti aku tidak memikirkanmu!"