Bab 26 Emily, Kau Sangat Berani

Emily tertegun saat melihat dua kata 'aku sibuk' di layar ponselnya, dia menyimpan kembali ponsel itu.?

Hehe, siapa yang butuh.?

Emily menyimpan ponselnya dengan ekspresi dingin.?

Saat jam pulang kerja, dia orang pertama yang keluar dari kantor. Sesampainya di rumah, dia melihat rumah dalam keadaan kosong. Franklin belum pulang.?

Emily berbalik dan mengambil dua buah apel dari dalam lemari es, memegang apel itu dengan kedua tangannya dan memakannya satu per satu sambil menonton TV di atas sofa.?

Setelah dia selesai menonton variety show pada pukul 7 malam, perutnya sudah mulai menjerit. Namun, Franklin masih belum juga pulang. Emily menelepon dan memesan delivery order dengan perasaan gelisah.?

Belum sempat dia membereskan bungkus makanannya setelah selesai, dia sudah tertidur di atas sofa. Dia tertidur sampai tengah malam dan merasa tubuhnya seakan berada dalam udara kosong. Dia yang terkejut tiba-tiba terbangun, "Siapa!"

Suara Franklin terdengar dari atas kepalanya, disertai dengan napas yang hangat di wajah Emily, "Aku."

Emily tertegun dan pikirannya langsung berubah menjadi jelas. Emily dapat melihat wajah Franklin melalui cahaya di dalam kamar, ekspresi Emily berubah menjadi acuh tak acuh dan berjuang keras untuk turun, "Turunkan aku."

"Baiklah." Franklin memang mengatakan seperti itu, tetapi dia baru menurunkan Emily setelah mereka sampai di sisi ranjang. Emily mengatupkan bibirnya, berbalik dan segera mengubur dirinya di dalam selimut. Franklin melihat Emily mengabaikannya, dia duduk di samping ranjang dengan sabar, "marah ya?"

Emily mengabaikannya. Franklin berjuang lebih keras, "Tadi aku benar-benar ada urusan."

"Aku tidak peduli kamu ada urusan atau tidak, bisakah kamu tidak mengganggu tidurku?" Emily terduduk, menatap pria itu dengan dingin dan kembali mengubur dirinya di dalam selimut.?

Raut wajah Franklin sedikit berubah, namun dia tidak lagi mengatakan apa pun. Dia berbalik ke ruang tamu dan membereskan bekas makanan Emily, barulah dia memasuki kamar mandi.?

Ketika mendengar suara pintu tertutup, Emily perlahan membuka selimut itu. Musim panas seperti ini menutupi dirinya seperti itu sangatlah panas. Barusan Emily memperhatikan bahwa tidak ada bau rokok dan alkohol di tubuh Franklin, dia masih terlihat sangat segar. Sepertinya dia bukan pergi untuk bermain-main.

......

Pada pagi hari berikutnya, saat Emily terbangun, orang di sampingnya sudah menghilang.?

Emily berjalan ke dapur dan melihat sarapan yang telah disiapkan untuknya di atas meja, ekspresi kesalnya perlahan mulai terurai.?

Dia duduk dan mulai makan, perasaannya saat ini tidak dapat diungkapkan secara jelas. Apa kemarin Franklin begitu marah padanya hingga tidak membuatkan sarapan? Dia juga pulang begitu larut, ke mana dia pergi dan melakukan apa?

Dipikir-pikir, Emily baru sadar bahwa pemahamannya terhadap Franklin itu sangat sedikit. Sebaliknya, Franklin sangat mengerti kondisi keluarganya bahkan sepertinya mulai mengerti tentang kebiasaannya.?

Bukankah dia juga seharusnya harus tahu lebih banyak tentang Franklin?

Pikiran seperti ini terus mengganggu di hatinya, dan sesampainya dia di kantor pun dia masih memikirkan hal ini.?

Baru saja dia terduduk, dia sudah mendengar seorang rekan kerta mengobrol dengan suara rendah di sampingnya. "Kemarin malam pacarku tidak pulang, apa mungkin dia punya wanita lain di luar sana?"

"Kamu kan tinggal tanyakan langsung saja kepadanya."

"Pertanyaan seperti ini mana mungkin bisa diucapkan begitu saja. Benar-benar deh, aku sangat terganggu. Tapi, aku tidak berani menelepon untuk bertanya langsung padanya. Kamu tidak tahu dia sih..."

"Kalau begitu kamu intai saja dia..."

Mengintai?

Emily tertegun, ingin tahu kemana seorang pergi apakah perlu sampai mengintainya?

Namun, jika harus bertanya langsung sepertinya dia juga tidak mampu melakukannya.

"Apa yang sedang kalian bicarakan, ingin mengintai siapa?"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara jernih seorang wanita yang menyela pembicaraan antara kedua rekannya, Emily mendongak dan melihat sosok yang sudah sangat dikenalnya.?

"Anna, kamu sudah kembali!"

"Aku baru saja kembali kemarin, hari ini sudah mulai bekerja. Apa yang sedang kalian obrolkan? Ingin mengintai siapa, pacarmu mencuri di luar atau melakukan hal yang mencurigakan?"

"Aiya, dia tidak mungkin melakukan itu..."

Beberapa gadis di sana yang sedang mengobrol mulai membuat keributan. Emily menatap gadis yang dipanggil dengan nama Anna oleh rekan kerjanya, menundukkan kepalanya dengan sedih.?

Anna adalah sahabatnya saat SMA, juga satu-satunya teman Emily di sekolah. Hanya saja...

......

Seharian ini Emily hanya duduk di meja kerjanya dan tidak banyak bergerak, dia bahkan terlihat sedikit linglung.?

Pada saat pulang kerja, tiba-tiba hujan turun dari langit. Emily tidak membawa payung, dia mengerutkan kening dan bersiap untuk menerobos keluar.?

Tiba-tiba orang di sebelahnya menyerahkan sebuah payung, "Aku membawa dua buah payung, kupinjamkan satu untukmu. Besok kamu bisa mengembalikannya kepadaku."

Emily berdiri di posisi yang sama, pemilik suara ini adalah Anna yang suaranya sempat dia dengar siang tadi di kantor.?

"Hei, kenapa tidak menjawab, tidak mau?" kata Anna, dia berbalik untuk melihat wajah Emily dan dia pun ikut terpana, suaranya terdengar ragu-ragu, "Em... Emily?"

"Kamu, kamu salah mengenal orang." Emily yang sedang panik pun hanya mengatakan kalimat itu sebelum berbalik dan bergegas untuk menerobos hujan.

?Anna mengikuti di belakang dan mengejarnya, setelah mengejar cukup lama akhirnya dia berhasil mengejar Emily dan meraih pakaian Emily dengan satu tangannya, "Emily, kamu berani untuk tidak menghubungiku. Jika kamu seberani itu, seharusnya kamu tidak usah kembali ke China. Sial, lelah sekali..."

Tubuh Emily basah kuyup karena hujan, wajahnya berubah menjadi pucat dan tidak dapat melarikan diri lagi. Dia hanya menatap Anna tanpa mengatakan sepatah kata pun.?

Anna menatapnya dengan tajam, "Bicara! Sudah bisu karena terlalu lama di luar negeri!"

Emily menunduk untuk menatap jari kakinya dan berbicara dengan suara rendah, "Maaf..."

"Kamu..."

Anna merasa sangat kesal ketika mendengar kata-kata ini, dia ingin memarahi Emily dengan ganas. Tak disangka, seluruh tubuhnya tiba-tiba terdorong ke samping oleh seseorang. Jika bukan karena ada sebuah pagar yang menyangga tubuhnya, pasti dia sudah jatuh tersungkur ke tanah. "Ada apa, kamu terluka?"

Anna yang terdorong ke samping melihat Franklin berdiri di hadapan Emily sambil memegang payung, pria itu menatapnya dengan tatapan tidak senang.?

"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku! Kamu tidak usah mencampuri urusanku!" Emily dapat merasakan aura permusuhan dari Franklin terhadap Anna, dia buru-buru mendorong Franklin.?

Franklin berkata dengan wajah dingin, "Kalau kamu sampai flu, memangnya itu bukan urusanku!"

"Aku..." Emily menatap wajah Franklin yang dingin, tidak dapat bersuara.?

......

Di sebuah kedai kopi, Emily dan Anna telah berganti pakaian bersih dan duduk berhadapan. Franklin memutuskan untuk berada di dalam mobil dan tidak ikut masuk. Emily mengaduk kopi di hadapannya dengan gugup, "Beberapa tahun ini, kamu melewatinya..."

Anna menyela kata-katanya dan menjawab dengan penuh kemarahan, "Apa pedulimu!"

"Empat tahun sudah berlalu, kenapa kamu masih begitu kasar." Suara Emily mengecil.?

"Kamu masih ingat ya kalau waktu sudah berlalu selama empat tahun? Saat itu kita berjanji untuk masuk ke universitas yang sama. Ketika perkuliahan dimulai, aku mencarimu dan ternyata kamu sudah tidak di negara ini lagi..." Suara Anna terdengar sengit, tapi matanya mulai memerah.?

"Maafkan aku..." Teringat masalah yang terjadi pada waktu itu, keadaan Emily tidak jauh lebih baik daripada Anna, "pada saat itu, kakek mengirimku ke luar negeri. Aku tidak sempat menghubungimu..."

Faktanya adalah dia tidak berani menghubungi Anna karena dia tidak dapat melibatkan satu-satunya teman yang tulus kepadanya. "Jika minta maaf itu berguna, apa gunanya polisi!" Anna menatapnya, "sudah kembali juga tidak menghubungiku. Emily, kamu sungguh berani."