Bab 25 Franklin Takut Gelap

"Hmm." Mulut Franklin penuh dengan makanan, mengiyakan dengan tidak jelas.

Emily yang duduk di depannya, wajahnya mulai memerah dan terasa panas.

Itu adalah makanan sisanya, Franklin memakannya tanpa merasa jijik.

Franklin mendongak dan melihat ekspresi jijik Emily, "Ekspresi macam apa kamu tunjukkan itu. Aku saja tidak merasa jijik dengan air liurmu, kamu malah jijik sendiri."

"Bukan begitu." Emily segera bangkit berdiri dan bergegas masuk ke kamar mandi, "Aku mandi dulu."

Berdiri di bawah pancuran air, Emily masih seperti orang bodoh.

Franklin itu...

Apakah benar-benar menyukainya?

Tiba-tiba, terdengar suara 'pa'. Lampu di kamar mandi padam, suhu air panas yang keluar dari pancuran sedikit demi sedikit mulai berubah dan menjadi air dingin.

Meskipun sedang musim panas, tetapi Emily masih menggigil kedinginan. Busa sabun masih berada di tubuhnya dan dia tidak punya pilihan lain selain membilasnya dengan air dingin.

"Emily!" Terdengar suara Franklin dari luar kamar mandi.

Emily mempercepat gerakannya, membersihkan busa sabun dari tubuhnya dan meraih handuk sesuai kebiasaannya.

"Apakah ada pemadaman listrik?" Emily berbicara sambil meraba-raba dalam gelap untuk menemukan posisi pintu.

Emily tidak menunggu jawaban dari Franklin. Begitu Emily membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh bayangan tinggi dan hitam di luar pintu. Dia bertanya dengan ragu, "Franklin?"

Bayangan itu bergerak dan tiba-tiba menarik Emily ke dalam pelukannya.

Tubuh Emily hanya tertutupi dengan handuk, ketika dia ditarik dengan kasar ke dalam pelukan Franklin, handuk itu sudah hampir merosot.

"Kamu lepaskan aku dulu." Emily mengepalkan tangannya dan memukul bahu Franklin tanpa menggunakan kekuatan.

Entah mengapa kepalan lembut Emily itu membangkitkan emosi Franklin. Dia menundukkan kepalanya dan meraba-raba untuk meraih bibir Emily. Setelah itu, dia menciumnya dengan keras di sana.

Mereka berdua berada di depan pintu kamar mandi, dalam kegelapan dan napas yang terengah-engah.

Emily merasa ada yang tidak beres dengan Franklin. Dia sempat tertegun sebelum tersadar dan berusaha melepaskan diri.

Tetapi, kekuatan Franklin sangat mengerikan. Emily sama sekali tidak dapat lepas darinya.

"Franklin, ada apa denganmu!" Emily memiringkan kepalanya dan meneriakkan namanya dengan keras.

Franklin terdiam sejenak dan melepaskannya.

Belum sempat Emily menghela napas lega, tubuhnya sudah digendong oleh Franklin. Melalui cahaya samar dari luar jendela, dia dapat melihat bayangan ranjangnya yang bersprei putih.

Emily dilemparkan di atas ranjang, memang tidak sakit namun dia merasa takut. Dia berusaha untuk duduk, "Franklin, ada apa denganmu? Katakan padaku!"

Franklin akhirnya mengeluarkan suara, suara yang dingin dan serak, "Menuntaskan kewajiban sebagai suami dan istri."

"Kamu sudah berkata bahwa kamu tidak akan memaksaku." Emily memundurkan dirinya sampai ke ujung tempat tidur.

Napas Franklin terasa semakin dekat, "Sebentar lagi kamu akan sukarela untuk melakukannya."

Emily tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata sambil menggigit bibirnya, "Kamu takut gelap?"

Suasana tiba-tiba menjadi tenang.

Tak lama, Franklin berkata dengan tenang, "Tidak."

Bohong! Dia masih baik-baik saja sebelum ini!

"Kemarilah. Aku akan memelukmu sambil tidur, jangan takut." Emily menghela napas lega, Dia sempat ragu-ragu sejenak, tapi sepertinya Franklin memang takut gelap. Tidak aneh dalam sekejap ada perubahan yang begitu besar dalam dirinya.

"Tidak usah, tidurlah." Napas Franklin berubah menjadi tenang, suaranya tanpa emosi, seolah-olah yang terjadi pada Emily sebelumnya hanya sebuah ilusi.

Emily tidak akan begitu bodoh sampai percaya bahwa itu hanya ilusi.

Emily meraih ponselnya di nakas. berbalik untuk mencari lampu senter. Setelah menemukannya, menyalakan senter dan meletakkannya di nakas. Lalu, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti handuknya dengan piyama.

Saat keluar dari kamar mandi, Emily melihat lampu senter telah dimatikan dan Franklin sudah tertidur.

Emily semakin percaya bahwa Franklin takut gelap.

Franklin mematikan lampu senter tanpa menunggu Emily keluar adalah untuk membuktikan bahwa pria itu tidak takut gelap. Namun, biasanya Franklin adalah pria yang sangat berhati-hati dan bijaksana. Menurut kebiasaannya, dia seharusnya menyalakan senter itu dan menunggu Emily keluar dari kamar mandi.

Apakah karena gengsi, maka dia tidak mau mengakuinya?

Emily naik dengan lembut ke atas ranjang, mendekati tubuh Franklin dan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.

Franklin belum tertidur, dia juga tidak menyangka bahwa Emily akan berinisiatif untuk memeluknya. Tubuhnya sedikit kaku dan dia bergerak ke samping untuk menjauhi Emily.

Emily tidak bisa menahan sudut bibirnya untuk naik, Franklin yang begitu tenang, kuat dan begitu masuk akal, ternyata takut gelap.

Pasti karena dia gengsi dan takut kehilangan harga diri sehingga tidak mau mengakuinya.

Semakin dipikirkan, Emily semakin merasa lucu. Dia mendekati Franklin untuk memenuhi apa yang dia katakan tadi -- memeluknya sambil tidur.

Akhirnya, Franklin berkata dengan jengkel, "Emily, kamu tidak berpikir kalau aku sungguh tidak akan melakukan apapun terhadapmu kan?"

"Bukan begitu. Kamu kan takut gelap, aku memelukmu sambil tidur. Jadi, kamu tidak begitu takut lagi." Nada mengejek Emily sangat jelas dalam suaranya.

Franklin menggertakkan giginya dan menarik Emily ke dalam pelukannya, "Saat ini, tak peduli apa pun yang terjadi di antara kita, kita adalah pasangan resmi. Kamu kira, apa yang sedang aku pikirkan dalam hatiku?"

Emily terdiam, tidak berani bersuara.

Setelah beberapa detik, suara Franklin yang merdu, "Atau jangan-jangan, kamu ingin aku mengulang kembali apa yang sudah aku lakukan kemarin malam?"

Mengingat kejadian kemarin malam, Emily buru-buru menjawab, "Tidak mau!"

"Benarkah?"

"......" Dasar Maniak seks!

......

Pagi-pagi sekali, Emily dibangunkan oleh alarm.

Ranjang di sebelahnya terasa dingin, tidak ada Franklin di dalam ruangan itu. Sepertinya dia berangkat lebih awal.

Setelah Emily selesai mandi, dia pergi melihat ke dapur dan tidak menemukan sarapan di sana.

Setelah tinggal bersama Franklin selama beberapa hari, dia sudah terbiasa dengan sarapan yang dibuatkan Franklin untuknya.

Kebiasaan itu sungguh mengerikan.

Dia berpikir sejenak, sepertinya dia mengerti mengapa Franklin tidak membuatkan sarapan untuknya pagi ini.

Kemarin Emily menertawakannya karena dia takut gelap, mungkin sekarang Franklin sedang marah.

Emily memikirkan kembali sikapnya tadi malam, sudahlah, dia memang seharusnya tidak menertawakannya karena hal itu.

Tapi, ini sungguh hal yang sangat menarik. Seorang pria kekar ternyata takut gelap.

Nanti malam lebih baik mengajaknya makan di luar sebagai permintaan maaf.

Setelah Emily memutuskan hal ini, dia segera berangkat ke kantor.

Sesampainya di kantor dan baru saja dia duduk di meja kerjanya, Manajer sudah datang, "Dokumen kemarin sudah selesai dibaca?"

Emily memisahkan dokumen-dokumen di hadapannya, "Tumpukan ini yang belum selesai saya lihat, yang lainnya sudah."

"Dalam dua hari ini sebaiknya kamu biasakan dirimu terlebih dahulu. Aku akan mengajakmu ke acara jamuan makan malam dua hari lagi. Bekerjalah dengan baik," Manajer Humas segera pergi setelah mengatakannya.

Emily tertegun, dia teringat Sonia sempat mengatakan bahwa Group Su sedang bekerja sama dengan Group Mu.

Dia tidak akan melepaskan Alex Mu dengan mudah, Alex Mu juga sudah tentu tidak akan melepaskan Emily dengan mudah.

Hal ini lebih baik dipikirkan nanti saja.

Emily mengeluarkan ponsel untuk menuliskan pesan teks kepada Franklin: 'Nanti malam aku akan mentraktirmu makan'.

Kemudian memasukkan nomor telepon dan mengirimnya.

Setelah beberapa lama, Franklin membalas pesan itu. Saat Emily membukanya, dia hanya menemukan dua kata: 'Aku sibuk'.