Bab 24 Itu... Makanan Sisaku

Sonia menatap Simon dan sibuk menjawab, "Apa yang kamu katakan, Emily. Kamu sendiri yang memilih Departemen Humas. Aku tidak mengerti hal seperti itu, bagaimana mengajarimu."

Emily tak lagi berbicara, hanya tersenyum penuh makna pada Sonia.

Dia tidak tahu perhatian Simon terhadapnya itu sungguhan atau palsu, namun dapat membuat Sonia sedikit panik juga bukan ide buruk.

"Kamu adalah Kakak Sepupunya, kamu lebih tahu segalanya dibanding dia. Kenapa kamu tidak memilihkan departemen yang baik untuknya?" Nada bicara Simon sedikit menyalahkan.

Sonia menggigit bibir bawahnya, matanya meredup. Dia tidak meneteskan air mata, tetapi suaranya merendah, "Simon, Emily benar-benar ingin ke sana. Aku tidak ingin mengecewakannya..."

Sonia memang tidak menangis. Namun, beberapa kekhawatiran terdengar dari suaranya dan membuat orang yang mendengarnya merasa sedih.

Wajah Simon seperti menyalahkan diri sendiri, "Aku bukan menyalahkanmu."

Franklin yang di samping mereka tiba-tiba bangkit berdiri, "Tuan Gong, Mily sudah lelah. Kami pulang dulu." Setelah mengucapkannya, dia menarik Emily keluar dari sana. Meninggalkan Simon dengan wajah muram dan tak berdaya.

......

Keluar dari ruangan itu, Emily menghela napas lega, "Lain kali jangan makan bersama mereka lagi."

"Tadi aku kira kamu akan menyiramkan anggur merah ke wajah kakak sepupumu." Nada bicara Franklin sangat serius. Dia berkata sambil menarik tangan Emily, berjalan tanpa ragu melewati koridor dan menuju ke arah lift.

Emily bahkan tidak memikirkan hal itu, dia berkata, "Jika aku melakukan hal seperti itu, penilaian Simon terhadapku akan memburuk. Bukankah itu sama saja dengan membantu Sonia mendapatkan hal yang dia inginkan?"

Untuk sesaat, mata Franklin seakan tertutup kabut, "Begitu peduli terhadap penilaian Simon terhadap dirimu?"

"......" Dia seperti telah mengatakan hal yang salah.

Pada detik ini, pintu lift terbuka. Franklin melepaskan tangan Emily dan berjalan masuk ke dalam lift.

Emily melihat tangannya yang mendadak kosong dan mengikuti di belakangnya, menoleh dengan hati-hati untuk melihat raut wajahnya.

Lift berhenti di lantai satu. Selama proses ini, Franklin tidak menatapnya sama sekali.

Tampaknya dia kali ini benar-benar marah. Saat Emily sedang memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya, sudut matanya menangkap sosok Nicho.

Emily yang pertama kali memanggilnya, "Tuan Nicho."

Tatapan Nicho bergerak bergantian di antara kedua orang itu. Kemudian dia menunjukkan senyum penuh arti, "Tuan Qin, Nyonya Qin."

Tiba-tiba Emily teringat pada botol anggur yang dipecahkan olehnya kemarin, harga akhirnya dan tata cara pembayarannya belum selesai dinegosiasikan. Sekarang bertemu sekali lagi dengannya, hatinya terasa tidak nyaman.

Franklin mungkin terlalu kesal pada Emily, dia hanya melirik dingin pada Nicho. Tanpa mengatakan apa pun, dia berjalan pergi.

Nicho mendekati Emily dengan penuh rasa penasaran, "Ada apa dengan Tuan Qin-mu itu?"

Tuan Qin-mu...

Hati Emily bergetar dan berbisik padanya, "Aku baru saja membuatnya marah."

Sikap Nicho agak berlebihan setelah mendengar ucapan Emily, menatap Emily dengan mata melotot dan akhirnya mengeluarkan dua kata, "Luar biasa."

"......" Emily menatap balik dengan ekspresi bodoh.

Namun, dia tidak lupa untuk bertanya tentang kejadian kemarin, "Tentang anggur merah yang kemarin, apa Bos Anda sudah mengatakan cara penyelesaiannya?"

"Anggur merah itu ya..." Nicho sengaja menyeret nada belakangnya dan tersenyum manis, "Tuan Qin sudah menyelesaikannya, kamu tanyakan saja kepadanya. Nyonya Qin jangan lupa, kita adalah teman. Sering-seringlah mampir kemari lain kali."

Setelah mengatakannya, Nicho masuk ke dalam lift.

Antusiasme Nicho ini sangat aneh, meski Emily merasa sedikit bingung tetapi dia tidak mempermasalahkannya.

Ketika dia keluar dari Emperor Clubhouse, Franklin sudah membuka satu pintu mobil dan menunggu di sana. Tampaknya sedang menunggu dirinya.

Melihatnya datang, dia berkata dengan dingin, "Naik."

Kemudian dia berbalik dan berjalan ke sisi lainnya untuk duduk di sisi pengemudi.

Emily memakai sabuk pengamannya, mengambil napas dalam sebelum memutuskan untuk berkata, "Tuan Nicho berkata, kamu telah menyelesaikan tentang anggur merah kemarin. Kamu membayar ganti rugi?"

Nada bicara Franklin sangat dingin dan juga tidak menatapnya, "Aku meminjam uang dari temanku."

"Temanmu sangat baik." Emily sedikit merasa iri. Selain meminjamkan mobil kepadanya, masih meminjamkan begitu banyak uang.

Dia berkata setelah memikirkannya, "Uang itu, aku akan giat bekerja dan pelan-pelan membayarnya."

"Tidak usah." Franklin menyalakan mesin mobil.

Pada saat yang sama, di dalam Emperor Clubhouse.

Simon memanggil pelayan untuk membayar tagihan, pada akhirnya seorang pria keturunan barat yang berbadan tinggi datang menghampiri.

Nicho menunjukkan senyum sopan, "Tuan Gong, Nona Su, Bos kami mengatakan bahwa dia akan mentraktir kalian untuk makan malam ini. Dia mempersilahkan kalian untuk lebih sering berkunjung kemari."

"Bos kamu?" Simon dan Sonia saling menatap. Bukan saja mereka tidak mengenal pemilik dari Emperor Clubhouse, bahkan seluruh orang di Arola ini tidak ada satu pun yang mengenalnya.

Senyum di wajah Nicho semakin lebar, "Tuan Qin dan Bos kami adalah teman lama. Jadi, Bos kami ingin memberikan sedikit prestise untuk Tuan Qin."

Simon kaget dan meneriakkan sebuah nama, "Franklin Qin?"

"Benar, Tuan Franklin Qin. Jika ada keperluan lagi, silakan panggil saja pada kami. Saya permisi dulu." Nicho segera berlalu setelah mengatakannya.

Simon dan Sonia hanya bisa tertegun.

Keseluruhan adegan yang terjadi di Emperor Clubhouse, Emily tidak tahu menahu.

Saat ini dia hanya mencurahkan segenap pikirannya pada Franklin.

Sesampainya di rumah, Franklin langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Emily berdiri dan melamun di depan tempat tidur. Ketika mendengar suara di dalam kamar mandi sudah berhenti, dia segera berlari ke arah dapur.

Begitu Franklin keluar, dia melihat ranjang dalam keadaan kosong. Dia mendengar suara dari dalam dapur, berbalik dan menemukan Emily sedang sibuk di sana. Dia berjalan menghampirinya.

"Sedang apa? Belum kenyang?"

Gerakan Emily melambat dan menjawab. "Hmm."

Mendengar ucapannya, Franklin berjalan ke sana. Mendorongnya ke samping dan mengambil dua buah telur, seikat sayuran dan mulai merebus air dalam panci.

Kemudian mendongak dan bertanya padanya, "Mi dengan sayuran dan telur bagaimana?"

Emily sibuk menganggukkan kepala, sebenarnya dia tidak terlalu lapar.

Emily menatap Franklin yang sedang mengocok telur dan merebus mi dari samping, bertanya padanya, "Kamu masih marah?"

"Menurutmu aku tidak boleh marah?" kata Franklin tanpa mengangkat kepalanya.

Franklin masih mengenakan jubah mandi, rambutnya masih sedikit basah. Tangannya memegang sumpit dan matanya tertuju pada panci. Tidak terdengar emosi dari dalam suaranya, hanya seperti sebuah pertanyaan tanpa makna.

Emily terdiam beberapa detik, "Aku hanya tidak ingin membuat Sonia terlalu merasa nyaman."

"Tetapi kamu juga tidak usah menggunakan cara yang tidak nyaman bagi dirimu sendiri. Jika kamu tidak suka, kamu boleh melawan balik. Jika kamu tidak bersedia, kamu boleh menolaknya. Setiap orang punya hak untuk mengatakan 'tidak'."

Setelah Franklin mengatakannya, dia memasukkan sayuran ke dalam panci. Tak lama, semangkuk mi dengan telur dan sayuran hijau sudah selesai dibuat.

"Kemarilah untuk makan." Franklin membawa mangkuk itu ke meja makan dan memanggil Emily.

Emily terpana, semua orang memiliki hak untuk mengatakan 'tidak' itu memang benar. Tetapi, tidak semua orang dapat mengatakan 'tidak' tanpa perasaan ragu.

Emily sebenarnya tidak terlalu lapar, hanya makan setengah mangkuk saja sudah tidak mampu memakannya lagi. Tetapi karena Franklin terus menatapnya di depannya, dia hanya bisa memaksakan dirinya untuk terus makan.

"Sudah kenyang?" Franklin tiba-tiba bersuara.

"Hmm." Emily mengangguk.

Detik berikutnya, mangkuk di hadapannya sudah dibawa pergi oleh pria itu, kemudian...

Emily menatap Franklin yang sedang menunduk dan makan mi, tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Itu... makanan sisaku."