Bab 23 Jangan Hanya Mementingkan Diri Sendiri

Simon melihat Emily, tertegun sesaat sebelum berjalan menghampirinya.

"Tuan Gong, kita bertemu lagi." Franklin tiba-tiba bersuara, menghentikan langkah Simon yang berjalan ke arah mereka.

Simon melihat Franklin, raut wajahnya langsung berubah. Matanya menyapu pada mobil di belakang Franklin, wajahnya semakin tidak senang.

Emily seakan tahu apa yang dipikirkan Simon, melihat sekilas ke arah mobil Simon. Mobilnya juga Rolls Royce, namun berbeda dengan milik Franklin.

Mobil yang dibawa Franklin adalah edisi penjualan di muka yang terbatas di dunia, mobil milik Simon hanyalah mobil yang dengan mudah didapatkan di Showroom. Harga kedua mobil itu selisihnya hampir beberapa juta dolar.

Simon yang berwajah tidak puas itu menoleh pada Emily, "Emily."

"Kamu datang untuk menjemput tunanganmu? Aku dan suamiku ada urusan, kami pergi dulu." Emily menarik sudut bibirnya dan menunjukkan senyum terpaksa. Dia terlihat sangat dingin.

Tangan Franklin melingkari pinggang Emily, tatapan penghinaan sangat jelas di matanya, "Tuan Gong, sampai jumpa lagi."

Simon mendongak dan melihat tatapan Franklin. Di Arola, tidak banyak orang yang berani menatapnya dengan tatapan semacam ini, dan dia tidak bisa menahan amarah dalam hatinya.

Emily memang sangat cantik dan Simon juga pernah menyukainya. Namun karena ayahnya, Simon harus memilih untuk melepaskannya.

Selain itu Simon sangat mengerti bagaimana perasaan Emily terhadapnya.

Bahkan jika dia telah melepaskan Emily, bukan berarti bahwa pria lain dapat dengan begitu mudah mengambil posisinya di dalam hati Emily. Posisi itu hanyalah miliknya.

"Aku dan Emily tumbuh dewasa bersama, dia sudah seperti adikku sendiri dan kamu telah menikah dengannya. Sudah sewajarnya kita pergi makan malam bersama." Terdengar nada provokasi dalam suara Simon, dia menoleh pada Emily, "Emily, bagaimana menurutmu?"

Emily mendengus dalam hatinya, menganggapnya sebagai seperti adik sendiri?

Emily sangat ingin menolak karena dia tahu hanya dengan melihat mata Simon. Simon ingin mempersulit Franklin. Meskipun dengan dalih untuk makan bersama, suasananya pasti tidak akan menyenangkan.

Mata Franklin tertuju pada Emily dan suaranya lembut, "Emily, kakak iparmu sudah berkata seperti itu, kita hargai saja permintaannya." Franklin menekankan pada kedua kata 'Kakak Ipar' ini, kata-kata selanjutnya hanya untuk membuat Simon semakin kesal.

Orang bernama Franklin ini terlalu sombong, Simon membuat keputusan dalam hatinya bahwa dia harus membuat orang ini sedikit menderita kesengsaraan.

"Karena kakak ipar sudah berkata seperti itu, aku tidak punya alasan untuk menolaknya." Emily tersenyum tipis, panggilan 'kakak ipar' ini cukup menarik.

Begitu kedua orang itu memanggilnya dengan sebutan 'kakak ipar', wajah Simon semakin berubah.

Sonia melihat ketiga orang itu berdiri di depan pintu dari kejauhan.

Dia dan Simon sudah membuat janji untuk makan malam bersama, Sonia sengaja membiarnya datang lebih larut karena takut Simon akan bertemu dengan Emily. Tak disangka, mereka benar-benar berjumpa.

"Simon, kamu sudah datang." Sonia tersenyum dan memeluk lengan Simon.

Franklin mengangkat tangannya untuk melihat waktu, tampaknya sedang terburu-buru, "Semuanya sudah berkumpul, sudah boleh berangkat?"

Sonia melirik Franklin, mempertimbangkan untuk sejenak. Apakah mungkin seorang pria yang hanya tidur satu malam dengan Emily saja sudah bisa benar-benar jatuh cinta?

Jika tidak, bagaimana mungkin dia datang untuk menjemput Emily pulang kerja!

"Kita mau kemana?" Sonia bertanya pada Simon.

"Emily sudah pulang cukup lama, kita belum pernah makan bersama. Jadi aku mengundang mereka untuk makan bersama malam ini."

Simon selalu sangat lembut terhadap Sonia. Dia selalu yakin dalam hatinya bahwa Sonia adalah seorang calon istri ideal; lembut, cerdas dan berasal dari keluarga terhormat.

Emily menatap kedua orang yang begitu penuh cinta di hadapannya, membuang muka dan tidak ingin melihatnya.

Benar saja, lobak yang seperti apa pasti akan memilih lubang yang cocok dengannya.

Bunga lotus yang sudah hampir layu dan pria munafik.

Sejak mengetahui bahwa Simon juga berprasangka buruk terhadapnya karena kondisi ayahnya yang berada dalam penjara, perasaan Emily pada Simon sudah berangsur-angsur menghilang. Sebaliknya, dia mulai dapat melihat kepribadian Simon yang sesungguhnya.

......

Tempat yang dipilih oleh Simon adalah Emperor Clubhouse.

Emily melihat ke luar jendela dan berkata sambil melepaskan sabuk pengaman, "Kurasa Simon memiliki niat buruk."

"Maka dari itu kamu harus selalu berada di sisiku, jangan hanya mementingkan diri sendiri."

Franklin menatapnya dan bibirnya menyunggingkan senyum. Tetapi karena senyum itu tidak terlintas di matanya, Emily merasa sangat asing. Dia tidak sama dengan Franklin yang biasanya.

Emily bergumam, "Mementingkan diri sendiri apanya..."

Franklin tak lagi berbicara banyak, turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Emily, begitu penuh perhatian.

Dari mobil di sebelahnya, Sonia yang juga sedang turun dari mobil dan melihat mobil Franklin saat ini, matanya terbelalak.

Simon berjalan ke sisi Sonia, mengikuti arah pandang wanita itu. Wajahnya berubah dan nada bicaranya ketus, "Ayo masuk."

Sonia menoleh dan melihat Simon sudah masuk terlebih dahulu, "Simon, tunggu aku."

Di meja makan, Simon memulai konfrontasinya dengan Franklin.

"Jika saya boleh bertanya, Tuan Qin bekerja di mana?" Simon yakin bahwa latar belakang Franklin tidak akan jauh lebih baik darinya.

Franklin tersenyum, "Aku hanya membantu di sebuah perusahaan kecil saja."

"Tuan Qin terlalu merendahkan diri, dapat membeli mobil seperti yang dipakai oleh Tuan Qin pasti bukan hanya seseorang yang membantu di perusahaan kecil." Simon menyipitkan matanya untuk menatap Franklin.

"Mobil itu dipinjamkan oleh temanku."

Mendengar kata-kata itu, mata Simon memancarkan kepuasan. Mobilnya adalah mobil yang dia beli sendiri. Memang mobil Franklin jauh lebih bagus darinya, tetapi itu hanyalah mobil pinjaman.

Simon menoleh pada Emily tanpa mengira bahwa dia akan melihat Emily yang makan dengan begitu serius dan tenang. Dia seakan tidak mempedulikan mobil Franklin itu mobil pinjaman atau bukan.

"Aku sudah kenyang. Hari pertama bekerja membuatku sedikit lelah, aku mau pulang untuk istirahat." Emily meletakkan sumpitnya, matanya tertuju pada Simon dan Sonia yang duduk di depannya.

Melihat mereka saja nafsu makan sudah menghilang. Simon sedang menargetkan Franklin. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa Franklin tidak sehebat dirinya, mobilnya saja mobil pinjaman.

Untung saja kondisi psikologis Franklin sangat baik. Bahkan jika dia dipermalukan oleh Simon, dia sama sekali tidak marah. Tetapi, Emily sedikit merasa sedih.

Jika bukan karena menikah dengannya, Franklin tidak perlu menerima penghinaan seperti ini.

Sonia mengira Emily merasa malu sehingga dia memutuskan untuk pulang lebih awal, sengaja menahannya, "Kamu bekerja di Departemen Humas, ke depannya akan sering keluar untuk bersosialisasi dengan pihak lain. Biasakan dirimu sedari sekarang."

"Departemen Humas? Begitu banyak departemen di Group Su, kenapa kamu memilih Departemen Humas?" Terlihat ekspresi ketidaksetujuan dari wajah Simon, Departemen Humas tidak mungkin tidak menemani orang untuk minum alkohol.

Setelah memikirkannya, Simon mengerutkan kening, "Segera ganti departemennya besok. Kamu masih nona kedua dari Keluarga Su, bagaimana mungkin keluar untuk bersosialisasi!"

Wajah Sonia berubah setelah mendengar ucapan Simon, dia hanya ingin kedua pria itu menyadari bahwa Emily tidak mencintai dirinya sendiri dan berinisiatif untuk bergabung ke Departemen Humas. Tak disangka, hasilnya berbeda dari yang diharapkan.

Ternyata Emily ada di dalam hati Simon. Memikirkan hal ini, kebenciannya terhadap Emily semakin mendalam.

Emily menatap Sonia dan Sonia tidak nyaman dengan tatapan seperti itu. Mata Emily memancarkan senyum dan nada bicaranya begitu ringan, "Kakak pasti akan mengajariku, kakak ipar tidak perlu khawatir."