Bab 22 Tolong Bayar Dulu Sebelum Pergi

Departemen Humas.

Manajer Departemen Humas menepuk kedua tangannya dan memberi tanda kepada seluruh karyawannya agar diam, "Semuanya, mohon tenang sebentar. Aku akan memperkenalkan anggota baru kita, Nona Emily Su."

Ketika nama itu disebutkan, ada beberapa karyawan yang mulai berbisik, "Kalau aku tidak salah ingat, cucu perempuan terkecil dari Komisaris namanya Emily kan?"

"Pasti Emily yang itu, tidak mungkin salah lagi. Beberapa tahun lalu saat aku pertama kali bergabung di perusahaan ini, aku pernah melihatnya satu kali..."

Manajer Humas berbicara dengan tegas, "Harap tenang! Siapa yang bersuara lagi, bulan depan bonusnya akan dikurangi!"

Seluruh Departemen Humas terdiam, tidak ada satu orang pun yang berani bersuara.

Emily berdiri di samping Manajer itu merasa bahwa aura kepemimpinan Manajer Humas ini cukup kuat.

Emily melangkah maju dan tersenyum tipis, nada bicaranya sedikit cuek, "Hai semua, namaku Emily. Kedepannya, mohon bimbingan dari kalian semua."

Sonia ikut maju satu langkah dan merangkul bahu Emily dengan lembut, "Mungkin beberapa orang yang sudah cukup lama bekerja di Group Su sedikit mengenal Emily. Emily datang kali ini ke perusahaan untuk magang. Dia secara khusus memilih Departemen Humas yang sedikit lebih sulit. Semoga ke depannya kalian semua dapat saling berbagi suka dan duka."

Emily secara perlahan menyimpan kembali senyumannya, antara tersenyum dan tidak dia menatap Sonia, tidak berbicara sepatah kata pun.

Ketika Sonia berbalik untuk melihat Emily senyumnya memang terlihat senang, namun suaranya bertolak belakang, "Adik sepupuku ini kurang pintar, kalian harus membimbingnya dengan baik! Jangan juga karena dia adalah adik sepupuku, jadi kalian tidak memberikan pekerjaan kepadanya. Jika terjadi hal seperti itu, aku akan merasa kesulitan."

Manajer Humas tersenyum dan menjawab, "Jangan Khawatir, Direktur Su."

"Mendengar kata-katamu ini, aku dapat merasa tenang." Sonia tersenyum pada Manajer Humas itu, lalu kembali melihat Emily, "Emily, belajarlah dengan baik di Departemen Humas. Jangan mengecewakan aku dan Kakek."

Sudut bibir Emily terangkat, "Tentu saja aku tidak akan mengecewakan kalian."

Senyum penuh percaya diri di wajah Emily sangat menyakitkan mata Sonia.

Setelah bertahun-tahun, Sonia telah memikirkan begitu banyak cara untuk mengalahkan Emily. Dia sangat ingin menghancurkan Emily sampai jadi debu.

Setiap kali Sonia sudah hampir berhasil, Emily akan tiba-tiba bangkit dan berubah menjadi pribadi yang semakin tangguh dan gigih.

Namun kali ini, dia tidak akan melepaskan kesempatan sekecil apa pun itu. Group Su adalah dunianya, menghancurkan Emily itu hanyalah sebuah perkara kecil.

......

Setelah Sonia pergi, Manajer Humas secara pribadi mengantarkan Emily ke meja kerjanya dan memberikan setumpuk dokumen untuknya.

"Lihatlah dokumen ini terlebih dahulu agar kamu lebih memahami pekerjaan kita baru-baru ini. Jika ada hal yang kurang kamu mengerti, silakan tanyakan kepadaku atau rekan kerja yang lain." Setelah Manajer Humas mengatakan hal ini, dia berbalik dan pergi.

Emily membalik-balikkan dokumen tebal di hadapannya sambil menelan ludah, halamannya begitu banyak.

Sampai jam makan siang, Emily belum selesai mempelajari dokumen itu.

Dia menggerakkan lehernya yang terasa pegal.

Dia melihat ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa hanya ada dua atau tiga orang di dalam kantor

Emily merasa agak lapar, dia membawa tasnya keluar kantor untuk mencari restoran terdekat.

Begitu memasuki restoran itu, dia melihat Sonia dan Thomas sedang makan siang bersama. Terkadang mereka berbincang-bincang dan terlihat sangat harmonis.

Ada rasa iri yang melintas di mata Emily, namun hanya untuk sesaat.

Dia sengaja berjalan melewati kedua orang itu, Sonia yang pertama kali menyadari kehadirannya, "Emily, kamu datang untuk makan siang?"

"Iya, tak kusangka Kakak dan Kakek juga di sini." kata Emily, kemudian dia menoleh untuk menatap Thomas, "Kakek, apakah aku boleh duduk di sini?"

Raut wajah Thomas berubah menjadi kurang senang sejak kemunculan Emily. Melihat begitu banyak orang di sekitar sana yang sedang memperhatikan mereka, dia hanya bisa mengangguk dengan enggan, "Mau duduk ya duduk saja, untuk apa bertanya padaku!"

Emily sama sekali tidak peduli dengan sikap Thomas. Mereka semua memang membencinya, mengucilkannya dan tidak menganggapnya sebagai keluarga. Emily sengaja ingin membuat mereka merasa tidak senang, jangan harap ada bisa hidup dengan baik.

Emily memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya sendiri.

Thomas selalu merasa kesal setiap melihat cucu kecilnya ini. Saat melihat Emily sudah makan cukup banyak, dia bangkit berdiri dan pergi.

Sonia sangat menjunjung tinggi harga diri. Meskipun dia juga ingin beranjak pergi, tetapi akan terlihat kurang baik jika meninggalkan Emily sendirian di sana. Dia hanya bisa tetap tinggal dengan terpaksa.

"Pergilah jika kamu memang ingin pergi. Tapi sebelum kamu pergi, tolong bayar dulu." Emily tersenyum tidak tulus kepadanya.

Sonia berkata dengan nada mengejek, "Sudah tidak berencana untuk pulang ke rumah? Kamu tidak benar-benar memiliki perasaan terhadap pria yang tidak punya apa-apa itu kan?"

Emily menatapnya sambil tersenyum, tangannya meraih sebuah camilan dan menyuapkannya pada mulut Sonia yang belum sempat tertutup. Dia tersenyum ramah, namun nada bicaranya dingin, "Apa urusannya denganmu, tutup saja mulut baumu itu!"

Salah satu karyawan Group Su yang berada di samping mereka melihat adegan ini, "Ternyata hubungan kedua kakak beradik ini begitu baik!"

Sonia menelan makanan itu dengan wajah kaku, dia masih harus tersenyum pada Emily. Sonia tersenyum sampai wajahnya terlihat tidak menyenangkan.

Setelah tidak tahan lagi, dia bangkit berdiri dan berniat untuk pergi.

Emily tidak lupa menambahkan minyak ke dalam api, berkata dengan nada manja, "Terima kasih Kakak telah membantuku membayar makanan ini, lain kali aku akan mentraktirmu!"

Sonia hampir saja tersandung dan terjatuh ke lantai. Dia segera berjalan ke kasir dan mengeluarkan beberapa lembar uang, "Ambil saja kembaliannya."

Sampai sosok Sonia menghilang, senyum di wajah Emily juga ikut menghilang. Melihat begitu banyak makanan di atas meja, nafsu makannya pun telah hilang.

Tiba-tiba dia merindukan masakan Franklin.

Baru saja pemikiran ini terlintas di benaknya, ponsel di sampingnya sudah berbunyi.

Emily meraih ponsel itu dan melihat kata 'suami' tertulis di layar ponselnya, sebuah kehangatan mengalir di hatinya. Dia ragu-ragu sesaat sebelum mengangkat telepon itu.

Franklin langsung bertanya, "Sudah makan siang?"

Begitu mendengar suaranya, suasana hati Emily membaik dengan tak dapat dijelaskan. Namun, dia tetap menjawabnya dengan dingin, "Baru selesai makan."

"Bagaimana hari pertamamu bekerja?"

"Biasa saja."

"Aku akan menjemputmu sepulang kerja." Itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan.

"Tidak..."

"Aku masih ada urusan, aku tutup dulu. Sampai jumpa nanti malam."

Kemudian, sambungan telepon telah diputus.

Emily menatap layar ponsel, bukankah pria itu begitu menyukainya dan ingin menghabiskan seumur hidup dengan dirinya? Beraninya menutup telepon terlebih dahulu!

Namun, jam pulang kerja masih empat jam lagi, masih agak lama.

......

Emily yang telah seharian melihat dokumen tebal itu, merasa matanya menjadi sedikit rabun.

Ketika dia berjalan ke pintu utama kantor, dia melihat sekelompok orang sedang memperhatikan sesuatu.

Dia mengikuti garis pandang orang-orang itu dan melihat Franklin yang sedang bersandar di pintu mobil.

Seakan menyadari tatapannya, Franklin menoleh ke arahnya. Menemukan posisinya secara akurat dan melambai padanya.

Langkah Emily terhenti, dia benar-benar datang untuk menjemputnya.

Setelah berjalan beberapa langkah, dia melihat Franklin mengendarai Rolls-Royce Edisi Phantom yang sempat tergores olehnya waktu itu.

"Lelah tidak setelah seharian bekerja?" Franklin tidak suka melihat Emily yang jalannya begitu lambat, dia berinisiatif untuk menghampirinya.

Tepat pada saat itu, sebuah mobil lain juga terparkir di samping jalan. Pintu mobil terbuka dan Simon turun dari mobil. Saat sepasang mata itu bertemu, kedua orang itu tertegun.