Bab 21 Rasanya Enak, Sangat Manis

Emily terkejut dengan benda yang tiba-tiba berada dalam tangannya, dia ingin menariknya tetapi tidak bisa karena tangannya ditahan dengan kuat oleh Franklin di sana.

Meskipun Emily cukup mengerti tentang hal-hal intim yang biasanya terjadi di antara pria dan wanita, namun dia belum pernah begitu berani untuk menyentuh benda itu.

Emily cemas dan sudah hampir menangis, "Cepat lepaskan aku."

Franklin bukan hanya tidak melepaskan tangan Emily, dia bahkan mengayunkan tangan Emily dua kali di sana, napasnya mulai tidak beraturan.

Namun, dia menjelaskan dengan penuh martabat, "Aku adalah orang yang setia pada pernikahan. Hanya saja, ada beberapa kebutuhan fisik yang jika ditahan terlalu lama akan berpengaruh bagi kesehatan tubuh. Aku ingin melakukannya, tapi kamu tidak. Aku bisa saja tidak menyentuhmu, tapi bantulah aku dengan tanganmu..."

Sebenarnya tidak ada hal yang tidak dapat ditahan oleh Franklin.

Hanya saja, bisa melepaskan topeng dingin Emily dan mengungkapkan sisi rapuh dan pemalunya adalah sebuah hal yang menarik bagi Franklin.

Apalagi tubuh Franklin sama sekali tidak membenci sentuhan dari wanita ini.

Setia pada pernikahan, berpengaruh bagi kesehatan tubuh, membantu dengan tangan...

Beberapa kata yang sama sekali tidak ada hubungannya ini, jika digabungkan menjadi satu dapat dijadikan sebagai sebuah alasan yang membuat Emily tidak dapat menolaknya.

Jantung Emily berdebar dengan kencang, tidak sabar untuk segera menyembunyikan dirinya di dalam selimut.

......

Keesokan harinya.

Ketika Emily terbangun dan orang di sampingnya sudah tidak ada.

Emily bisa mendengarkan sedikit suara dari dalam dapur.

Dia bangkit dari ranjang. Begitu kaki Emily menyentuh lantai, dia langsung melihat sosok pria yang berdiri agak jauh di sana dan sedang menghangatkan susu.

Emily teringat kejadian kemarin malam. Menatapnya dengan dingin, mengambil pakaiannya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi dengan keras.

Franklin menyipit sambil tersenyum. Suasana hatinya sangat baik dan dia sedang bersiap untuk menggoreng daging asap.

Di dalam kamar mandi, Emily mencengkram rambutnya dan mulutnya terus bergumam, "Pria baik apanya, maniak seks yang tidak tahu malu!"

Mengingat kejadian kemarin malam saat Franklin menarik Emily ke kamar mandi untuk membersihkan cairan putih lengket di tangannya. Emily tidak bisa menahan diri untuk segera membuka keran air dan membilas tangannya berulang kali.

Cukup lama, Emily tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.

Franklin mengetuk pintunya, "Sarapan sudah siap, cepat keluar dan makan. Ini hari Senin, aku harus berangkat lebih awal ke kantor. Sebentar lagi aku akan berangkat."

Selesai mengatakannya, Franklin tidak mendengar suara apa pun dari dalam sana. Franklin sedikit tertegun, apakah wanita ini masih marah karena kejadian semalam?

Pada detik berikutnya, pintu kamar mandi terbuka dan Emily bertanya padanya dengan rambut berantakan, "Hari ini Hari Senin?"

Tatapan mata Franklin menyapu ke kepala Emily dan menjawab, "Iya."

"Peng!"

Pintu kamar mandi kembali tertutup. Setelah terdengar suara-suara dari dalam sana, sepuluh menit kemudian pintu itu terbuka lagi. Kali ini Emily telah berpakaian rapi dan serius seolah-olah dia akan menghadiri acara perjamuan.

Franklin mengangkat alisnya, "Kamu mau pergi ke pesta?"

"Bukan, hari ini aku mulai magang di kantor." Emily duduk di meja makan dengan tanpa ekspresi.

Franklin terdiam, "Group Su?"

Emily mendongak untuk menatapnya, menjawabnya dengan tatapan mata seakan yang dikatakan oleh Franklin adalah omong kosong.

Franklin tidak terlihat tersinggung, dia berkata pada dirinya sendiri, "Mobil temanku sudah selesai diperbaiki, aku akan mengantarmu ke kantor."

"Tidak usah." Emily menolaknya.

Kemudian dia menyelesaikan sarapannya dengan cepat, membawa tasnya dan bersiap untuk keluar rumah. Namun, dia dihalangi oleh Franklin di depan pintu, "Setelah selesai makan langsung pergi begitu saja?"

"Memangnya aku harus membayar untuk sarapan tadi?" Sejak awal Emily sudah menahan emosi dalam hatinya, nada bicaranya agak kasar.

Tiba-tiba Franklin memegang wajah Emily dan memberikannya sebuah ciuman panas.

Di akhir ciuman, Franklin menarik kepalanya dengan enggan, "Ciuman selamat pagi dan ciuman perpisahan."

"......"

Kata-kata ini sukses membuat Emily tertegun, semua emosi dalam dirinya menghilang dalam sekejap. Wajahnya bersemu merah dan pada akhirnya hanya mampu berkata, "Tahu tidak berapa lama waktu yang aku habiskan untuk memoles lipstik ini?"

Franklin seakan tidak mendengarnya dan tersenyum, "Besok pakai yang ini lagi, rasanya enak." Setelah memikirkannya, dia menambahkan, "sangat manis."

Wajah Emily memerah dan segera mendorongnya. Dia memakai sepatu hak tingginya dan bergegas pergi, bagaikan seekor burung flamingo yang sudah siap terbang.

Franklin menyentuh bibirnya sendiri, sebuah cahaya terlintas di matanya. Semakin lama, kelihatannya semakin menarik.

......

Pukul 08.40, Lobby Utama Gedung Perusahaan Group Su

Ketika Emily muncul, dia mengundang sangat banyak perhatian.

Kejadian empat tahun lalu cukup menghebohkan. Banyak orang yang mengetahuinya, terutama karyawan di kantor ini.

"Wanita itu cantik sekali ya? Siapa dia?"

"Masa kamu tidak tahu, itu adalah adik sepupu dari Nona Besar. Dia baru saja pulang dari luar negeri, Nona Kedua."

"Tidak heran dia begitu cantik, apakah dia datang untuk magang di sini? Pasti dia sangat hebat kan?"

"Hmph! Kata hebat itu tidak relevan dengan dirinya. Jangan hanya melihat penampilannya yang cantik. Beberapa tahun lalu karena... maka dia dikirim ke luar negeri... Memangnya kamu kira dia ke luar negeri untuk sekolah? Itu karena Keluarga Su akan malu jika tetap membiarkannya tinggal di Arola..."

"Tak kusangka, ternyata dia wanita semacam itu..."

"......"

Untuk menghadapi kata-kata seperti ini, Emily sudah mengembangkan kekebalan tubuhnya. Dia menoleh dan menatap ke arah mereka dengan dingin.

Dua karyawan yang sedang berbisik-bisik itu segera berpisah. Mereka seakan tidak melihat orang yang datang dan berjalan masing-masing.

"Emily." Terdengar suara Sonia dari belakangnya, Emily mengatupkan bibirnya sebelum membalikkan badan.

Ternyata bukan hanya Sonia seorang, masih ada Kakek.

Emily berjalan menghampiri mereka, suaranya tenang, "Selamat pagi, Kakek."

Thomas menatapnya sekilas dan terlihat tidak puas. Entah apa yang tidak dia sukai dari Emily, namun dia berkata dengan datar, "Kalian berdua ikut naik bersamaku."

Emily dan Sonia yang tertinggal di belakang berjalan berdampingan. Sonia melirik Emily dan berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Emily, kamu datang ke tempat kerja dengan berpakaian seperti ini. Sungguh memperhatikan penampilan."

Emily tersenyum mengejek, "Apa yang kakak sepupu katakan? Pakaianku ini jauh lebih murah daripada pakaianmu, dan tentu saja setiap wanita pasti memperhatikan penampilan. Aku akan menganggap kakak sedang memujiku."

Wajah Sonia terlihat kaku, dia membuang muka dan tak lagi berbicara.

Sampai mereka berdua memasuki kantor Thomas, keduanya tidak saling berbicara.

"Sonia, Emily tidak bisa apa-apa, sepertinya dia akan cukup merepotkanmu. Ke depannya, kamu saja yang mendelegasikan pekerjaan untuknya."

Setelah Thomas mengatakannya, dia menoleh untuk menatap Emily. Wajah yang tadinya terlihat lembut dalam sekejap menjadi sangat dingin, "Ikuti kakak sepupumu dan belajar darinya. Jika kamu melakukan kesalahan yang fatal, jangan pernah harap untuk datang ke Group Su lagi!"

"Aku mengerti, Kek." Emily menurunkan arah pandangannya, terlihat tatapan mengejek di sana.

Thomas begitu mempercayai Sonia. Pada saatnya, jangan sampai terlalu kecewa.

Sonia dapat menggunakan segala cara untuk membuat Emily terlihat seperti orang jahat. Tentu saja, Emily juga dapat memutarbalikkan segalanya.

Setelah keluar dari Kantor Thomas.

Sonia menunjukkan senyum lembut di wajahnya, tetapi senyum ini hanya untuk dilihat oleh orang lain, "Emily ingin masuk ke departemen apa? Bagaimana kalau ke Departemen Humas? Baru-baru ini perusahaan bekerja sama dengan Group Mu, Tuan Alex sangat menyukaimu."

Alex Mu! Emily malah khawatir tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan perhitungan dengan pria itu.

Sonia melihatnya tidak menjawab, segera berkata, "Karena kamu tidak menolak, mungkin kamu cukup puas dengan posisi itu. Aku akan segera mengaturnya."