Bab 20 Aku Tidak Akan Ke Sana, Kamu Yang Kemari

Emily tertegun, "Kamu..."

"Makan dulu, nanti makanannya dingin." Senyum di wajah Franklin tak memudar.

Emily menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya, "Orang macam apa yang akan merasa terhormat jika dipermainkan?"

"Tergantung juga siapa orang yang mempermainkanku. Selain itu, harga yang dibayarkan ini cukup sepadan..." Franklin menatapnya.

Wajah Emily sedikit merona merah.

......

Di dalam kamar hanya ada satu tempat tidur, mereka berdua hanya bisa tidur bersama.

Mungkin dikarenakan Franklin telah begitu berterus terang di hadapannya, perasaan Emily sedikit mengalami perubahan.

Emily berbaring di ranjang dan mendengarkan suara air dari dalam kamar mandi, hatinya terasa sedikit gugup.

Tak lama, suara air dari dalam kamar mandi berhenti.

Emily menahan napasnya, memejamkan matanya dengan gugup.

Selain malam pertama yang tidak dapat dia ingat, Emily belum pernah tidur di satu ranjang dengan pria lain.

Terdengar suara 'pa', lampu kamar dimatikan. Ranjang di sebelah sedikit tenggelam dan Emily tahu bahwa Franklin sudah berbaring.

"Memangnya aku begitu menakutkan sampai kamu tidurnya begitu jauh?" Suara Franklin yang merdu itu terdengar. Tubuh Emily menegang, dia masih pura-pura tidur dengan tubuh kakunya.

Namun, pria yang selalu bertoleransi terhadapnya ini tiba-tiba mendekat. Detik berikutnya, Emily menarik selimut sampai menutupi kepalanya.

Tangan besar itu menyentuh bahu Emily. Dengan sedikit kekuatan, menarik Emily ke dalam pelukannya.

Dalam kegelapan, Emily tidak dapat melihat wajah Franklin. Dia hanya dapat merasakan napas pria itu di atas kepalanya, begitu tenang dan ringan.

Tubuh Emily begitu kaku bagaikan sebongkah batu.

Satu detik, dua detik...

Setelah beberapa lama berlalu, pria yang memeluknya itu tidak melakukan gerakan lainnya.

Emily perlahan mulai santai. Pada saat ini, tangan besar yang berada di pinggangnya sedikit bergerak. Emily dengan refleks meletakkan tangannya di dada Franklin dan berniat untuk mendorongnya menjauh.

Akhirnya, Franklin hanya bisa menahan tangannya dengan satu tangan. Napas pria itu sedikit berat dan suaranya agak keras, "Jangan bergerak."

Emily merasakan perubahan dalam diri Franklin, mulai gugup, "Kamu, lepaskan aku."

"Tidak mau." Napas Franklin agak berat, kemudian dia menundukkan kepalanya dan mencium Emily.

"Uh..." Emily menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menolak. Tetapi karena kedua tangannya ditahan oleh Franklin, dia tidak memiliki ruang untuk penolakan.

Franklin menciumnya lebih dalam, mengikuti naluri prianya dan menempatkan tubuhnya di atas tubuh Emily. Tangannya sudah berada di sepanjang lekukan pinggang Emily dan semakin bergerak ke bawah...

Emily tiba-tiba tersadar, mendorong pria yang sedang bergairah itu untuk menjauh, kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Franklin tertegun sesaat, dia benar-benar ditolak oleh seorang wanita. Perasaannya sedikit tidak senang.

Suara lembut Emily terdengar, "Kamu jangan kemari."

"Aku tidak akan ke sana, kamu yang kemari."

Suara Franklin yang sedang bergairah agak berbeda dengan suaranya yang biasanya, tetapi tetap mempesona. Begitu Emily mendengarnya, wajahnya makin panas, "Kamu... bukankah kamu bilang ingin hidup bersamaku seumur hidup? Sekarang aku belum ingin melakukan itu... yang kita lakukan saat itu hanyalah sebuah kesalahan..." Emily agak terengah-engah, bicaranya terbata-bata.

Franklin hampir saja tertawa. Mengingat Emily yang selalu memasang wajah dingin, sekarang wajahnya begitu merah dan dia begitu malu dan canggung...

Ini mengerikan, dapat berpikiran seperti ini saja sudah membuat Franklin merasa tidak nyaman.

"Sudah, aku tidak akan melakukan apapun. Kamu tidur di sini, kalau tidak nanti kamu jatuh." Franklin membujuknya dengan suara lembut.

Emily menuruti ucapannya dan pindah lebih dekat ke sisinya.

Franklin tidak sabar dengan aksinya yang begitu lamban dengan cepat menarik tubuh Emily ke sisinya, memegang tangan Emily yang lembut dan menariknya ke dekatnya.