Bab 19 Aku Hanya Memanfaatkanmu

Franklin mengikuti di belakangnya dan bertanya, "Kenapa tidak masuk?"

"Ini sepertinya bukan rumahmu, lantainya kelihatan berbeda." Emily sibuk menatap lantai apartemennya.

Franklin tersenyum dan langsung masuk ke dalam tanpa mempedulikannya.

Benar saja, setelah beberapa saat, Emily bergegas masuk ke dalam. Dia berlari ke hadapan Franklin dan menunjuk ke apartemen kecilnya yang temboknya sudah dirobohkan semuanya, "Ini pasti perbuatanmu kan!"

"Menurutmu, apakah apartemennya jadi terlihat lebih luas sekarang?"

Emily awalnya membeli apartemen dengan dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Sekarang, semua dinding dan pintunya telah dilepas dan kamarnya telah dijadikan satu. Hanya ada satu tempat tidur yang tersisa dan juga ada beberapa barang lainnya.

Dapurnya sudah menjadi terbuka, apartemen ini benar-benar telah diperbaharui seluruhnya tanpa meninggalkan tampilan aslinya.

"Kalau kamu ingin ruangan yang luas, kenapa tidak tidur di jalan raya saja!" Emily tidak bisa acuh lagi di hadapannya. Sekarang ia sangat marah hingga ingin meninjunya!

Berani-beraninya meruntuhkan dinding di rumahnya!

Membongkar rumahnya!

Menghadapi kemarahan Emily, Franklin jauh lebih tenang. Bahkan ada sedikit senyum di matanya. Hanya saja, dia menyembunyikannya dengan baik.

Wajah itu berpura-pura serius, "Jika malam ini kamu mengunciku di luar kamar lagi, mungkin aku harus benar-benar tidur di jalan raya."

"Aku..."

Emily teringat kemarin malam dia sengaja mengunci pintu kamar, sedikit merasa bersalah. Tetapi dia masih keras kepala, "Bukankah ada satu kamar lagi di sebelah!"

"Kita pasangan pengantin baru, mana mungkin pisah kamar?" Franklin menggunakan kata-kata yang pernah digunakan oleh Emily untuk melawannya.

Emily menggigit bibirnya bawahnya, tidak dapat membalasnya.

Franklin tiba-tiba mengecup bibirnya, "Anak baik, pergilah mandi. Aku akan memasak untukmu."

Mata Emily melotot padanya, "Kamu..."

Franklin tersenyum dan berbalik ke arah dapur. Meninggalkan Emily yang terdiam di posisinya, pipinya perlahan mulai memerah.

Tidak benar, harusnya tadi dia menampar Franklin.

Meski hati berpikir seperti itu, tetapi dia dengan patuh membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi.

Franklin berdiri di depan meja dapur dan mendengar aliran suara dari dalam kamar mandi, perlahan sudut bibirnya memunculkan sebuah senyum penuh makna.

Hanya seorang gadis kecil, baginya ini bukanlah hal yang sulit.

......

Untuk makan malam, Franklin memasak tumis daging sapi dengan tomat. Emily sama sekali tidak menyentuhnya.

Tepat pada saat itu, Franklin tiba-tiba meletakkan sepotong daging sapi di mangkuk Emily.

Emily berhenti makan sejenak, "Aku tidak suka makan daging sapi."

"Aku tahu kamu tidak suka, tetapi daging sapi sangat menyehatkan." Franklin menatapnya dengan tenang, seolah dia percaya dengan bualan Emily.

Emily tidak tahan lagi untuk bertanya, "Temperamenku begitu jelek, kenapa kamu masih saja bertoleransi kepadaku? Kenapa tidak marah?"

Franklin meletakkan sumpit dan menjawabnya dengan sederhana, "Karena aku suamimu."

"Tapi kita menikah tanpa dasar perasaan dan kita tidak saling mencintai. Tahukah kamu kenapa aku mau menikah? Karena kakekku berkata, selama ada yang bersedia menikahiku, aku akan mendapatkan saham. Di Arola ini tidak ada orang yang mau menikahiku, kamu saja yang begitu mudah dibohongi dan langsung menyetujuinya begitu saja!" Emily menyelesaikan kalimat itu dalam satu napas. Menatap Franklin yang menatap kosong, perasaannya tidak dapat dijelaskan.

Sebenarnya, Emily tidak pernah berpikir untuk menghabiskan seumur hidupnya dengan seseorang. Dia menjalani pernikahan ini hanya karena tidak punya pilihan lain.

Berbeda dengan Franklin yang begitu sabar dan toleran terhadapnya, bahkan mengatakan ingin hidup dengannya seumur hidup. Hal ini membuat Emily merasa bingung.

"Itu tidak penting, aku sungguh-sungguh ingin menikahimu." Franklin menatapnya, tatapan mata itu begitu dalam. Emily tidak dapat melihat apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.

"Apakah kamu tidak mengerti? Aku bukan benar-benar ingin menikah denganmu, aku hanya memanfaatkanmu!" Emily tiba-tiba merasa ingin menyalahkan dirinya sendiri. Dia hanya tidak mengatakannya saja, sebenarnya dia merasa Franklin adalah pria yang baik.

Franklin tiba-tiba tertawa, "Dapat dipermainkan olehmu adalah kehormatanku."