Bab 18 Kita Akan Menghabiskan Seumur Hidup Bersama-sama

"Tidak." Emily sibuk menggelengkan kepalanya. Mengingat dia sudah memecahkan anggur botol anggur yang begitu mahal, dia sedikit frustasi, "aku menabrak gadis pelayan ini, memecahkan botol anggur ini..."

Franklin tampak lebih tenang. Kali ini, Emily baru berani menatapnya. Sikap Franklin tadi sedikit membuat Emily merasa takut.

Nicho seakan tidak melihat kehadiran Franklin. Dia mengangkat dagunya, berjalan melewati Franklin dan menatap Emily, "Nona Emily?"

Emily melihat tatapan mendesak Nicho, tidak tahu harus berkata apa.

Franklin menyampirkan jas di tangannya ke tubuh Emily kemudian berbalik untuk menatap Nicho.

Dia membiarkan Emily berdiri di belakang tubuhnya, sehingga Emily tidak melihat interaksi antara Franklin dan Nicho. Tatapan penuh kewaspadaan muncul di mata Emily, tetapi yang dapat dia dengar hanyalah suara Franklin yang tenang dan merdu, "Apa yang terjadi?"

Nicho menyilangkan tangannya di dada dan menjelaskan dengan sabar, "Nona Emily ini menabrak pelayan kami. Dia menumpahkan anggur Chateau Lafite Rothschild tahun 1870 koleksi Bos kami."

Franklin menaikkan alisnya, "Berapa harganya?"

Mendengar Franklin menanyakan harganya, tangan Emily menarik lengan kemeja Franklin. Barang itu dihancurkan olehnya, dia tidak ingin melibatkan Franklin.

Franklin tidak bergerak, dia membalikkan tangannya dan menggenggam tangan Emily. Telapak tangan yang besar itu membungkus telapak tangan Emily sehingga wanita itu tidak bisa melakukan hal yang lain.

Emily menundukkan kepala, berusaha melepaskan tangannya tetapi tidak berhasil.

Nicho yang melihat gerakan kecil mereka di bawah sana, tersenyum dengan tidak jelas ke arah Franklin, "Maaf, ini bukan masalah harga. Tuan Franklin Qin harus tahu betapa mahalnya anggur ini. Jika Tuan Franklin dapat menemukan sebotol anggur yang sama, kami tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi."

Mata Emily terbelalak. Mengapa rasanya dari cara bicara Nicho, dia seakan-akan sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain?

Tunggu...

"Bagaimana kamu tahu nama keluarganya Qin?" Seingat Emily, Franklin belum menyebutkan namanya. Bagaimana Nicho bisa mengetahui namanya?

Suasana di sana mendadak menjadi sunyi senyap.

"Tuan Franklin Qin sering berkunjung ke Emperor Clubhouse."

"Aku pernah bertemu dengan Tuan Nicho di sebuah acara perjamuan."

Ketika Nicho dan Franklin berbicara bersamaan, suasana menjadi jauh lebih canggung.

Emily merasa ucapan Franklin sedikit lebih dapat dipercaya.

Nicho adalah pegawai di Emperor Clubhouse, tentu saja tidak akan menyulitkan tamunya dengan mengatakan bahwa dia pergi dengan tamunya ke sebuah acara perjamuan.

"Hehe, karena kita semua berteman maka masalah ini masih dapat didiskusikan dengan baik. Kalian pulang saja, aku akan bertanya lebih lanjut pada Bos kami tentang penyelesaian masalah ini."

Senyuman Nicho itu menular ke semua orang. Hanya saja, senyuman itu terlihat agak aneh.

Baru beberapa saat lalu dia minta ganti rugi, sekarang malah bilang mereka berteman.

"Kalau begitu, terima kasih Tuan Nicho," Franklin menarik Emily pergi setelah mengatakannya.

Setelah cukup jauh, Emily sempat berbalik untuk melirik Nicho dan pria itu masih berdiri di posisinya.

Nicho hanya memandangi sosok kedua orang yang semakin menjauh itu sambil mengerutkan alisnya. Wajahnya tampak khawatir dan bergumam, "Kurasa riwayatku akan segera tamat."

Benar saja, tak lama kemudian dia menerima sebuah telepon, "Sekali lagi terjadi hal seperti ini, aku akan mengirimmu ke Afrika Selatan untuk mengembangkan proyek baru."

......

Franklin menarik Emily keluar dan menunggu taksi di pinggir jalan.

"Aku menelepon sebentar."

Karena tidak ada taksi yang muncul, Franklin menyingkir sejenak untuk melakukan panggilan telepon.

Tidak sampai satu menit, Franklin sudah kembali. Emily terlihat bingung, panggilan telepon macam apa yang selesai begitu cepat?

Mereka berdua duduk di dalam mobil, Emily duduk sambil menopangkan dagunya pada telapak tangannya.

Emily kira setelah apa yang terjadi siang ini, pasti Franklin akan marah dan tidak mempedulikannya.

Setelah terdiam cukup lama, Emily berbicara dengan nada rendah, "Terima kasih."

"Tidak usah begitu sungkan, kita adalah orang yang akan menghabiskan seumur hidup bersama-sama," Franklin menatapnya dan terlihat serius.

Emily tidak tahu harus berkata apa. Tepat saat taksi itu berhenti, dia turun dari mobil terlebih dahulu dan berjalan di depan.

Satu berjalan di depan dan satu belakang untuk menaiki tangga. Emily mengeluarkan kunci untuk membuka pintu. Begitu satu kakinya melangkah masuk, dia membelalakkan mata dan menarik kembali langkahnya.