Bab 16 Aku Akan Belajar Seperti Kakak

Emily menatap tajam pada Sonia, memutarbalikkan fakta adalah keahliannya.

Malam itu, hal yang dia dan Franklin lakukan memang sudah melewati batas. Mungkin karena hati nuraninya yang merasa bersalah, Emily memiliki perasaan bahwa Franklin bukanlah pria yang tidak jelas asal-usulnya.

"Kakek, tidak masalah bagaimana kakek menilaiku. Setidaknya, kakek jangan menuduh seseorang yang bahkan belum pernah kakek temui. Anda adalah kepala di Keluarga Su. Anda punya reputasi. Anda pasti memiliki penilaian sendiri tanpa harus dipengaruhi oleh orang lain."

Emily menatap Sonia dengan tajam, wajahnya yang cerah penuh dengan aura dingin. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa Emily terlihat keren, elegan dan luar biasa.

Sonia menggigit bibir bawahnya, begitu banyak pria yang menyukai penampilan glamor Emily, jadi dia berusaha keras untuk merusak reputasinya. Tak disangka masih ada orang yang bersedia untuk menikahinya. Awalnya dia kira, setiap pria yang berada di dekat Emily hanya ingin bermain-main dengannya.

"Tidak masalah? Maksudmu, aku telah menuduhmu?" Thomas tidak dapat menahan amarahnya. Setelah menghabiskan setengah dari kehidupannya, cucunya sendiri ternyata berani menggunakan berbicara padanya dengan nada mendidik seperti ini.

Emily berkata tanpa mengubah ekspresi wajahnya, "Kakek mendidikku dengan benar. Aku yang tidak belajar dengan baik. Namun, hubungan darah tidak akan pernah bisa diubah, dan aku akan selalu menghormati Anda. Aku juga akan selalu mengagumi keputusan akhir Anda."

Emily tahu bahwa Thomas sangat mementingkan hubungan darah, juga sangat menyukai orang-orang yang mengatakan hal-hal baik tentangnya. Sejak masuk dari pintu itu, Emily sudah memutuskan bahwa saham bagiannya harus jadi miliknya!

Benar saja, Thomas sedikit terpengaruh dengan ucapannya. Sedikit tergerak dan melambaikan tangannya, "Jika seperti itu, kamu datanglah ke kantor untuk magang. Apabila kinerjamu baik, aku bisa mempertimbangkan untuk menyerahkan saham kepadamu."

Wajah Emily terlihat senang dan suaranya begitu lembut, "Terima kasih, Kakek."

Tatapan enggan terlintas dalam mata Sonia, setiap kali dia selalu nyaris membuat kakek sepenuhnya merasa kecewa terhadap Emily!

Kali ini juga sama, dia kira dengan kesempatan ini dapat membuat kakek mengusir Emily dari Keluarga Su. Tak di sangka pada akhirnya kakek sendirilah yang membukakan jalan untuk Emily.

Thomas tampaknya sedikit lelah, dia melambai, "Aku pulang dulu, kalian berdua berbincanglah. Kamu harus belajar lebih banyak dari Sonia."

"Aku akan belajar dari kakak." Emily melirik Sonia dengan penuh senyuman, Sonia juga balas tersenyum. Namun, senyuman itu terlihat canggung.

Emily menatap sosok Thomas yang menghilang di balik pintu. Kemudian, dia berbalik untuk menatap Sonia dan nada bicaranya penuh dengan provokasi, "Setelah aku bergabung di dalam Perusahaan, kakak harus mengajariku ya!"

Sonia menghela napas, kata-kata ini pernah diucapkan oleh Emily saat dia kembali dari luar negeri, tetapi dia tidak menganggapnya serius. Sonia kira setelah terjadi hal seperti itu, kakek pasti akan menyerah akan Emily!

"Tenang saja, ketika kamu mulai magang di kantor, aku pasti akan mengajarimu dengan baik."

Saat Sonia mengatakan 'mengajarimu dengan baik', Sonia melakukan penekanan pada kata-kata itu dan lebih terdengar seperti memiliki niat buruk.

Emily tidak merasa takut sedikit pun, dia percaya tidak semua orang di dunia ini buta dan tidak bisa melihat wajah asli Sonia.

"Kalau begitu, terima kasih sebelumnya, Kakak." Ekspresi Emily tidak berubah, terlihat sangat tulus.

Sonia menghela napas dan berjalan pergi.

Begitu Sonia pergi, Emily juga menghela napas dan duduk sejenak sebelum berjalan keluar ruangan.

Emily tahu, tidak akan mudah untuk merebut kembali saham itu. Namun, diizinkan untuk magang di kantor saja sudah lumayan. Setidaknya jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.

Karena sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Emily tidak memperhatikan seorang pelayan yang sedang berjalan di depannya sambil membawa nampan.

Terdengar suara 'peng', gelas anggur dan nampan itu jatuh ke lantai. Sebelum semuanya mendarat ke lantai, anggur merah itu tumpah ke tubuh Emily.

Hari ini Emily memakai kemeja putih, cetakan dari cairan merah itu sangat mencolok.

Emily dan pelayan itu sama-sama tercengang.

Emily mengerutkan kening, dia sadar bahwa itu adalah kesalahannya. Dia segera berbicara, "Maafkan aku."

Pelayan itu menangis di tempat, berbicara dengan suara bergetar, "Ini... ini adalah... Chateau Lafite Rothschild tahun 1870..."