Bab 14 Jangan Timbulkan Suasana Menjengkelkan

"Hmm." Tanggapan yang sekedarnya.

Emily duduk dengan kaku, apakah bisa menggunakan cara ini untuk membohonginya?

Franklin mendongak untuk menatapnya, mengerutkan keningnya dengan samar. Kemudian dia menoleh ke samping dan Emily mengikuti arah pandangannya. Kali ini barulah Emily melihat ada seporsi sarapan pagi yang tertutup dengan baik di sana.

Segelas susu dan dua buah roti. Sarapan yang sederhana, sangat sederhana. Namun juga sangat menyehatkan.

Ternyata Franklin telah menyiapkan makan pagi untuknya sebelum dia berangkat, tidak aneh dia tahu bahwa Emily belum bangun.

Emily seketika merasa malu dan kehilangan muka.

Franklin berkata dengan dingin, "Aku masih ada urusan di kantor, aku pergi dulu."

Emily bangkit berdiri dan menemukan bayangan Franklin yang telah menghilang di balik pintu.

Melihat dua buah hidangan di atas meja makan, ditambah dengan seporsi sup bening.

Apa Franklin sengaja kembali ke apartemen untuk mengantarkan makanan untuknya?

Waktu istirahat siang di kantor itu tidak panjang, dia sengaja pulang untuk mengirimkan makanan?

Memikirkan hal ini, Emily merasakan sebuah perasaan aneh dalam hatinya.

Namun, perasaan ini hanyalah sekelebat lewat dalam pikiran Emily dan segera dikesampingkan olehnya.

Yang pasti, dia tidak akan pernah melupakan ucapan Thomas. Asalkan ada orang yang bersedia untuk menikahinya, dia akan mendapatkan saham yang ditinggalkan oleh ayahnya.

......

Sekali lagi berada di pintu utama rumah Keluarga Su, Emily memegang erat buku nikahnya dan masuk ke dalam.

Di aula rumah, Lucy Liu dan Susan Zhou sedang mengobrol di sofa. Entah apa yang sedang dikatakan oleh Susan sehingga membuat Lucy tertawa dengan senang.

Susan adalah ibu dari Sonia, orang yang juga cukup memiliki banyak trik. Dia selalu menjaga Nenek Lucy dengan sangat baik.

Emily berdiri di depan pintu tanpa ada seorang pun yang menyadari kehadirannya. Dia berjalan dua langkah ke depan dan menyapa dengan ramah, "Nenek, Bibi."

Lucy menoleh dan melihat Emily, tertegun sejenak sebelum menarik kembali tatapannya, "Masih ingat rumah."

"Bu, jarang-jarang Emily bisa pulang. Bagaimana pun, dia tetaplah cucu dari Keluarga Su." Susan tersenyum untuk menghibur Lily.

Kemudian dia berbalik ke arah Emily, "Kemarin Sonia berkata bahwa dia bertemu denganmu di luar, kamu dan pria tidak jelas itu sudah..."

Apa yang dikatakan selanjutnya, Emily tidak terlalu memperhatikan. Dia sudah terbiasa dengan Lucy dan Susan. Satu berperan sebagai orang jahat dan satu lagi berperan sebagai pahlawan, Emily tidak pernah tahan melihat sikap mereka.

"Aku kemari untuk mencari Kakek." Emily menyela ucapan Susan.

Susan menaikkan alisnya setelah mendengar ucapan Emily, kemudian dia mendengus dan terlihat meremehkan.

"Dia sedang tidak di rumah. Cepatlah pergi, jangan timbulkan suasana menjengkelkan di sini!" Lily menatap Emily dengan jijik, ingin mengusirnya sesegera mungkin.

Emily diam-diam menggertakkan gigi. Kalau bukan karena saham Keluarga Su yang ditinggalkan oleh ayahnya, dia sama sekali tidak ingin kembali ke rumah ini.

"Di mana Kakek sekarang berada?" Tanpa mengetahui keberadaan Thomas, Emily tidak akan pergi.

Lucy melihat bahwa Emily tidak akan menyerah, dia mengatakannya dengan dingin, "Emperor Clubhouse."

"Terima kasih, Nenek." Emily memaksakan sebuah senyuman, kemudian saat Lucy sekali lagi membuang muka darinya, Emily berbalik untuk meninggalkan Keluarga Su.

Lucy bukan nenek kandungnya, nenek kandungnya sudah lama meninggal. Lucy adalah istri kedua Thomas, nenek dari Sonia. Bukan hal aneh jika dia tidak menyukai Emily.

Sesampainya di Emperor Clubhouse, Emily dapat dengan cepat mendapatkan informasi tentang ruangan tempat Thomas berada.

Emily berpikir sejenak, dia memutuskan untuk menelepon Thomas terlebih dahulu. Begitu telepon terhubung, langsung dimatikan dari seberang sana. Tidak peduli berapa kali dia menelepon, selalu seperti itu.

Emily tidak dapat menahan diri lagi dan langsung masuk ke dalam ruangan.

Saat membuka pintu ruangan, Emily langsung melihat Thomas. Sonia juga berada di sana, yang lainnya Emily tidak kenal.

Semua orang di ruangan itu memandang ke arahnya, Emily mengepalkan tangannya sambil memanggil, "Kakek."