Bab 13 Hal Yang Berbahaya

Franklin menarik kembali tatapannya dan berjalan ke arah jendela ruang tamu. Dia kembali memposisikan ponsel itu di telinganya. Sosok yang membelakangi cahaya itu terlihat begitu kekar dan tinggi.

Emily mengatupkan bibirnya dan masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah dia selesai mandi, dia tidak melihat keberadaan Franklin di dalam kamar. Ketika dia mengintipnya dari celah pintu, ternyata Franklin masih menjawab telepon.

Tiba-tiba dia teringat bahwa ada satu tempat tidur kosong di kamar sebelah. Dia masuk ke dalam kamar itu dan mengunci pintunya.

Jika besok Franklin bertanya padanya, dia akan berkata bahwa dia terbiasa tinggal sendiri dan lupa akan kehadirannya di rumah ini. Ini adalah keputusan yang terbaik bagi kedua belah pihak.

Setelah mengunci pintu, Emily berbaring di ranjang dan tak butuh waktu lama untuk tertidur.

Keesokan harinya, Emily dibangunkan oleh dering telepon.

Dia menatap layar ponsel dengan bingung dan melihat nama penelepon di layar ponselnya, ??Suami'.

Suami?

Sakit jiwa!

Emily mematikan panggilan telepon itu, membalikkan badannya dan bersiap untuk kembali tidur. Namun, ponselnya kembali berbunyi.

Emily menjambak rambutnya dan duduk, mengangkat telepon itu dengan jengkel, "Siapa sih, sebaiknya kamu punya urusan penting. Jika tidak, aku akan menghajarmu!"

Dari seberang sana begitu hening. Saat Emily bersiap untuk memutuskan sambungan telepon, dia mendengar suara yang asing namun juga akrab di telinganya.

Suara yang begitu jernih bagaikan air tanpa sedikitpun emosi dan kemarahan. Begitu tenang hingga membuat Emily menggigil.

"Belum bangun tidur?"

Emily menjambak rambutnya dengan kuat, membuat kulit kepalanya terasa sakit. Dia menggertakkan gigi untuk menahan rasa sakit dan menjawab dengan dua kata, "Sudah bangun."

Ternyata itu Franklin, dia sampai lupa kemarin sudah menikah dengannya.

Suara Franklin di telepon sangat enak didengar, "Orang yang mengirim makanan sudah berada di depan pintu, pergi dan ambillah."

"Ah?" Emily tertegun, "Kamu yang memesannya?"

"Buka pintunya, jangan biarkan orang lama menunggu." Setelah mengatakannya, sambungan telepon di matikan.

Emily melihat waktu di ponselnya, sudah pukul 11.30. Tak disangka dia tidur sampai begitu siang.

Tanpa menunggu Emily berpikir banyak, bel pintu telah berbunyi. Sepertinya itu adalah orang yang mengantarkan makanan.

Emily bergegas mengganti pakaiannya dan berlari untuk membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, Emily dikejutkan oleh pria jangkung di hadapannya yang memakai setelan jas, "Ternyata kamu seorang pengantar makanan?"

Tetapi, mana ada orang yang memakai setelan jas mahal untuk mengantar makanan?

Tatapan mata Franklin tertuju pada rambut Emily yang berantakan, wajahnya terlihat begitu pengertian. Emily menatapnya balik dengan canggung, "Hehe, aku sudah sempat bangun sebelumnya, cuma karena masih mengantuk aku tidur lagi."

"Hmm."

"......"

Kebohongan itu seakan terekspos di tempat, Emily merasa sangat malu. Dia memutuskan untuk memiringkan tubuhnya agar Franklin bisa masuk ke dalam.

Tunggu, sepertinya dia bukan saja hanya membohongi Franklin, tetapi dia juga sudah memarahinya. Dia sudah terlalu kasar...

"Kemarilah, makan." Franklin mempersiapkan makanan itu dan memanggilnya.

Emily menjambak rambutnya lagi dengan kesal, menyesal akan sikap emosionalnya terhadap Franklin.

"Kamu seharusnya mengerti bahwa setiap orang punya kebiasaannya sendiri, emosiku saat bangun tidur agak sedikit tinggi."

Emily menjelaskannya dengan kasar, dia kurang suka kebiasaan buruknya diketahui oleh orang lain. Dia sudah terbiasa hidup sendiri, dia takut jika dirinya terlalu dipahami oleh orang lain.

Baginya, membiarkan orang lain masuk dalam kehidupannya adalah hal yang berbahaya.

"Hmm, aku akan mengingatnya."

"Mengingatnya?"

"Aku membelikanmu sapi goreng tepung."

Ketika dia mendongak dan melihat Emily menatapnya dengan bingung, dia menambahkan, "Kemarin malam yang paling banyak kamu makan adalah daging sapi goreng, sepertinya kamu suka makan daging sapi."

Harus diakui, dia menebaknya dengan benar. Emily sangat suka makan daging sapi, dia suka segala macam olahan daging sapi kecuali steak goreng.

Ternyata Franklin mengingatnya, pria ini mengingat kebiasaannya.

Tak disangka Franklin begitu perhatian... ah tidak, apa yang sedang dia pikirkan!

Jangan hanya karena seorang pria sedikit baik terhadapmu, maka kamu langsung tersentuh.

Emily hanya tertegun sejenak dan berkata dengan acuh, "Kamu salah, kemarin aku hanya berpikir bahwa daging sapi goreng adalah makanan terbaik."